Minggu, 28 Juni 2026 | 03:02
OPINI

Hari Hewan Sedunia: Kenapa Kita Harus Merayakan Hewan?

Hari Hewan Sedunia: Kenapa Kita Harus Merayakan Hewan?
Ilustrasi Hari Hewan Sedunia (Dok Freepil)

Oleh Rheza Maulana, S.T., M.Si.

ASKARA - Tanggal 4 Oktober tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Hewan Sedunia. Tapi, apa hakikatnya merayakan hewan? Bukankah hewan pada dasarnya adalah makhluk yang lebih rendah derajatnya dari manusia, sehingga dapat manusia manfaatkan demi kepentingan dirinya sendiri? Apabila kita adalah golongan manusia yang minim ilmu, mungkin jawabannya adalah iya. Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahuan, kita mengetahui bahwa manusia dan hewan memiliki kesamaan yang membuat hewan pantas dilindungi. Kesamaan itu adalah: kemampuan merasakan penderitaan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Jeremy Bentham, bapak utilitarianisme dunia: “Bukan perkara apakah hewan dapat berpikir? Atau apakah mereka dapat berbicara? Tetapi apakah mereka dapat menderita?”. Pemikiran ini lah yang kemudian menjadi salah satu landasan moral, bahwa sepatutnya manusia memperlakukan hewan dengan batasan etika dan hewan pun pantas sejahtera.

Dalam ilmu pengetahuan modern, kini kita memahami bahwa hewan juga memiliki kemampuan untuk menderita. Penderitaan hewan bukan hanya penderitaan fisik dalam bentuk luka dan sakit, tetapi juga pikiran dalam bentuk stres dan kegilaan. Ya, hewan pun dapat merasakan stres bahkan terganggu kejiwaannya! Hal ini bukanlah isapan jempol belaka, melainkan fakta ilmiah yang telah teruji dan dipatenkan dengan istilah “zoochosis”.

Hewan mampu menderita layaknya manusia

Zoochosis yang berasal dari kata zoo yaitu hewan dan chosis yaitu keadaan mental, pada dasarnya adalah keadaan mental yang dirasakan oleh hewan dalam kurungan. Peneliti menyadari bahwa hewan yang dikurung kerap kali memperlihatkan perilaku yang terlihat aneh. Bertahun-tahun manusia menyaksikan berbagai macam perilaku aneh hewan dalam kurungan, namun baru pada era modern dapat dipahami bahwa perilaku tersebut adalah respon negatif atas ketidaknyamanan dan frustrasi yang dirasakan oleh hewan.

Anda mungkin pernah berkunjung ke kebun binatang, dan melihat satwa dalam kandang berjalan mondar-mandir, menggelengkan kepala, mengayunkan badan, bahkan menggigiti bulu tubuhnya sendiri? Perilaku tersebut adalah gejala zoochosis, dan gejala paling parah yang mungkin pernah dicatat adalah ketika hewan memutuskan untuk melakukan bunuh diri. Hal ini pernah didokumentasikan oleh Rick O’Barry, pelatih lumba-lumba dalam serial Flipper yang menyaksikan lumba-lumba yang diharuskan hidup dalam kurungan kolam dan beratraksi diluar keinginannya, memutuskan untuk menenggelamkan diri dan tidak naik lagi ke permukaan hingga akhirnya mati. O’Barry kini tak lagi bekerja sebagai pelatih lumba, tetapi sebagai aktivis perlindungan lumba-lumba.

Berdasarkan pemikirian dan bukti tersebut, maka hewan pantas untuk kita rayakan. Perayaan hari hewan sendiri, tak lepas dari upaya-upaya untuk menjamin kesejahteraannya. Secara umum, terdapat lima azas kesejahteraan hewan, hewan seharusnya:

  1. Bebas dari lapar dan haus;
  2. Bebas dari rasa tidak nyaman;
  3. Bebas dari rasa sakit, luka, dan penyakit;
  4. Bebas melakukan perilaku alamiahnya;
  5. Bebas dari stres dan ketakutan

Ternyata banyak sekali aspek yang harus dipenuhi ketika manusia berinteraksi dengan hewan ya? Apalagi bila manusia memutuskan untuk merawat hewan, persoalannya menjadi lebih rumit karena hewan bukan sekedar harus diberi makan dan minum. Hewan juga harus dijamin kesehatan fisiknya, kesehatan mentalnya, harus bahagia, tidak stress, tidak takut, dan harus tetap dapat berperilaku layaknya hewan. Lantas bagaimana seharusnya kita memperlakukan hewan? Sebelum kita membahas lebih dalam, izinkan saya mengklasifikasikan jenis-jenis hewan untuk mempermudah rekan pembaca memahami cara memperlakukan mereka masing-masing. Secara sederhana, hewan terbagi atas: satwa liar dan hewan domestik.

Perbedaan satwa liar dan hewan domestik

Satwa liar adalah keseluruhan hewan di muka bumi ini yang hidup bebas di alam dan tidak jinak. Satwa liar sudah ada jauh sebelum manusia hadir di bumi ini, dan mereka memiliki perannya masing-masing bagi bumi. Contoh sederhana, satwa liar seperti kera dan monyet memiliki peran sebagai “petani hutan” karena mereka memakani buah, berpindah tempat, dan menjatuhkan biji buah ke tanah yang kemudian akan tumbuh menjadi pohon baru. Satwa pemangsa seperti harimau dan macan, memiliki peran memakan satwa lain sehingga mencegah populasi satwa lain tidak terlalu banyak dan memastikan alam seimbang.

Satwa liar adalah hewan yang nenek moyang kita dahulu buru demi kebutuhan hidupnya, untuk dimakan dagingnya dan digunakan bulunya sebagai pakaian. Namun seiring perkembangan peradaban, manusia berubah dari kaum primitif yang berburu dan berpindah tempat menjadi kelompok yang menetap dan mampu menghasilkan kebutuhannya sendiri. Salah satunya adalah dengan menjinakkan satwa liar tertentu, sehingga mereka tidak lagi harus terus menerus berburu. Selama puluhan ribu tahun, satwa liar tertentu itu hidup dengan manusia secara jinak sehingga berubahlah sifat maupun karakteristik fisik mereka serta gugur pula peran mereka di alam. Saat ini, mereka dikenal dengan sebutan hewan domestik.

Hewan domestik jenisnya memang terbatas, contohnya yang kita ketahui sebagai hewan domestik untuk peruntukan pakan adalah sapi, kambing, babi, dan unggas seperti ayam. Lalu ada pula hewan domestik yang ditujukan membantu manusia sebagai penjaga maupun pemangsa hama, seperti anjing atau kucing. Kenapa hewan domestik ini terkesan terbatas jenisnya? Karena dari sekian banyak satwa liar yang nenek moyang kita coba jinakkan, hanya hewan-hewan ini lah yang berhasil jinak. Hewan-hewan yang secara temperamen menurut dengan manusia, dan secara biologis pun aman untuk berdekatan dengan manusia (penyakit yang disebarkan hewan domestic rata-rata sudah diketahui dan ada obatnya).

Bagaimana seharusnya kita memperlakukan satwa liar dan hewan domestik

Secara sederhana, di zaman modern ini, pemikiran yang ideal adalah satwa liar sepantasnya kita pelihara di habitat aslinya dan hewan domestik boleh kita pelihara di lingkungan manusia. Sebagian dari Anda mungkin akan menyanggah atas dasar hewan domestik juga dulunya satwa liar, lantas mengapa satwa liar tidak sepatutnya kita pelihara? Pertama, tidak ada gunanya memaksa memelihara satwa liar di zaman modern, karena nenek moyang kita selama puluhan ribu tahun telah membuktikan tidak semua satwa liar itu bisa hidup bersama kita.

Kedua, bila kita kembali membahas kasus Flipper; Ia adalah lumba-lumba, yaitu satwa liar yang berasal dari laut. Manusia mungkin dapat memindahkan lumba-lumba dari laut, ke dalam kolam buatan dan memberinya makanan. Tapi bila kita merujuk kepada lima azas kesejahteraan hewan, hanya satu dari lima aspek yang terpenuhi. Bayangkan bila Anda adalah lumba-lumba yang terbiasa hidup di lautan lepas, berenang ratusan kilometer per hari, hidup bersama kelompok yang terdiri dari sesama lumba-lumba yang banyak jumlahnya. Lalu Anda dipindahkan ke kolam renang sempit, tidak dapat berenang jauh, karena baru bergerak sedikit Anda sudah menabrak dinding kolam. Selain itu, Anda sendirian, tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari seperti bersosialisasi dan berburu.

Apa yang terjadi? Dapat dipastikan Anda akan merasa: tidak nyaman, terluka, tidak dapat berperilaku normal, stress, dan ketakutan. Benar bukan? Hal serupa juga tentunya dirasakan oleh para satwa liar lainnya yang seharusnya hidup di alam, tapi diharuskan hidup di kandang seumur hidupnya. Mereka pasti sengsara. Oleh karena itu, dewasa ini, semakin banyak masyarakat yang tak lagi menyukai kegiatan atraksi yang mempekerjakan satwa liar seperti sirkus dan sejenisnya. Kegiatan wisata berbasis alam seperti mengunjungi taman nasional atau hutan lindung, mulai marak digemari. Hal ini dikarenakan wisatawan dapat melihat satwa liar di habitat alaminya tanpa rasa bersalah karena sudah memindahkan dan mengurung mereka di kandang. Selain itu, masyarakat pun kini dapat terlibat bukan hanya melihat satwa saja, tapi menolong mereka juga dengan menjadi relawan konservasi di pusat rehabilitasi satwa. Kegiatan ini dilakukan dengan membantu tenaga ahli merawat satwa liar korban perdagangan atau hasil sitaan agar dapat dilepasliarkan kembali ke alam.

Nah, sekarang kita akan membahas tentang hewan domestik. Berbeda dengan satwa liar, hewan domestik telah lama hidup berdampingan dengan manusia sehingga fisik dan sifatnya berubah. Hal tersebut artinya, hewan domestik hidup bergantung kepada manusia dan memang seharusnya dipelihara oleh manusia. Ada hewan domestik yang diternakkan untuk keperluan pangan seperti sapi, kambing, babi. Ada juga yang digunakan untuk membantu pekerjaan manusia seperti kerbau dan kuda. Hingga hewan domestik yang dipelihara sebagai hewan kesayangan seperti anjing dan kucing. Semua hewan ini seharusnya memiliki pemilik, dan dirawat sesuai dengan lima azas kesejahteraan hewan tadi.

Bila manusia memelihara hewan domestik, maka tentunya kita harus menjamin makan dan minum mereka. Lalu, kita harus menjamin kenyamanan mereka dengan menempatkan di tempat yang sesuai, contohnya dengan tidak menempatkan di kandang sempit terus menerus misalnya. Kita juga tentu bertanggung jawab memastikan mereka senantiasa sehat, dengan melakukan pengecekan berkala ke dokter hewan dan memberikan vaksin serta sterilisasi. Meskipun mereka hewan yang jinak dan hidup dengan manusia, pastinya mereka masih memiliki insting bawaan nenek moyangnya. Maka, sebagai pemilik kita harus menyediakan kegiatan yang memungkinkan mereka bergerak, beraktivitas, bermain, dan bersosialisasi. Sebagai pemilik, kita juga harus peka akan perilaku mereka jangan sampai mereka merasa stres atau takut selama tinggal di lingkungan manusia yang dapat membahayakan kesehatan mereka.

Lalu bagaimana dengan hewan yang hidup terlantar di jalanan? Pada dasarnya, mereka juga adalah tanggung jawab kita! Ya, karena sesuai dengan pemahaman tadi bahwa mereka adalah hewan domestik yang semestinya dipelihara. Maka, kurang tepat bila dalam kehidupan sehari-hari kita mendengar istilah “hewan liar” untuk menyebut anjing dan kucing jalanan. Mereka bukan satwa liar, tetapi mereka adalah hewan domestik yang ditelantarkan manusia sehingga mereka hidup luntang-lantung di jalanan. Hal ideal bagi hewan-hewan ini adalah memberikan mereka tempat tinggal, dengan cara menyelamatkan, menempatkan mereka di rumah penampungan atau animal shelter, lalu menyalurkan mereka agar diadopsi. Tetapi tidak selamanya hal ini dapat dilakukan, maka pilihan selanjutnya adalah mengendalikan populasi mereka terkendali dan menjamin kesehatannya melalui sterilisasi dan vaksinasi.

Penutup

Mari kita merayakan kehadiran para hewan di muka bumi ini, dengan cara berupaya menjamin agar mereka sejahtera dan terlindungi. Hal ini dikarenakan memang hewan tak dapat berbicara, tapi mereka dapat menderita layaknya diri kita. Maka biarkan satwa liar tetap hidup bebas di alam, dan peliharalah dengan penuh tanggung jawab hewan yang memang seharusnya dipelihara. Jangan biarkan mereka menderita demi kesenangan atau keuntungan kita.

 

Tentang Penulis:

Rheza Maulana, S.T., M.Si. adalah seorang peneliti dan aktivis lingkungan dengan latar belakang Magister Ilmu Lingkungan dari Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia. Ia aktif mengedukasi berbagai isu lingkungan, termasuk perlindungan habitat alami, konservasi satwa liar, perubahan iklim, serta upaya-upaya ramah lingkungan. Ia berupaya mendorong kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.

 

 

 

Komentar