Selasa, 21 Juli 2026 | 13:35
COMMUNITY

Resmi Tercatat HKI

Mahasiswa Unimus Semarang Rilis Poster Edukasi Rendam Kaki Air Hangat

Mahasiswa Unimus Semarang Rilis Poster Edukasi Rendam Kaki Air Hangat
Mahasiswa Unimus Semarang Rilis ketika melakukan edukasi rendam kaki air hangat (Dok Unimus)

ASKARA - Inovasi kesehatan lahir dari desa lewat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus). Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan Unimus, Tsabita Saharani Putri Rosadani, bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Prima Trisna Aji, resmi merilis poster edukasi berjudul “Rendam Kaki Air Hangat untuk Menurunkan Tekanan Darah” yang telah tercatat sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Kementerian Hukum dan HAM RI pada Kamis (11/9/2025).

Poster tersebut tidak hanya hadir sebagai karya visual, tetapi juga langsung dipraktikkan bersama warga Desa Pranggong, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali. Dalam kegiatan tersebut, Tsabita dan tim mahasiswa KKN Unimus menggelar demonstrasi terapi sederhana rendam kaki air hangat, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya kelompok lansia yang rentan hipertensi.

“Alhamdulillah, HKI atas nama saya dan Bapak Prima Trisna Aji sudah resmi terbit. Poster ini kami gunakan langsung saat edukasi warga agar mereka memahami langkah sederhana mengontrol tekanan darah tinggi. Semoga bermanfaat tidak hanya bagi warga Pranggong, tetapi juga masyarakat luas,” ujar Tsabita, dalam keterangan, Minggu (14/9).

Prima Trisna Aji menambahkan, mahasiswa KKN Unimus dibekali persiapan matang sebelum diterjunkan ke lapangan, baik dari sisi akademik maupun sikap. “KKN bukan sekadar program kerja, melainkan juga wadah mahasiswa menghasilkan luaran inovatif yang bermanfaat nyata. Poster rendam kaki air hangat ini adalah bukti bahwa kegiatan lapangan bisa menghasilkan HKI yang berdampak,” jelasnya.

Proses pendaftaran HKI turut mendapat pendampingan dari LPPM Unimus, bersama tim yang mendampingi hingga sertifikat resmi terbit.

Keunikan karya ini terletak pada integrasi antara edukasi, praktik kesehatan sederhana, dan media visual yang mudah dipahami masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus berupa teknologi canggih, tetapi juga bisa lahir dari solusi praktis yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dengan capaian ini, Unimus menegaskan bahwa KKN bukan hanya sarana pengabdian masyarakat, tetapi juga ruang lahirnya inovasi intelektual yang aplikatif, orisinal, dan berdampak luas.

 

 

Komentar