Kamis, 04 Juni 2026 | 05:50
COMMUNITY

Tuhan Saya Paksa: Konser Musik di Sumbar Gempar, Pelesetan Lagu Patah Bacinto Menuai Kecaman

Tuhan Saya Paksa: Konser Musik di Sumbar Gempar, Pelesetan Lagu Patah Bacinto Menuai Kecaman
Konser Musik di Sumbar Gempar (dok.askara)

ASKARA - Sumatera Barat (Sumbar) menjadi sorotan, lantaran sebuah konser di daerah Payokumbuah beberapa waktu lalu yang membawakan lagu Minang berjudul "Patah Bacinto'" yang diartikan "Patah bercinta" namun ada lirik yang dipelesetkan.

Lagu tersebut mengisahkan tentang kesedihan akibat patah hati dengan lirik lengkap sebagai berikut:

Dek cinto juo manih rasonyo
Patah bacinto itu biaso
Kok indak jodoh, Tuhan kuaso, hu
Den sangko paneh lai sampai patang.
Kironyo hujan nan di tangah hari
Patah bacinto itu biaso
“Kok indak jodoh, Tuhan kuaso” hu
Usah dikaka si bungo lado
Jikok tasansam, padiah di mato
"Patah bacinto itu biaso'
"Kok indak jodoh, Tuhan kuaso"
Ho-oh, patah bacinto itu biaso
"Kok indak jodoh, Tuhan kuaso"
Luko di hati, den baok mati.

Lirik lagu yang diberikan tanda kutip menunjukan perubahan menjadi “Kok Indak Jodoh, Tuhan Den Paso” yang memiliki arti “Jika Tidak Jodoh, Tuhan Gue Paksa”.

Sejumlah tokoh agama masih terus mengkritisi plesetan lagu tersebut yang dinilai menghinakan dan melawan takdir Tuhan.

Salah satu ustadz yang berasal memiliki darah Minanga, Derry Sulaiman, menanggapi lirik lagu tersebut dan menjelaskan boleh saja meminta dan terus meminta pada Tuhan dengan cara berdoa dan berserah diri.

“Tentunya memaksa Tuhan, boleh-boleh saja asalkan dengan adab. Caranya adalah menundukkan kepala, beribadah dan berdoa di 2/3 malam (tahajud) lirihkan suara, teteskan air mata, merayu Allah itu boleh lah dengan cara amalan,” katanya.

“Tapi ini kan di konser dengan berteriak, tertawa, sambil mengejek,” sambungnya dengan nada geram.

Sumatera Barat memang dikenal kental dengan nuansa agama. Bukan hanya di Sumatera Barat, di berbagai daerah juga mengecam pelesetan lirik dari lagu tersebut dan mengundang kemarahan.

Sumatera Barat umumnya merujuk pada falsafah "Adat Basandi Syarak" yang berarti adat bersendi pada syariat (ajaran agama Islam). Jadi, sebagai hamba harus patuh kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Hingga kini Gelombang kecaman datang dari berbagai arah tokoh agama, masyarakat adat, hingga warganet yang menilai tindakan itu sebagai bentuk penghinaan terhadap nilai-nilai keagamaan yang sangat dijunjung di Ranah Minang.

Komentar