Senin, 13 Juli 2026 | 14:49
NEWS

Menuju Generasi Indonesia Emas 2045, Program MBG dan CKG Perlu Kolaborasi Seluruh Stakeholder

Menuju  Generasi  Indonesia Emas 2045, Program MBG dan CKG Perlu Kolaborasi  Seluruh Stakeholder
Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Cellica Nurrachadiana (kiri) (dok KWP)

ASKARA-Sinergi lintas sektor antara pusat dan daerah penting dilakukan  dalam menyukseskan dua program prioritas nasional, yakni Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan Makan Bergizi Gratis (MBG).  Untuk itu, DPR berjanji akan terus melakukan evaluasi, kontrol dan tata kelola yang akuntabel agar tujuan melahirkan generasi Indonesia Emas 2045 terwujud.

Hal itu dikatakan anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Cellica Nurrachadiana dalam dialektika demokrasi bertajuk "CKG dan Gizi Gratis: Strategi Preventif Pastikan Generasi Indonesia Emas", yang digelar Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bekerja sama dengan Biro Pemberitaan DPR RI.

Pembicara lainnya anggota DPR RI Fraksi PKS, Yanuar Arif Wibowo, dan Dr. Ade Reza Hariyadi (Pengamat Kebijakan Publik/Dekan Fakultas Ilmu Administrasi UNKRIS), di Gedung DPR RI Senayan Jakarta, Kamis (7/8/2025).

Cellica mengatakan dua mitra utama Komisi IX DPR terkait program tersebut, yakni Kementerian Kesehatan dan Badan Gizi Nasional, memiliki peran strategis dalam mendukung visi besar Presiden Prabowo Subianto melalui program Asta Cita, khususnya poin keempat yakni pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan kesetaraan gender.

"Membangun fisik bisa dilakukan melalui perencanaan penganggaran dan pembangunan dalam jangka waktu tertentu dan relative tidak memerlukan waktu yang lama, namun membangun SDM ini butuh waktu panjang, komitmen kuat, serta kolaborasi dari semua stakeholder yakni akademisi, pelaku usaha, komunitas, pemerintah, hingga media," katanya.

Dia menyoroti program CKG. Menurutnya  program yang tengah berjalan dan telah menjangkau 16 juta masyarakat Indonesia, sedangkan target peserta didik yang akan dilalakukan CKG sebesar 53 juta peserta didik sebagai upaya preventif yang sangat penting dalam mendeteksi dini potensi penyakit, terutama penyakit tidak menular pada anak-anak.

Tenaga kesehatan, ujarnya menanani langsung ke sekolah-sekolah, dari SD hingga SMA/SMK, untuk memeriksa kesehatan anak-anak. Ketika ditemukan risiko penyakit, maka harus ada penanganan cepat tidak hanya preventif, tetapi juga kuratif dan rehabilitatif termasuk jika ditemukan penyakit pada kategori umur lainnya.

Menurut mantan Bupati Karawang ini peran Puskesmas juga menjadi sangat krusial dalam ekosistem pelayanan kesehatan primer. Namun, dia mencatat adanya pergeseran fungsi Puskesmas dari promotif ke kuratif seiring meningkatnya beban layanan, terutama di wilayah urban seperti Karawang, Bekasi, dan Bandung, di mana kunjungan pasien bisa mencapai 100–150 orang per hari.

"Tapi, program ini tidak akan maksimal tanpa edukasi keluarga. Misalnya, pasien hipertensi harus rutin minum obat. Jadi, keluarga dan masyarakat perlu diedukasi agar kepatuhan pengobatan berjalan dan beban pembiayaan kesehatan nasional bisa ditekan," jelasnya.

Selain itu  kata Cellica program MBG  yang sangat penting ini  menjadi tanggung jawab Badan Gizi Nasional (BGN). Program yang menyabar kelompok prioritas anak-anak usia dini (RA, PAUD), SD, SMP, SMA/SMK, serta ibu hamil, menyusui, dan balita non-PAUD.

"Tujuannya adalah agar anak-anak kita tidak hanya makan kenyang, tapi juga sehat dan bergizi seimbang. Dengan intervensi gizi yang tepat sejak dini, kita ingin mencetak generasi 2045 yang cerdas, sehat lahir batin, dan bebas stunting," kata legislator dari Dapil Jawa Barat VII ini.

MBG ini juga bertujuan untuk optimalisasi ekonomi dan logistik di daerah. Misalnya terkait beras, sayur, lauk-pauk, tempe tahu, ikan, telur, ayam, daging dan sebagainya harus memanfaatkan potensi di daerah masing-masing. Juga transportasinya, distribusinya, SDM nya, diharapkan terjadi perputaran ekonomi di daerah. "Karena ini sudah diputuskan Presiden, maka harus jalan tidak boleh mundur, dan harus kita sukseskan bersama menuju Indonesia Emas 2045," pungkasnya. (dry)

Komentar