Menyelami Makna Hidup dan Mati
ASKARA - Di balik hiruk-pikuk dunia, banyak dari kita yang berjalan seolah tak memiliki akhir. Padahal, setiap detik sejatinya adalah penanda menuju kepastian: kematian. Kita tahu, tapi lalai. Kita sadar, tapi enggan berubah. Narasi ini mengajak merenung lebih dalam siapa kita di hadapan kematian yang tak pernah menunda janjinya?
Siapa aku? Pertanyaan yang terdengar sederhana, namun sesungguhnya mengguncang kesadaran yang paling dalam. Aku adalah makhluk yang telah divonis mati, tapi masih juga bercanda dengan dunia. Telah lama aku diingatkan bahwa hidup ini hanya sebentar, namun langkahku seolah menantang waktu. Aku membaca ayat demi ayat, mendengar hadis demi hadis, tapi mengapa hati ini masih saja dingin seperti batu yang membungkam cahaya?
Allah Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
"Kullu nafsin dzā`iqatul maut."
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati." (QS. Ali Imran: 185)
Setiap jiwa, termasuk aku ya, aku yang sedang menulis, aku yang sedang membaca, aku yang sedang mengumpulkan kenikmatan fana semuanya akan mati. Tidak ada pengecualian. Tapi lihatlah aku, masih duduk santai, masih mencari tawa dan kenyamanan, seakan-akan tidak pernah membaca ayat ini. Aku yang sudah berulang kali kehilangan orang terdekat, yang sudah sering melihat tubuh terbujur kaku, tetap saja memuja dunia, seperti tidak akan tiba giliranku.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ، يَعْنِي الْمَوْتَ
"Aktsirū dzikra hādzimil laddzāt, ya‘nī al-maut."
"Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian." (HR. Tirmidzi)
Tapi aku justru melupakannya. Aku sibuk dengan rencana-rencana besar duniawi, lupa bahwa hari esok bukan jaminan. Aku mengisi waktu dengan hal-hal remeh, bukan untuk memperbaiki diri, tapi menunda tobat. Seolah-olah kematian itu bisa dinegosiasikan. Aku mencintai dunia dan takut kehilangan, padahal dunia tak pernah benar-benar mencintaiku kembali.
Sejatinya, hidup bukan tempat tinggal, tapi tempat singgah. Rasulullah ﷺ menggambarkan hidup ini dengan sangat jelas:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
"Kun fī ad-dunyā ka’annaka gharībun aw ‘ābiru sabīl."
"Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang pengembara." (HR. Bukhari)
Lalu, siapa aku yang merasa dunia ini tempat abadi? Siapa aku yang membangun istana di atas tanah yang pasti akan dilipat kembali oleh bumi? Aku terlalu sibuk dengan pencitraan, terlalu lelah mengejar validasi, hingga lupa bahwa tanah yang akan menelanku tak peduli pada siapa yang paling banyak disukai.
Aku adalah buronan kematian. Setiap pagi yang terbit, ia mencariku. Setiap malam yang datang, ia menungguku. Tapi aku? Masih bersolek di depan cermin dunia. Aku yang banyak dosa, masih juga menunda taubat. Padahal, Allah berjanji dalam firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Inna Allāha yuḥibbut-tawwābīna wa yuḥibbul-mutaṭahhirīn."
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri." (QS. Al-Baqarah: 222)
Betapa besar cinta Allah. Tapi betapa kecil rasa rinduku pada-Nya. Aku lebih rindu dunia. Lebih terpikat pada cahaya palsunya. Lebih nyaman dalam pelukan dosa yang lembut namun membinasakan.
Padahal, Nabi ﷺ telah mengingatkan:
يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
"Yub‘atsu kullu ‘abdin ‘alā mā māta ‘alayh."
"Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan saat ia meninggal dunia." (HR. Muslim)
Maka bagaimana jika aku mati saat dalam keadaan lalai? Saat mulutku sedang bercanda dengan yang bukan mahramku? Saat mataku sedang menonton keburukan? Saat tanganku sedang menari di layar, melupakan Al-Qur’an? Aku takut, tapi rasa takutku terlalu ringan dibandingkan semangatku dalam bersenang-senang.
Siapa aku? Aku adalah orang yang shalatnya sudah terjadwal tapi hatinya belum bersujud. Aku adalah hamba yang menghafal dalil tapi tak mengamalkannya. Aku adalah peminta surga yang malas mengetuk pintunya dengan amal. Aku adalah pengagum Rasulullah ﷺ yang belum serius meniru langkah-langkahnya.
Namun aku tidak ingin tetap seperti ini. Tidak hari ini. Tidak lagi. Karena Allah tak pernah menutup pintu kembali. Karena kematian mungkin besok, atau bahkan saat aku selesai membaca narasi ini.
Allah Ta’ala berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ
"Wasāri‘ū ilā maghfiratin min rabbikum."
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu." (QS. Ali Imran: 133)
Aku ingin segera berlari, kembali, pulang ke pangkuan Tuhanku. Bukan karena aku suci, tapi karena aku sadar: aku kotor dan hanya Dia yang mampu membersihkan. Aku tidak ingin mati dalam keadaan lalai. Aku ingin mati dalam keadaan rindu, dalam keadaan menuju-Nya.
Kini aku tahu siapa aku:
Aku adalah pendosa yang masih diberi kesempatan untuk mencintai-Nya lagi.
Aku adalah hamba yang telah lama pergi tapi pintu-Nya masih terbuka.
Aku adalah seorang yang semoga tak terlambat menyadari: dunia hanya singgah, akhiratlah rumah sesungguhnya.
Semoga aku pulang dalam keadaan Allah ridha. Semoga kita semua demikian. Aamiin. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar