Acil Bimbo: Doa Yang Bernyanyi Dalam Suara Bariton
ASKARA - Nama aslinya Raden Darmawan Dajat Hardjakusumah, SH (Acil), merupakan anak ke-2 dari 7 bersaudara, lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 20 Agustus 1943., ia kelak dikenal luas dengan nama panggilan sederhana: Acil Bimbo. Bersama dua kakaknya, Sam dan Jaka, serta adiknya Iin Parlina, kita semua mengenalnya sebagai (Trio) Bimbo.
Suara bariton Acil yang lembut segera menjadi identitas Bimbo. Bukan hanya indah, tapi juga teduh—seakan setiap nada yang keluar darinya menyimpan doa.
Bagi saya pribadi, pertemuan dengan suara Acil sudah terjadi sejak SMA. Namun, saat kuliah di Bandung pada 1976, suara itu benar-benar merasuk ke dalam hidup saya.
Harmoni dan lirik puitis lagu-lagu mereka, seolah menghembuskan kelembutan musik kehidupan: romantis, bahkan spiritual, sesekali sindiran sosial.
Nuansa irama lagu-lagu Sunda hampir secara alami menyatu dalam berbagai genre lagu Bimbo, bahkan dalam lagu-lagu mereka yang didominasi irama Latin. Memang tak sedikit karya kelompok musik, yang sempat bernama Los Bimbo ini, berirama Latin.
Bersama Abah Iwan Abdurrahman, dan Trio Pahama pada waktu itu, Bimbo seolah sudah menjadi ikon Kota Bandung.
Bandung, sebuah kota romantis. Jalan-jalan rindang, udara sejuk, dan semangat muda di kampus seolah menemukan pantulannya dalam lagu-lagu Bimbo. Saya yang tidak pernah mengenal pacaran pun tak jarang terbuai oleh romantisme nyanyian Acil.
Tak pernah lupa saya akan keindahan lagu Adinda yang saya dengarkan ketika pada suatu malam saya sedang belajar untuk mempersiapkan ujian esok hari.
“Adinda, oh sayang, Adinda
Namamu tiada duanya
Adinda, oh sayang, Adinda
Dikau intan permata…”
Lagu itu seperti menyuarakan rasa yang sulit diucapkan. Suara Acil meminjamkan kata-kata bagi hati yang diam-diam merindu. Bahkan saat sosok yang kita rindukan itu belum lagi kita temukan. Hingga nantinya saya menemukan belahan hati saya.
Kenangan lain yang tak terlupakan adalah saat saya tergabung dalam Marching Band ITB, Waditra Ganesha.
Suatu ketika, kami dipercaya mengiringi defile atlet dalam acara pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) IX di Gelora Senayan, Jakarta, pada tahun 1977. Di antara repertoar yang kami tampilkan adalah lagu jenaka “Tante Sun”, karya Bimbo.
Puluhan ribu penonton yang memenuhi stadion pecah dalam sorak sorai. Selain memang jenaka dan meriah, lagu itu banyak dianggap oleh masyarakat sebagai sindiran halus kepada almarhumah Ibu Tien Soeharto - yang kebetulan memang hadir di event itu. Di tengah atmosfer politik saat itu, dan di saat mahasiswa ITB dikenal sebagai penggerak demo terhadap rezim Soeharto, penampilan ini menjadi semacam pernyataan yqng berani namun elegan.
Begitu spektakulernya pertunjukan Waditra Ganesha saat itu, hingga keesokan harinya Harian Kompas menuliskannya sebagai headline utama.
Memasuki era 1980-an dan 1990-an, Bimbo semakin identik dengan lagu-lagu religius. Sebagian mereka tulis sendiri liriknya, tak sedikit pula hasil karya Abah Iwan, sahabatnya, dan tentu saja juga Taifik Ismail sang penyair religius. Dalam lagu-lagu inilah suara Acil menemukan puncaknya.
Lagu “Tuhan” menjadi salah satu penandanya:
"Tuhan… tempat aku berteduh,
Di mana aku mengeluh…”
Sederhana, tapi dalam. Bagi saya, bait itu mengiringi fase hidup yang lebih dewasa. Dari sekadar menikmati romantika kota Bandung, kini Bimbo menemani saya untuk mulai menapaki jalan spiritual, mencari makna dalam senandung doa-doa.
Ramadan tanpa lantunan suara Acil terasa sepi. Televisi, radio, bahkan jalan-jalan kota menjadi lebih syahdu setiap kali Bimbo hadir dengan doa yang bernyanyi.
Namun, Bimbo tidak hanya bicara tentang cinta dan doa. Mereka juga menjadi suara nurani bangsa. Lagu-lagu seperti Surat Untuk Presiden dan Balada Seorang Biduan adalah bentuk kritik sosial yang dikemas dengan kelembutan.
Di sinilah letak kekuatan Acil: kritik terdengar lebih menusuk justru karena dibawakan dengan teduh. Suaranya mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu harus lantang—kadang kelembutan justru lebih menggugah.
Meski ketenaran merambah seluruh negeri, Acil tetap memilih hidup sederhana di Bandung. Ia bukan selebritas yang silau panggung. Bandung adalah rumah, dan dari sanalah ia menjaga harmoni—dengan keluarga maupun dengan saudara-saudaranya di Bimbo.
Bagi saya, setiap kali mendengar suara Acil, yang hadir bukan sekadar lagu. Ia bagi saya adalah suara kerinduan kepada keindahan kehidupan: romantisme, seni, spiritualitas, dan heroisme.
Kini, menyusul akhir perjalanan panjangnya selama lebih dari setengah abad berkarya, Acil akan terus saya kenang bukan hanya sebagai penyanyi. Ia adalah penjaga kehangatan hidup. Suaranya menjadi pengingat masa muda saya, hiasan bagian penting kehidupan saya di Bandung. yang penuh nostalgia.
Di setiap nada yang ia lantunkan, ada doa. Di setiap bait yang ia nyanyikan, ada cinta. Dan di setiap harmoni yang ia hadirkan, ada bagian dari perjalanan hidup saya sendiri.
Lebih dari seorang penyanyi yang saya kagumi, Acil Bimbo adalah salah satu suara batin saya. Bahkan mungkin tidak berlebihan jika saya katakan, ia adalah suara batin banyak warga bangsa ini.
Wilujeng jalan, Akang. Mugia Gusti maparin panghampura, nampi sagala amal ibadah Akang, sareng maparin tempat anu mulya di sisi-Na. (Haidar Bagir)

Komentar