Minggu, 07 Juni 2026 | 14:50
Ruang Menulis

Ketakutan Masa Depan Menemukan Jawaban

Ketakutan Masa Depan Menemukan Jawaban
Ilustrasi

ASKARA - Seorang perempuan selalu merasa resah memikirkan masa depannya. Ia takut hidupnya akan hampa, tak berarti, dan tak ada yang menemani di hari tuanya. Namun, semua berubah ketika ia bertemu dengan seorang laki-laki yang membuat hatinya tenang. Di sisi lain, laki-laki itu justru tak pernah memikirkan masa depan sampai ia menemukan istrinya.

Di sebuah kafe kecil yang dikepung gerimis sore, seorang wanita duduk memandang keluar jendela. Namanya Lestari, usia tiga puluh dua tahun, dan di wajahnya tersimpan jejak kekhawatiran yang tak pernah lepas. Baginya, masa depan adalah lorong panjang yang gelap, penuh tanda tanya, penuh ancaman. Setiap malam sebelum tidur, pikirannya berkelana pada “bagaimana kalau” bagaimana kalau ia tak pernah menikah, bagaimana kalau ia tua sendiri, bagaimana kalau hidupnya berakhir tanpa arti.

Sejak lama ia belajar, bekerja, dan bertahan dalam kehidupan kota yang keras. Semua orang tampak berjalan dengan pasti, seolah memiliki peta untuk masa depan mereka. Sementara ia hanya punya kerikil-kerikil ketakutan. Ia takut miskin, takut sakit, takut gagal, takut ditinggal. Ketakutan itu tumbuh jadi bayangan besar yang setiap saat menjerat napasnya.

Hingga hari itu, ia bertemu Arga. Lelaki berusia tiga puluh lima tahun dengan wajah teduh dan tawa yang ringan. Pertemuan mereka sederhana: sebuah kursi yang kebetulan kosong di sampingnya di kafe itu, lalu percakapan basa-basi yang berkembang jadi dialog panjang. Arga berbeda. Ia tampak santai, tidak terburu-buru, dan tidak takut masa depan.

“Aku tidak pernah memikirkan masa depan,” ujar Arga sambil meneguk kopinya.
Lestari terkejut. “Kenapa bisa begitu? Semua orang pasti memikirkannya.”
Arga tersenyum. “Karena masa depan selalu berubah. Yang bisa kulakukan hanya hidup hari ini. Esok akan datang sendiri.”

Kalimat itu bagi Lestari seperti hujan yang mereda. Untuk pertama kali, ia merasa ada seseorang yang bisa menenangkan ketakutannya. Sejak saat itu, mereka semakin sering bertemu. Dari sekadar kopi sore menjadi makan malam, lalu berjalan berdua di taman kota, sampai akhirnya ke ruang doa di masjid kecil, saat Arga melamarnya dengan kalimat sederhana:

“Maukah kau menemaniku menunggu masa depan tanpa perlu kita takut lagi?”

Lestari menangis bahagia. Ia merasa menemukan jawaban yang ia cari seumur hidup. Semua ketakutan masa depan lenyap, berganti keyakinan baru. Baginya, Arga adalah rumah.

Tahun-tahun pernikahan mereka berjalan hangat. Lestari mendapati dirinya lebih berani. Ia tak lagi dihantui bayangan tua sendiri. Ia mulai percaya bahwa masa depan adalah sesuatu yang bisa dihadapi bersama, bukan sendirian. Setiap kali ketakutan itu datang, ia cukup melihat mata Arga, dan semua terasa tenang.

Namun di sisi lain, Arga menyimpan cerita yang berbeda. Ia memang tidak pernah takut masa depan sebelum menikah. Hidupnya ringan, mengalir, seakan dunia selalu berpihak padanya. Tetapi setelah menikah, justru masa depan mulai tampak menakutkan baginya.

Ia mulai memikirkan, bagaimana jika ia gagal menafkahi Lestari, bagaimana kalau ia sakit, bagaimana jika ia meninggal terlalu cepat dan meninggalkan istrinya. Kekhawatiran itu tumbuh pelan-pelan, tak pernah ia ceritakan. Bagi Arga, cinta yang ia temukan membuatnya memiliki sesuatu untuk dijaga, dan dari sanalah lahir ketakutan.

Pada suatu malam, Lestari menemukan Arga termenung di beranda rumah.
“Kau kenapa?” tanya Lestari.
Arga tersenyum tipis. “Dulu aku tidak pernah takut masa depan. Tapi sekarang… aku takut, karena masa depan itu berarti aku bisa kehilanganmu.”

Lestari terdiam, lalu menggenggam tangannya. “Kita sudah melewati ketakutanku. Sekarang biar kita melewati ketakutanmu juga. Bersama.”

Bingkai cerita ini sesungguhnya bermula dari hari itu, sepuluh tahun setelah pertemuan pertama mereka di kafe kecil. Lestari kembali duduk sendirian di meja dekat jendela. Gerimis turun sama seperti dulu, dan kursi di sebelahnya kosong.

Arga tidak lagi ada. Ia meninggal mendadak sebulan sebelumnya karena serangan jantung.

Kini, Lestari menghadapi masa depan yang selama ini ia takuti. Bedanya, kali ini ia tidak merasa sendirian. Dalam setiap tetes hujan, dalam setiap detik hening, ia merasa Arga masih bersamanya.

“Dulu aku takut masa depan karena aku tak punya siapa-siapa,” gumamnya pelan sambil menatap kursi kosong itu. “Sekarang aku takut masa depan karena aku merindukanmu. Tapi setidaknya… aku tahu, aku pernah punya.”

Air matanya jatuh, namun senyum kecil muncul. Lestari belajar bahwa masa depan bukan tentang rasa takut atau tenang, melainkan tentang keberanian untuk tetap melangkah, meski orang yang membuatmu kuat sudah tiada.

Akhir cerita yang tak terduga dan yang tersembunyi adalah: Arga yang sejak awal tidak pernah takut masa depan, justru akhirnya yang paling takut karenanya. Sementara Lestari, yang sepanjang hidupnya dihantui bayangan masa depan, justru akhirnya menemukan keberanian setelah ditinggalkan. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar