Kamis, 23 Juli 2026 | 09:20
NEWS

Syukur 75 Tahun Keuskupan TNI-Polri: Iman, Pengabdian, dan Cinta Tanah Air

Syukur 75 Tahun Keuskupan TNI-Polri: Iman, Pengabdian, dan Cinta Tanah Air
Suasana Misa Ekaristi perayaan ulang tahun ke 75 Keuskupan untuk Umat Katolik dan Polri (Dok Askara)

ASKARA - Perayaan misa ekaristi memperingati 75 tahun Ordinariat Militer Indonesia atau yang kini dikenal sebagai Keuskupan untuk Umat Katolik di Lingkungan TNI-Polri digelar khidmat di Kapel Bunda Maria Fatima, Mabes TNI Cilangkap, Rabu (23/7/2025). Misa dipimpin oleh Uskup Kardinal Ignatius Suharyo, didampingi Wakil Uskup Romo Kolonel Yos Bintoro, Pr, bersama delapan imam. Hadir pula para prajurit TNI dan anggota Polri dari berbagai jenjang, mulai dari perwira hingga tamtama dari ketiga matra dan kepolisian.

Usai misa, acara dilanjutkan dengan tiup lilin, pemotongan tumpeng, dan penyerahan buku 75 Tahun Keuskupan TNI-Polri. Buku tersebut disusun sebagai dokumentasi sejarah dan bentuk refleksi perjalanan pastoral umat Katolik di lingkungan militer dan kepolisian.

Dalam homilinya, Kardinal Suharyo menyampaikan rasa syukur atas sejarah panjang keuskupan yang awalnya bernama Ordinariat Militer Indonesia (OCI), atau dalam bahasa Latin dikenal sebagai Ordinariatus Castrensis Indonesia. Ia menekankan bahwa pendirian keuskupan ini merupakan bagian dari semangat mendukung kemerdekaan Republik Indonesia.

"Pada November 1949, Menteri Pertahanan RI Sultan Hamengku Buwono IX mendirikan unit layanan mental rohani bagi angkatan perang. Hanya berselang satu bulan, pimpinan Gereja Katolik merespons dengan mendirikan Keuskupan Militer," jelas Kardinal.

Menurutnya, inisiatif ini membuktikan bahwa Gereja Katolik tidak berdiri di luar perjuangan bangsa, melainkan menjadi bagian utuh dari proses sejarah kemerdekaan Indonesia.

"Gereja Katolik bukan entitas asing, tapi bagian dari perjuangan bangsa. Ini tanggung jawab sejarah yang harus kita rawat dan teruskan dalam konteks kekinian," tegasnya.

Kardinal juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota TNI-Polri dan keluarga mereka atas dedikasi dan pengorbanan yang dilakukan dalam menjalankan tugas. Ia menyebut pengorbanan tersebut sebagai bagian dari karya agung Tuhan yang patut disyukuri.

Dalam kaitannya dengan Tahun Suci Peziarahan Harapan, Kardinal Suharyo mengajak umat untuk tetap berpengharapan di tengah berbagai tantangan kebangsaan. Ia menyinggung ironi antara nilai-nilai luhur seperti Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Keadilan Sosial dengan berbagai praktik yang justru bertentangan, seperti kekerasan atas nama agama, perdagangan orang, hingga manipulasi bahan pokok.

"Kita percaya pada sila Ketuhanan, tapi kadang nama Tuhan digunakan untuk membenarkan kekerasan. Kita yakin akan kemanusiaan yang adil dan beradab, tapi praktik seperti TPPO dan jual beli bayi masih terjadi," katanya.

Menutup kotbahnya, Kardinal Suharyo mengajak seluruh umat Katolik di lingkungan TNI-Polri untuk terus berkarya tanpa pamrih, meski tanpa tanda jasa dan sorotan.

"Sekecil apa pun yang baik tidak akan pernah sia-sia. Dalam Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia," ujar Kardinal mengutip Rasul Paulus.

Perayaan 75 tahun ini menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas dan panggilan iman umat Katolik dalam lingkungan pertahanan dan keamanan, sekaligus menegaskan komitmen untuk mencintai Tuhan dan Tanah Air dengan setia dan tekun.

 

Komentar