Rabu, 22 Juli 2026 | 00:42
NEWS

UGM dan Undip Mundur dari BEM SI, Protes Kedekatan Aliansi dengan Penguasa

UGM dan Undip Mundur dari BEM SI, Protes Kedekatan Aliansi dengan Penguasa
Postingan keterangan resmi BEM KM UGM tentang penarikan diri dari Aliansi BEM SI, 20 Juli 2025. (screenshoot)

ASKARA - Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) resmi menarik diri dari Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan. Keputusan itu disampaikan Ketua BEM KM UGM 2025, Tiyo Ardianto, usai menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) XVIII BEM SI di Padang, Sumatra Barat.

Dalam keterangannya, Tiyo mengungkapkan bahwa mundurnya BEM KM UGM disebabkan oleh sikap aliansi yang dinilai terlalu dekat dengan penguasa. Hal itu tercermin dari kehadiran sejumlah tokoh politik dan pejabat negara dalam forum mahasiswa tersebut, seperti Ketua Umum Partai Perindo, Menteri Pemuda dan Olahraga, Wakil Gubernur Sumbar, hingga Kepala BIN daerah.

“BEM sebagai lembaga pergerakan, bagi kami, mesti memberi batas yang tegas dan harus berjarak dengan penguasa. Tapi BEM SI tidak memberikan teladan yang membanggakan,” kata Tiyo melalui akun resmi Instagram @bemkm_ugm, Minggu (20/7/2025).

Tiyo mempertanyakan kebijakan BEM SI yang membiarkan kehadiran para pejabat dalam forum tersebut, bahkan membiarkan mereka berfoto mesra dengan para mahasiswa yang kemudian disebarluaskan melalui media sosial.

“Apalagi dengan merdeka, mereka pamerkan kebersamaannya bersama mahasiswa pada media sosialnya. Mungkinkah mereka masuk ke forum murni diundang, atau karena ada tiket masuk yang telah mereka dapatkan?” lanjutnya.

Lebih lanjut, Tiyo juga menyoroti kekacauan yang terjadi selama Munas berlangsung. Ia menyebut ada insiden yang menyebabkan sejumlah mahasiswa mengalami luka fisik, seperti patah tulang dan lebam, serta trauma psikis akibat konflik internal perebutan jabatan.

“Bagi kami, tidak ada jabatan yang berharga untuk direbut sampai harus ribut. Kesatuan kita adalah aset berharga bagi gerakan rakyat sipil,” tegasnya.

Selain UGM, BEM Universitas Diponegoro (Undip) juga dikabarkan turut menarik diri dari aliansi yang sama, meskipun belum ada pernyataan resmi dari pihak Undip terkait alasan pengunduran diri tersebut.

Menanggapi dinamika tersebut, Koordinator Pusat BEM SI, Muzammil Ihsan, mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi dan berupaya merangkul kembali organisasi-organisasi kampus yang keluar.

“Tentu kita juga terbuka luas kepada BEM seluruh Indonesia, baik yang berasal dari universitas negeri maupun swasta, dalam membersamai kita menyuarakan aspirasi rakyat,” ujarnya.

Muzammil menegaskan bahwa aliansi BEM bukan sekadar identitas, melainkan wadah memperkuat solidaritas gerakan mahasiswa di seluruh Indonesia.

“Kami percaya bahwa makin terhubung kekuatan mahasiswa lintas kampus dan wilayah, maka makin nyata kekuatan kita dalam menghadirkan perubahan,” tutup Muzammil.

 

 

Komentar