Kamis, 04 Juni 2026 | 10:42
NEWS

Air Mata di Rumah Kayu, Harapan dari Pulau Rote Terbang ke UI

Air Mata di Rumah Kayu, Harapan dari Pulau Rote Terbang ke UI
Margaret beserta orang tuanya, gadis muda asal Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (Dok Trubunnews)

ASKARA - Tak ada yang benar-benar kecil di mata Tuhan, hanya kita yang kerap memandang mimpi orang lain dari balik kaca bernama prasangka.

Margaret, gadis muda asal Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, membuktikan bahwa mimpi bisa tumbuh dari rumah kayu sederhana. Rumah itu hanya punya satu kamar dan sedikit perabotan, namun menyimpan mimpi sebesar Indonesia. Di situlah semangatnya tumbuh, di antara dinding yang nyaris kosong dan langit-langit yang bocor oleh musim.

Ia pernah diremehkan. Bukan oleh orang jauh, tapi oleh guru dan tetangganya sendiri.

"Gak bisa bayar uang sekolah tapi mau kuliah di UI," begitu kata-kata yang berulang kali ditancapkan ke benak Margaret oleh gurunya sendiri, saat ia mengungkapkan cita-cita berkuliah di Universitas Indonesia.

Air matanya jatuh saat mengenang perlakuan itu. Bukan karena lemah, tapi karena terlalu lama menahan luka dan rindu akan pengakuan.

Tak berasal dari keluarga berada, Margaret harus menanggung kenyataan tunggakan sekolah yang membuatnya nyaris mundur dari langkah. Ia bahkan hampir tak mendaftar jalur SNBP.

"H-2 sebelum penutupan, jam 2 dini hari saya baru daftar. Saya cuma pilih satu: UI," ucap Margaret, seperti dikutip dari unggahan akun Facebook Viktor Lerik, Minggu (27/7).

Tuhan, rupanya, menyimpan kejutan di balik air mata. Margaret diterima di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Kabar itu membuat sang kakak segera bekerja lebih keras, mengumpulkan ongkos agar Margaret bisa menginjakkan kaki di Jakarta. Tangis keluarga mereka pecah. Tapi kali ini bukan karena dihina, melainkan karena harapan akhirnya menang.

Yang lebih menyentuh lagi, kabar tentang semangat Margaret sampai ke telinga para akademisi. Dosen dari Universitas Indonesia dan bahkan dari ITB mendatangi langsung rumah kayu itu. Mereka datang bukan hanya membawa beasiswa, tapi juga pengakuan, dan barangkali, penebusan dari luka-luka yang sempat dibuat oleh sistem yang sering kali abai pada potensi di pinggir negeri.

Kisah Margaret adalah potret perjuangan yang seharusnya tak lagi langka di negeri ini. Bahwa di pelosok Rote, di balik kabut dan cuaca panas, ada cahaya yang siap menerangi bangsa asal diberi kesempatan, bukan dicemooh.

 

Komentar