Minggu, 07 Juni 2026 | 13:48
COMMUNITY

Ngaji Pertanian STII, Vipie Gardjito: Kelapa Bintang Lima, Jalan Sejahtera Petani Indonesia

Ngaji Pertanian STII, Vipie Gardjito: Kelapa Bintang Lima, Jalan Sejahtera Petani Indonesia
Vipie Gardjito (int)

ASKARA - Pada Sabtu, 19 Juli, Serikat Tani Islam Indonesia (PB STII) menggelar Ngaji Pertanian daring bertema “Coconut – The Five Star Industry”. PB STII melalui kegiatan ini menegaskan komitmennya untuk menjadikan kelapa sebagai komoditas strategis nasional, sekaligus membuka jalan bagi kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani.

Acara ini menghadirkan Vipie Gardjito, tokoh visioner yang telah membuktikan bahwa kelapa bukan sekadar komoditas tropis—melainkan gerbong kesejahteraan rakyat.

"Indonesia, sebagai negara kelapa terbesar di dunia, memiliki potensi ekonomi kelapa yang bisa mencapai Rp4.000 triliun per tahun," ujar Vipie memaparkan.

Namun, katanya, potensi ini belum tergarap maksimal karena mayoritas petani hanya menjual kelapa mentah. Melalui pendekatan Petik-Olah-Jual-Untung, Vipie mendorong hilirisasi produk kelapa langsung dari desa, oleh masyarakat, untuk masyarakat.

Kelapa disebut sebagai industri bintang lima karena: Nilai tambahnya bisa mencapai 8000%, Teknologi pengolahan mudah dan ramah desa, Produk turunannya sangat beragam: dari VCO, sirup, kecap, hingga kosmetik dan herbal
- 95% pohon kelapa dimiliki oleh petani kecil.

Harus Cuan, Harus Tumbuh!  

Di balik kesederhanaannya, kelapa menyimpan kekuatan luar biasa. Indonesia, negeri dengan garis pantai terpanjang dan sinar matahari berlimpah, adalah rumah bagi kelapa terbaik di dunia. 

"Tak heran, bisnis kelapa disebut bisnis bintang lima—karena dari satu buah, lahir seribu peluang," tuturnya.

Vipie menegaskan, kelapa bukan sekadar bahan dapur. Ia adalah aset ekonomi rakyat yang menghasilkan nilai tambah hingga 8000%, menjangkau pasar global, dan membuka lapangan kerja di daerah. 

"Mulai dari santan hingga karbon aktif, dari VCO hingga FluCare, produk turunan kelapa menghadirkan solusi kesehatan, kecantikan, dan inovasi pangan," katanya.

Dengan teknologi pengolahan yang semakin terjangkau dan beragam, kini saatnya kelapa tidak hanya dipanen, tapi diolah dengan strategi hilirisasi level 1-3. "Produk lokal bisa naik kelas, dan bisnis kelapa jadi jembatan kesejahteraan," tutupnya.

 

Dari Akar Nusantara ke Pasar Dunia

Serikat Tani Islam Indonesia (STII) di seluruh daerah berkomitmen untuk mengembangkan komoditas kelapa secara menyeluruh. Mulai dari replanting pohon kelapa yang sempat tergantikan oleh komoditas lain, hingga pemanfaatan seluruh bagian pohon—dari pucuk hingga akar—yang menghasilkan lebih dari 1.600 produk turunan.

Kelapa bukan sekadar komoditas, melainkan simbol keberlanjutan, kemandirian petani, dan warisan budaya. Indonesia, dengan 3,3 juta hektare kebun kelapa dan 98% dikelola oleh petani rakyat, adalah produsen kelapa terbesar dunia.

STII Perwakilan Luar Negeri juga menggerakkan peran diplomasi produk melalui perwakilan luar negeri untuk: Meningkatkan product awareness kelapa Indonesia secara global, Menyuarakan nilai-nilai spiritual dan keberlanjutan melalui satu pohon yang serbaguna, Mendorong ekspor produk turunan seperti VCO, arang tempurung, cocopeat, gula kelapa, dan kerajinan berbasis kelapa.

Spirit Surah An-Nur Ayat 37 “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah...”

Ayat ini menjadi pengingat bahwa dalam aktivitas ekonomi, kita tetap menjadikan dzikir, salat, dan zakat sebagai poros spiritual. Kelapa, sebagai anugerah alam, mengajarkan kita tentang kebermanfaatan dan keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Semoga Indonesia, negeri nyiur melambai, mampu menjadikan kelapa sebagai berkah bagi umat manusia—dengan tetap menjunjung nilai-nilai ilahiah dalam setiap langkah perniagaan.

Komentar