Kamis, 18 Juni 2026 | 03:28
COMMUNITY

Bukan Sekadar Tren, Tapi Cermin Diri

Bukan Sekadar Tren, Tapi Cermin Diri
Tren S Libe (int)

ASKARA - Media sosial kerap memunculkan tren tren viral yang mengundang tawa atau rasa ingin tahu. Salah satunya adalah tren “S Line” yang sedang ramai di TikTok. Di balik kelucuan dan gimmick digital itu, ada sebuah pesan sunyi yang perlu direnungkan bersama: apakah kita mulai terbiasa menertawakan, bahkan membanggakan dosa kita sendiri?

Di era yang serba cepat ini, manusia seolah berlomba menjadi konten bukan lagi pencipta konten. Tidak jarang, kita lebih takut kehilangan engagement daripada kehilangan rasa malu. Di titik inilah, agama hadir bukan sebagai penghalang hiburan, tapi penuntun agar tidak tersesat dalam kabut popularitas palsu.

Tren “S Line” adalah salah satu cermin. Garis merah di atas kepala yang katanya menunjukkan jumlah hubungan intim seseorang menjadi viral karena dikemas dengan kelucuan. Tapi lucu tidak selalu berarti layak. Hiburan tidak selalu halal. Dan sorotan lampu panggung dunia maya tidak selalu membawa berkah kadang justru membuka aib yang selama ini dijaga langit.

Allah سبحانه وتعالى memberi peringatan keras kepada mereka yang tidak hanya berbuat dosa, tapi juga bangga dengannya. Firman Nya dalam Surah Ali ‘Imran ayat 188:

ا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَفْرَحُوْنَ بِمَآ اَتَوْا وَّيُحِبُّوْنَ اَنْ يُّحْمَدُوْا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوْا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
"Jangan sekali kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa (perbuatan buruk) yang telah mereka kerjakan dan suka dipuji atas perbuatan (yang mereka anggap baik) yang tidak mereka lakukan, kamu jangan sekali kali mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih." (QS. Ali ‘Imran: 188)

Tersirat di sana, bahwa bukan sekadar dosa yang dibenci, tapi kesombongan akan dosa. Terutama bila itu diumbar, dipertontonkan, bahkan dikemas sebagai lelucon yang mengundang likes dan komentar.

Rasulullah ﷺ juga memperingatkan dalam hadis yang sangat mendalam:

كلُّ أُمَّتي مُعافًى إلا المجاهرين ، و إنَّ من الجِهارِ أن يعملَ الرجلُ بالليلِ عملًا ثم يُصبِحُ و قد ستره اللهُ تعالى فيقولُ: عملتُ البارحةَ كذا و كذا ، و قد بات يسترُه ربُّه ، و يُصبِحُ يكشفُ سِترَ اللهِ عنه
"Setiap umatku akan diampuni kecuali orang orang yang terang terangan (melakukan dosa). Dan termasuk terang terangan adalah seseorang yang mengerjakan suatu perbuatan dosa di malam hari, lalu keesokan harinya ia mengatakan: ‘Tadi malam aku melakukan ini dan itu’, padahal Allah telah menutupi aibnya. Ia malah membuka tabir Allah yang menutupi dirinya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah betapa lembutnya Allah menutup aib hamba Nya. Namun betapa tega manusia membuka aibnya sendiri, lalu menawarkannya pada dunia untuk ditonton. Bahkan dijadikan konten. Bukankah itu bentuk penghinaan terhadap kasih sayang Allah?

Islam mengajarkan untuk menjaga aib, bukan memamerkannya. Bahkan untuk jenazah sekalipun, kita diajarkan untuk menutup kekurangannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

من غسل ميتاً فكتم عليه، غفر الله له أربعين مرة
"Barangsiapa memandikan jenazah, lalu merahasiakan cacat tubuhnya (aib), maka Allah mengampuninya sebanyak empat puluh kali." (HR. Al Hakim)

Jika jenazah saja dimuliakan dengan perlindungan aib, apatah lagi kita yang masih hidup dan bisa memperbaiki diri. Maka, janganlah kita jatuh ke dalam dua kali keburukan: melakukan dosa dan berbangga dengannya.

Islam tidak menutup ruang untuk memperbaiki diri. Justru sebaliknya, agama ini begitu ramah terhadap mereka yang sungguh sungguh ingin kembali. Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al Maidah ayat 39:

فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Maka siapa pun yang bertobat sesudah melakukan kejahatan dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Maidah: 39)

Betapa indahnya Islam. Ia tidak mengusir para pendosa. Ia justru menyambut mereka yang tulus ingin berubah. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan Nya, jika kalian tidak berbuat dosa, Allah akan menghilangkan kalian dan akan mendatangkan kaum lain yang berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun kepada Allah, dan Allah pun mengampuni mereka." (HR. Muslim)

Bukan dosa yang membuat seseorang hina, tetapi ketika ia berbangga dengan dosanya dan menolak bertaubat.

Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi tren semacam ini?

Pertama, latih kepekaan hati. Jangan sampai kebiasaan tertawa membuat kita tidak sadar bahwa yang ditertawakan adalah kehinaan. Kedua, jaga media sosial kita sebagai ruang dakwah dan inspirasi, bukan panggung aib. Ketiga, jangan biarkan algoritma menggantikan akhlak kita. Hanya karena viral, belum tentu bernilai.

Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah bukan yang paling lucu, bukan yang paling terkenal, tapi yang paling bertakwa:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah yang paling bertakwa." (QS. Al Hujurat: 13)

Mari jadikan diri kita pantulan cahaya, bukan bayangan dosa. Media sosial adalah alat. Pilihan ada di tangan kita: menjadikannya ladang pahala atau jurang dosa. Yang pasti, Allah melihat semua. Dan kepada Nya kita akan kembali.

وَاللَّهُ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Dan Allah mencintai orang orang yang bertaubat dan mencintai orang orang yang menyucikan diri." (QS. Al Baqarah: 222). (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar