Research Integrity Risk Index: 13 Kampus RI Masuk Daftar Merah Integritas Ilmiah Global
ASKARA - Sebanyak 13 universitas Indonesia masuk dalam sorotan tajam komunitas ilmiah internasional. Mereka tercatat dalam Research Integrity Risk Index (RIRI) 2024 sebagai institusi yang berisiko tinggi terhadap integritas ilmiah—sebuah sinyal penting bagi masa depan riset Tanah Air.
Kajian global ini dikembangkan oleh Prof. Lokman Meho dari American University of Beirut dan melibatkan 1.000 universitas dengan publikasi terbanyak di dunia. Dua indikator utama menjadi dasar pemeringkatan: R Rate, jumlah artikel bermasalah per 1.000 publikasi, dan D Rate, proporsi publikasi di jurnal yang sudah dihapus dari Scopus atau Web of Science karena gagal memenuhi standar akademik.
Hasilnya? Dikutip triaspolitica.net, Rabu (20/8), kampus-kampus dari Indonesia berada dalam kategori Red Flag dan Watch List, sejajar dengan negara-negara seperti India, Arab Saudi, Bangladesh, dan Irak. Sebaliknya, rata-rata universitas dengan risiko rendah tersebar di Amerika Serikat, Kanada, Australia, Argentina, Eropa Barat, Filipina, hingga Uganda..
Skor akhir dihitung dalam rentang 0–1, kemudian dipetakan ke dalam lima tingkatan risiko: Low Risk (rendah), Normal Variation (normal), Watch List (dalam pemantauan), High Risk (tinggi), dan Red Flag (buruk).
Skor akhir RIRI memetakan institusi ke dalam lima kategori risiko, dari Low Risk hingga Red Flag. Indonesia, bersama negara-negara seperti Kazakhstan, Irak, dan India, menempati posisi yang mengkhawatirkan dalam daftar Red Flag. Namun, RIRI menegaskan, ini bukan tuduhan, melainkan alarm reflektif. Tujuannya bukan mempermalukan, tetapi mendorong investigasi dan pembenahan sistem riset akademik.
Sekjen Kemendikti Saintek, Togar M. Simatupang, menyambut baik laporan ini sebagai momen refleksi. “Praktik riset kita masih dalam proses bertumbuh. Ini momentum untuk transisi dari ‘baligh’ ke ‘akil baligh’ dalam etika dan kapabilitas riset,” ujarnya.
Menurut Togar, peningkatan integritas riset tidak cukup hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan komitmen universitas dalam membina kapabilitas peneliti dan menegakkan etika akademik.
Kini, saatnya kampus-kampus di Indonesia tak sekadar berlomba soal kuantitas publikasi, tapi juga kualitas dan integritas. Karena hanya dengan riset yang jujur dan bermutu, Indonesia bisa berdiri tegak di kancah ilmu pengetahuan global.
Berdasarkan hasil penelitian, 13 universitas di Indonesia yang masuk daftar berisiko adalah sebagai berikut:
Zona “Red Flag” (Risiko Tertinggi):
1. Universitas Bina Nusantara (BINUS): RI² Score: 0.609
2. Universitas Airlangga (UNAIR): RI² Score: 0.414
3. Universitas Sumatera Utara (USU): RI² Score: 0.400
4. Universitas Hasanuddin (UNHAS): RI² Score: 0.349
5. Universitas Sebelas Maret (UNS): RI² Score: 0.317
Zona “High Risk” (Risiko Tinggi):
6. Universitas Diponegoro (UNDIP): RI² Score: 0.220
7. Brawijaya University (UB): RI² Score: 0.219
8. Padjadjaran University (UNPAD): RI² Score: 0.198
Zona “Yellow Flag”: Perlu Perhatian dan Peningkatan
Selain kategori risiko tinggi, laporan RI² juga menyoroti lima kampus yang masuk dalam Zona Kuning (“Yellow Flag”). Kategori ini menunjukkan risiko sedang yang tetap memerlukan perhatian dan upaya peningkatan integritas riset.
Berikut adalah kampus-kampus yang teridentifikasi dalam Zona Kuning:
9. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS): RI² Score: 0.168
10. University of Indonesia (UI): RI² Score: 0.154
1.. Bandung Institute of Technology (ITB): RI² Score: 0.120
12. Institut Pertanian Bogor (IPB): RI² Score: 0.119
13. Gadjah Mada University (UGM): RI² Score: 0.117

Komentar