Rabu, 22 Juli 2026 | 00:17
COMMUNITY

Persatuan Umat Demi Indonesia Yang Kuat

Persatuan Umat Demi Indonesia Yang Kuat
Pertemuan ormas keagamaan di Hambalang (dok.askara)

ASKARA - Pertemuan Presiden Prabowo dengan enam belas organisasi masyarakat (ormas) keagamaan di Hambalang, Sabtu 30 Agustus, menjadi momen penting bagi bangsa. Di tengah dinamika sosial politik, pertemuan ini menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga persatuan, membangun dialog, serta mengedepankan nilai-nilai kebangsaan dan keadaban. Semoga menjadi jalan untuk menghadirkan Indonesia yang lebih tenang, adil, dan bermartabat.

Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan enam belas organisasi masyarakat (ormas) keagamaan di Hambalang menandai langkah nyata dalam merajut kebersamaan di tengah perbedaan. Kehadiran tokoh-tokoh lintas agama dalam forum tersebut menunjukkan betapa pentingnya peran dialog dalam membangun stabilitas bangsa. Apresiasi patut diberikan karena di saat banyak pihak memilih jalan konfrontasi, para pemimpin umat justru memilih duduk bersama, membicarakan masa depan bangsa dengan penuh kedewasaan (Kompas, 30 Agustus 2025).

Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menegaskan bahwa demokrasi di Indonesia harus dimanfaatkan dengan penuh keadaban. Demokrasi bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan ruang untuk membangun persatuan dengan tetap menghargai perbedaan. Pandangan ini penting diingat, sebab demokrasi hanya akan bermakna ketika diiringi dengan sikap saling menghormati dan tidak mengedepankan kepentingan kelompok semata (Suara Muhammadiyah, 30 Agustus 2025).

Pertemuan itu juga memperlihatkan bahwa pemerintah tidak menutup pintu terhadap kritik maupun aspirasi masyarakat sipil. Justru dengan melibatkan ormas keagamaan, negara mengakui peran besar mereka dalam menjaga harmoni. Ormas keagamaan selama ini menjadi pilar penting di masyarakat, baik dalam pendidikan, sosial, maupun pemberdayaan ekonomi. Ketika suara-suara mereka didengar, maka jalan pembangunan bangsa akan semakin kuat dan berakar (Tempo, 31 Agustus 2025).

Di tengah riuhnya politik global dan ancaman disintegrasi, langkah Presiden Prabowo bertemu dengan ormas agama patut dilihat sebagai strategi merawat rumah besar Indonesia. Dengan keragaman agama, budaya, dan tradisi, bangsa ini memang membutuhkan ruang komunikasi yang intensif. Dialog lintas iman seperti inilah yang mengurangi potensi gesekan horizontal, sekaligus meneguhkan kembali komitmen bahwa Pancasila adalah rumah bersama bagi seluruh rakyat (CNN Indonesia, 31 Agustus 2025).

Haedar Nashir mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan mengedepankan nilai-nilai keadaban dalam kehidupan demokrasi. Pesan ini terasa relevan karena demokrasi tanpa keadaban hanya melahirkan konflik. Demokrasi yang sehat harus dibarengi dengan etika politik, kebijaksanaan dalam bersuara, dan semangat untuk menyejukkan, bukan membakar. Dengan begitu, demokrasi menjadi instrumen yang menyejahterakan rakyat, bukan sekadar panggung perebutan kepentingan (Suara Muhammadiyah, 30 Agustus 2025).

Selain itu, ormas keagamaan memiliki tanggung jawab besar dalam menumbuhkan kesadaran moral di masyarakat. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai penguat iman, tetapi juga sebagai pengawal nilai kebangsaan. Dengan peran itu, ormas menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengarahkan bangsa menuju peradaban yang unggul. Pertemuan di Hambalang mengukuhkan sinergi itu, memperlihatkan betapa kuatnya modal sosial bangsa ketika pemerintah dan ormas bersatu (Detik, 30 Agustus 2025).

Optimisme juga tumbuh dari semangat kebersamaan yang terbangun. Di era penuh tantangan seperti saat ini, dari krisis ekonomi global hingga ancaman perubahan iklim, bangsa ini memerlukan solidaritas. Kebersamaan lintas agama dan pemerintah adalah fondasi kokoh untuk menghadapinya. Kesadaran ini mengingatkan kita bahwa persoalan besar hanya bisa dihadapi dengan persatuan, bukan dengan perpecahan (Republika, 31 Agustus 2025).

Sikap apresiatif terhadap pertemuan ini penting agar masyarakat luas juga menyadari bahwa dialog adalah kunci penyelesaian masalah. Demokrasi bukanlah arena untuk saling mengalahkan, melainkan wadah untuk menemukan titik temu. Dengan adanya komunikasi yang sehat, gesekan politik dapat diurai, dan energi bangsa bisa difokuskan pada pembangunan yang berkeadilan (Media Indonesia, 31 Agustus 2025).

Pada akhirnya, doa dan harapan agar Ibu Pertiwi kembali tenang tidak akan tercapai hanya dengan retorika. Ia membutuhkan kerja sama nyata, komitmen persatuan, serta kebijakan yang berpihak pada rakyat. Pertemuan di Hambalang memberikan contoh bahwa elit bangsa bisa memilih jalan kebersamaan. Tinggal bagaimana energi positif itu diteruskan menjadi kebijakan nyata yang menyejukkan hati rakyat Indonesia (Suara Muhammadiyah, 30 Agustus 2025).

Maka, semoga langkah-langkah kecil seperti pertemuan ini menjadi pondasi untuk langkah besar berikutnya. Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu mendengar, merangkul, dan menguatkan. Dengan persatuan, bangsa ini akan mampu menghadapi segala badai. Dan dengan keadaban dalam demokrasi, Indonesia akan selalu punya harapan untuk menjadi rumah yang damai, adil, dan sejahtera bagi semua. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar