Kamis, 04 Juni 2026 | 06:52
COMMUNITY

Dari Pekik Hukuman Mati ke Amnesti

Dari Pekik Hukuman Mati ke Amnesti
Ilustrasi

ASKARA -:Ironi terbesar dalam drama politik Indonesia adalah ketika Immanuel Ebenezer Gerungan (Noel) suara lantang yang dulu memekakkan telinga, kini berubah menjadi bisikan lirih penuh air mata. Sebelum terjerat, ia adalah singa podium yang menyerukan hukuman mati bagi koruptor. Namun, setelah terkena OTT KPK, lidahnya berbalik memohon amnesti dari Presiden.

Ah, betapa lucunya nasib yang suka bercanda. Ada sebuah pepatah lama yang mengatakan, “Jangan pernah meludah ke langit, karena akan jatuh ke wajah sendiri.” Pepatah ini sepertinya lahir untuk orang seperti Noel. Ya, sosok yang dulu berdiri gagah dengan urat leher menegang, menuding, mengutuk, dan menuntut hukuman mati untuk para koruptor. Dengan suara membahana, ia seakan menjadi palu Tuhan yang siap mengeksekusi setiap tikus berdasi yang merampok uang rakyat.

Namun, kini lihatlah dunia berputar, dan porosnya ternyata licin. Noel yang dulu lantang, kini mendadak menjadi paduan suara ratapan. Dari orator bergemuruh, ia turun kasta menjadi pemohon amnesti. Dari podium yang penuh sorak dukungan, ia berakhir di balik jeruji besi, dengan mata sembab dan tangan terkatup seperti pengemis dosa. Siapakah yang harus kita salahkan? Takdir? KPK? Atau, ironi hidup yang memang punya selera humor kejam?

Mari kita ingat kembali bagaimana ia pernah tampil di televisi, menuding kamera, dan menggelegar, “Koruptor harus dihukum mati!” Betapa mulianya seruan itu, seakan dunia akan bersih hanya dengan satu kalimat penuh kuasa moral. Betapa beraninya ia ketika berdiri di atas panggung, berteriak di depan massa, memimpin seruan seolah ia malaikat pencatat amal baik. Saat itu, publik bersorak, netizen bertepuk tangan, dan dunia maya memberinya like serta share tanpa henti. Ia seakan menjadi representasi harapan bangsa yang lelah menonton sinetron korupsi yang tak pernah tamat.

Tapi siapa sangka, sinetron itu justru memberinya peran baru: tersangka. Dan perannya kali ini sungguh dramatis. Bayangkan, pria yang dulu mengacungkan tinju kini mengatupkan tangan. Dari lantang berkata, “Hukum mati koruptor!” kini mendayu-dayu memohon, “Mohon amnesti Presiden.” Betapa revolusionernya transformasi ini, lebih cepat daripada timeline politik lima tahun sekali.

Kita tidak sedang membahas soal rasa kasihan. Tidak. Ini soal konsistensi. Bagaimana mungkin seseorang yang dulu ingin memancung kepala para tikus kini justru menjadi tikus itu sendiri? Atau barangkali sejak awal ia hanyalah kucing yang bersandiwara sebagai singa, sampai jebakan KPK menguak semua topeng?

Ada satu hal yang selalu menarik dalam kasus seperti ini: moralitas selektif. Saat di luar jeruji, kita bisa menjadi hakim, jaksa, bahkan algojo di atas panggung opini publik. Namun ketika borgol sudah melingkar, mendadak kita semua ingin jadi filsuf yang membicarakan relativitas moral, tentang kesempatan kedua, tentang kemanusiaan yang adil dan beradab.

Kita jadi ingat bagaimana sebagian besar para terpidana kasus korupsi selalu punya skrip yang sama. Mula-mula mereka berkilah, kemudian menyangkal, lalu menyalahkan konspirasi, dan akhirnya berakhir dengan drama air mata. Jika perlu, bawa anak dan istri ke ruang sidang, agar kamera menyorot sisi manusiawi yang konon tersisa. Kini, Noel menambahkan satu bab baru dalam skrip klasik itu: bab “Mohon Amnesti Presiden.” Sebuah inovasi luar biasa dalam kamus survival politik.

Apakah Noel salah seorang yang percaya bahwa politik adalah panggung, dan setiap panggung butuh akting? Kalau iya, kita patut memberinya penghargaan sebagai aktor terbaik dalam kategori transformasi tercepat. Dari penegak moral menjadi pemohon pengampunan hanya dalam hitungan hari. Siapa lagi yang bisa menandingi kemampuan beradaptasi secepat ini? Darwin pun mungkin akan mencatat Noel sebagai bukti evolusi paling instan dalam sejarah homo politicus.

Namun, jangan salah, Noel tidak sendirian. Ia hanyalah representasi dari pola besar: para penguasa mikrofon yang seolah malaikat saat kamera menyorot, tetapi manusia biasa atau bahkan lebih buruk ketika tidak ada spotlight. Yang membedakan hanyalah nasib: apakah mereka sempat ketahuan atau tidak. Yang ketahuan jadi bahan olok-olok, yang belum ketahuan tetap jadi pahlawan moral di atas panggung.

Lalu, apa yang harus kita pelajari dari ironi ini? Pertama, bahwa suara lantang bukan jaminan hati yang bersih. Kedua, bahwa setiap pekik “Hukum mati koruptor!” patut kita sambut dengan sejumput skeptis. Sebab, sering kali mereka yang paling keras berteriak adalah yang paling takut jika suara mereka berbalik menjadi gema dalam sel tahanan.

Dan terakhir, mari kita renungkan: ketika Noel kini memohon amnesti Presiden, apakah itu bentuk penyesalan tulus, atau sekadar babak baru dalam drama panjang yang selalu berhasil memanipulasi rasa iba kita? Jika amnesti adalah jawaban, maka apa arti hukuman mati yang dulu ia pekikkan? Apakah itu hanya slogan kosong yang laku dijual di panggung politik?

Ironi ini menampar kita semua, bukan hanya Noel. Sebab, selama kita masih mengagungkan orasi lebih dari integritas, panggung sandiwara ini akan terus berputar. Hari ini Noel, besok siapa lagi? Dan selama itu pula, kita akan tetap menjadi penonton setia yang, entah mengapa, tak pernah bosan menonton drama yang sama dengan aktor yang berbeda.

Kesimpulan:
Noel mungkin hanya satu dari sekian banyak figur yang terjebak dalam paradoks moralitas yang mereka ciptakan sendiri. Tetapi kasusnya adalah pelajaran paling gamblang: jangan terlalu percaya pada suara lantang, karena bisa jadi itu hanya gema dari hati yang sedang bernegosiasi dengan dosa. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar