Senin, 13 Juli 2026 | 12:38
NEWS

RUSUH DISEJUMLAH DAERAH

Komnas HAM Sebut 10 Orang Tewas, Korban Luka Belum Dirinci dan 1.683 Orang Ditahan

Komnas HAM Sebut 10 Orang  Tewas, Korban Luka Belum Dirinci dan  1.683 Orang Ditahan
Rusuh di sejumlah kota di daerah (dok)


ASKARA-Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mencatat ada 10 orang meninggal dunia dari peristiwa demonstrasi yang berujung kerusuhan di sejumlah daerah pada 25-31 Agustus 2025. Beberapa korban yang tewas tersebut diduga kuat mengalami kekerasan aparat.

Ketua Komnas HAM Anis Hidayah menyampaikan temuan tersebut  kepada para wartawan, Selasa (2/8/2025).

"Ini masih kita selidiki dan penyebab-penyebab lainnya," kata Anis Hidayah.

Selain itu, menurut dia, banyak peserta aksi demonstran yang mengalami luka-luka di berbagai daerah. Namun, Komnas HAM belum bisa memerinci data pasti mengenai hal itu.  Namun Anis  meyakini jumlah yang luka cukup banyak.

"Tapi cukup besar datanya di berbagai wilayah di seluruh Indonesia hingga terjadi kerusakan fasilitas publik, penjarahan, perkusi. Kami juga menyesalkan kepolisian yang melakukan penangkapan terhadap aktivis HAM Direktur Lokataru tadi malam," ujarnya. 

Selain itu, Anis mengatakan ada  1.683 orang masih ditahan oleh Polda Metro Jaya atas peristiwa demonstrasi yang berujung pada kerusuhan. Anis mengatakan data tersebut didapat setelah komnas HAM meninjau langsung ke Polda Metro Jaya pada Senin, 1 September 2025. 

Di sana, Komnas HAM bertemu langsung dengan Wakil Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Indra Wenny Panjiyoga beserta jajarannya. "Dari tanggal 25 hingga 1 September, ada 1.683 orang yang ditangkap dan ditahan tersebar di beberapa wilayah," kata Anis.
 

Berikut ini 11 korban meninggal dunia saat demo pada periode 25 Agustus hingga 2 September 2025:

  1. Affan Kurniawan (21 tahun). Pengemudi ojol asal Jakarta. Ia meninggal dunia setelah dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob saat aksi di Jakarta, Kamis, 28 Agustus 2025. Affan tidak ikut berdemo, namun ia kebetulan berada di lokasi saat akan mengantar pesanan makanan di Jalan Bendungan Hillir.
  2. Muhammad Akbar Basri (26 tahun). Akbar merupakan pegawai Humas DPRD Makassar yang juga meninggal dunia akibat terjebak di dalam gedung yang dibakar massa.
  3. Sarinawati (26 tahun), pegawai DPRD Makassar yang tewas terjebak dalam kebakaran saat gedung DPRD Makassar dibakar massa.
  4. Saiful Akbar (43 tahun),  Kepala Seksi Kesra Kecamatan Ujung Tanah, Makassar. Saiful ikut menjadi korban dalam insiden kebakaran karena terjebak di dalam kantor DPRD Makassar.
  5. Rusmadiansyah (25 tahun). Ia adalah pengemudi ojol di Makassar yang tewas setelah dikeroyok massa karena dituduh sebagai intel dalam demonstrasi yang terjadi di depan Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.
  6. Sumari (60 tahun). Sumari merupakan tukang becak asal Solo yang meninggal dunia diduga akibat terkena tembakan gas air mata saat terjadi bentrokan massa demontrasi di Surakarta (Solo).
  7. Rheza Sendy Pratama (21 tahun). Rheza merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta yang ditemukan meninggal dengan luka memar dan bekas pijakan sepatu di tubuhnya usai mengikuti demonstrasi.
  8. Andika Lutfi Falah (16 tahun). Ia merupakan siswa kelas 11 di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 14 Kabupaten Tangerang. Andika terlibat dalam kerusuhan di demo Jakarta pada 29 Agustus 2025. Andika dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Dr Mintoharjo dengan kondisi luka berat pada bagian kepala belakang akibat benturan benda tumpul.
  9. Iko Juliant Junior (19 tahun). Merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang angkatan 2024. Iko pamit ke orang tuanya pergi ke kampus dengan membawa jas almamater. Namun kemudian ia dikabarkan dalam kondisi kritis dan harus menjalani operasi di RSUP dr. Kariadi, Semarang. Pengakuan orang tuanya, Iko sempat mengigau meminta untuk tidak dipukuli lagi, namun penyebab sebenarnya dari kematiannya masih belum terungkap.
  10. Septinus Sesa. Ia merupakan warga saat aksi blokade di kawasan Wirsi dan Jalan Yosudarso, Manokwari. Kasus kematiannya masih diselidiki yang melibatkan Komnas HAM, Ombudsman, hingga LBH untuk menjamin transparansi. (dry)

Komentar