Wisatawan Indonesia Temukan Kedamaian di Istana Musim Panas Paus
ASKARA - Bagi sebagian orang, berkunjung ke Italia identik dengan wisata kota Roma, Colosseum, atau Vatikan. Namun bagi empat wisatawan asal Indonesia, Juliana Kodri, Maria Brigida, Imellya, dan Nina Nathalia, perjalanan mereka kali ini terasa istimewa karena menyentuh sisi spiritual sekaligus budaya di Istana Musim Panas Paus, Castel Gandolfo.
Istana yang berdiri megah di atas Danau Albano itu selama berabad-abad menjadi tempat beristirahat para Paus. Kini, setelah Paus Fransiskus memutuskan tidak menggunakannya lagi sebagai kediaman pribadi, kompleks ini dibuka untuk publik. Museum, kapel, ruang kerja Paus, dan taman indahnya menjadi saksi sejarah Gereja Katolik sekaligus daya tarik wisata dunia.
Juliana Kodri tak bisa menyembunyikan rasa harunya saat memasuki ruang kerja Paus. "Rasanya seperti menyentuh langsung sejarah Gereja Katolik, sekaligus menikmati keindahan alam Italia," ujarnya.
Maria Brigida memilih berlama-lama di kapel pribadi Paus. "Saya merasa damai sekali. Suasananya begitu khusyuk, seolah membawa kita lebih dekat dengan doa dan refleksi," tuturnya.

Imellya justru terpesona dengan koleksi seni sakral di dalam istana. "Lukisan dan patung di sini bukan sekadar karya seni, tapi menyimpan spiritualitas yang mendalam. Kita bisa merasakan pesan iman melalui setiap detailnya," katanya.
Sementara itu, Nina Nathalia melihat perjalanan ini sebagai kesempatan untuk belajar. "Kami tidak hanya berwisata, tetapi juga memahami bagaimana Gereja Katolik merawat tradisi dan sejarahnya. Ini pengalaman berharga," ungkapnya.
Kunjungan empat wisatawan asal Indonesia itu menegaskan bahwa Castel Gandolfo bukan sekadar destinasi turis biasa. Lebih dari itu, istana ini menjadi ruang perjumpaan lintas bangsa, tempat di mana sejarah, seni, dan spiritualitas berpadu menciptakan pengalaman yang tak terlupakan.

Komentar