Rumah Adat Nekang, Jejak Leluhur dari Tanah Ruteng
ASKARA - Di balik keindahan alam Manggarai, Nusa Tenggara Timur, tersimpan warisan budaya yang sarat makna, Rumah Adat Nekang atau yang dikenal juga dengan nama Watu. Rumah besar ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol kebersamaan, asal-usul, dan sistem sosial masyarakat Manggarai sejak dahulu kala.
Menurut Hengkie Jong, pemerhati budaya lokal, rumah adat Nekang merupakan salah satu dari beberapa tipe rumah adat di Ruteng yang masih terjaga. Rumah ini dihuni oleh beberapa keluarga yang berasal dari satu garis keturunan. Dalam satu bangunan besar, hidup beberapa keluarga dalam satu atap, dengan nilai-nilai kekeluargaan yang sangat kuat.
"Rumah seperti ini bukan sekadar tempat tinggal, tapi menjadi pusat kehidupan keluarga besar. Di sinilah nilai-nilai leluhur diajarkan, dipelihara, dan diwariskan turun-temurun," jelas Hengkie Jong, Kamis (7/8).
Watu atau rumah adat Nekang biasanya dibangun dengan struktur kayu dan atap ijuk atau alang-alang. Bagian dalamnya terdiri dari beberapa ruang komunal dan bilik untuk keluarga, serta ruang tengah sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah. Di tengah rumah, biasanya terdapat watu tu'a atau batu tua yang menjadi simbol kehadiran roh leluhur.
Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Keluarga Bangka Nekang, yakni kelompok keturunan yang berasal dari satu rumah adat dan kemudian berkembang menjadi banyak cabang keluarga. Ikatan antara penghuni rumah tidak hanya dilandaskan pada hubungan darah, tetapi juga kesetiaan pada adat dan warisan leluhur.
Hengkie juga menyampaikan bahwa sistem rumah besar seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat Manggarai menjunjung tinggi prinsip kolektivitas. Tidak ada konsep individualistik dalam tatanan hidup rumah adat. Setiap anggota keluarga memiliki peran dan tanggung jawab untuk menjaga keharmonisan dan keberlangsungan rumah bersama.
Rumah adat Nekang masih dapat ditemui di beberapa wilayah di Ruteng dan sekitarnya. Meski zaman terus berubah, upaya pelestarian terus dilakukan oleh warga dan tokoh adat, termasuk melalui kegiatan budaya, ritual adat, dan regenerasi pengetahuan kepada generasi muda.
Pemerintah daerah Manggarai juga mendorong pelestarian rumah adat sebagai bagian dari daya tarik wisata budaya. Beberapa rumah adat telah dibuka untuk kunjungan wisatawan, sebagai sarana edukasi sekaligus apresiasi terhadap warisan budaya lokal yang unik.
"Jika rumah adat hilang, bukan hanya bangunannya yang musnah, tapi juga ingatan kolektif dan akar budaya kita," tambah Hengkie dengan nada tegas.
Melalui rumah adat seperti Watu, masyarakat Ruteng tidak hanya menyimpan sejarah, tapi juga hidup di dalamnya. Rumah itu menjadi bukti bahwa tradisi bukan untuk dikenang semata, tetapi untuk dihidupi bersama dari generasi ke generasi.

Komentar