Senin, 15 Juni 2026 | 20:23
CULINARY

Prof. Rokhmin Dahuri: Stop Impor Gengsi! Bandeng Lokal Jauh Lebih Hebat dari Salmon

Omega-3 Lebih Tinggi, Bernutrisi dan Ramah Kantong

Prof. Rokhmin Dahuri: Stop Impor Gengsi! Bandeng Lokal Jauh Lebih Hebat dari Salmon
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS ((ist)

ASKARA - Di tengah euforia makanan sehat yang menjadikan salmon sebagai simbol gaya hidup modern, ternyata ada harta karun tersembunyi di laut Nusantara: ikan bandeng. Tak banyak yang tahu, bandeng menyimpan kejutan nutrisi yang bahkan mengalahkan salmon. Fakta ini bukan hanya angka statistik, ini adalah cerminan dari betapa kayanya laut Indonesia yang kerap kita lupakan.

Berdasarkan riset Balai Pengembangan dan Penelitian Mutu Perikanan (1996), kandungan omega-3 pada ikan bandeng mencapai 14,2 persen, sedangkan salmon hanya 2,6 persen. Temuan ini menggugah logika publik: apakah selama ini kita terlalu silau pada label “impor”? Padahal bandeng ebih bernutrisi, lebih murah, dan mudah didapat. 

Itulah alasan mengapa Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, menyebut bandeng sebagai "ikan strategis nasional". Ia mengajak masyarakat untuk membuka mata pada fakta mengejutkan: ikan bandeng lokal memiliki kandungan omega-3 yang jauh lebih tinggi daripada salmon.

“Kenapa harus bangga pada salmon, padahal bandeng kita lebih bernutrisi dan lebih relevan untuk masa depan bangsa?” tegas Prof. Rokhmin yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas UMMI Bogor, dikutip Rabu (16/7).

Lebih dari sekadar sumber pangan, menurutnya, bandeng adalah kunci bagi kesehatan masyarakat dan kecerdasan generasi Indonesia. Kandungan proteinnya tinggi, mudah dicerna, dan cocok untuk semua usia dari balita hingga lansia.

Di tengah tantangan stunting yang masih mengancam anak-anak Indonesia, bandeng hadir sebagai solusi konkret dari alam kita sendiri. Sudah saatnya kita berhenti memuja yang jauh, dan mulai bangga terhadap yang dekat—yang tumbuh dan hidup di laut kita sendiri.

Melawan Stunting Lewat Bandeng

Prof. Rokhmin Dahuri menyebut bandeng sebagai “ikan strategis nasional”. Selain bernutrisi tinggi, ikan ini mudah dibudidayakan di berbagai wilayah Indonesia. "Gizi ikan berdampak pada kesehatan dan kecerdasan bangsa. Gemar makan ikan lokal seperti bandeng bisa jadi kunci melawan stunting dan menciptakan generasi emas Indonesia," tegasnya.

Dengan harga terjangkau, tinggi protein, mudah dicerna, dan cocok untuk segala usia, bandeng tidak layak dianggap sebagai alternatif, ia adalah jawaban. “Salmon bisa jadi tren global, tapi bandeng adalah jati diri dan kekuatan pangan bangsa. Mari kita banggakan dan konsumsi produk laut kita sendiri,” tegas Menteri Kelautan dan Perikanan 2001 - 2004 itu.

Mengapa Prof. Rokhmin Dahuri Menganjurkan Makan Ikan Bandeng?

Prof. Rokhmin Dahuri secara konsisten mendukung dan menggalakkan "Gerakan Gemar Makan Ikan" (Gemarikan) sebagai upaya penting untuk meningkatkan konsumsi ikan di Indonesia, termasuk potensi ikan bandeng yang tinggi nutrisi. Gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan konsumsi ikan, mengurangi stunting, dan mengatasi gizi buruk, serta menekankan manfaat kesehatan dan kemudahan akses ikan. 

"Gerakan gemar makan ikan juga dalam rangka meningkatkan konsumsi ikan serta percepatan penurunan stunting maupun gizi buruk. Dalam kegiatan ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan bantuan kepada masyarakat,” tambah tokoh Cirebon asal Desa Gebang yang keilmuannya diakui secara nasional hingga internasional.

Guru Besar bidang Kelautan dan Perikanan IPB University itu menekankan manfaat konsumsi ikan, termasuk ikan bandeng, bagi kesehatan dan kecerdasan, serta upaya pencegahan stunting dan gizi buruk. Ia  mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bangga dengan ikan bandeng. “Kita punya kekayaan yang luar biasa. Jangan silau dengan ikan impor. Mari kita makan bandeng Indonesia!” serunya.

Ikan bandeng sendiri memiliki banyak manfaat kesehatan seperti sumber protein mudah cerna, omega-3 untuk tulang dan sendi, serta kalsium dan fosfor untuk kesehatan tulang. 

Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu menganjurkan makan ikan bandeng karena ia melihatnya sebagai komoditas strategis nasional yang kaya gizi, mudah diakses, dan sangat relevan untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat seperti stunting dan gizi buruk. Berikut alasan-alasan utamanya:

1. Kandungan Nutrisi yang Unggul: Bandeng mengandung omega-3 hingga 14,2%, jauh lebih tinggi dibandingkan salmon yang hanya 2,6%. Kaya akan protein, kalsium, fosfor, dan vitamin B12, penting untuk pertumbuhan, kecerdasan, dan kesehatan tulang.

2. Kebanggaan Produk Lokal: Prof. Rokhmin menolak glorifikasi ikan impor seperti salmon dan mengajak masyarakat untuk bangga terhadap ikan bandeng Indonesia. Bandeng disebut sebagai “milkfish” karena teksturnya lembut seperti susu, dan dikenal luas di berbagai daerah seperti Makassar (ikan bolu).

3. Solusi Gizi dan Stunting: Gerakan Gemarikan yang ia galakkan bertujuan untuk meningkatkan konsumsi ikan sebagai strategi percepatan penurunan stunting dan gizi buruk. Ikan bandeng mudah didapat di daerah pesisir dan bisa diolah menjadi berbagai makanan bergizi seperti bandeng presto, sate bandeng, dan bandeng asap.

4. Potensi Budidaya yang Luas: Bandeng memiliki sifat euryhaline dan anadromous, sehingga bisa dibudidayakan di air asin, payau, maupun tawar. Budidaya bandeng menjadi sumber penghidupan penting bagi masyarakat pesisir dan bisa dilakukan secara polikultur bersama udang atau kepiting.

5. Efisiensi dan Ekonomi: Bandeng mudah diberi pakan komersial dan tidak membutuhkan biaya tinggi, menjadikannya komoditas ekonomis dan berkelanjutan.

"Bandeng bukan hanya sumber pangan, tetapi juga lambang kearifan lokal dan ketahanan pangan nasional," tuturnya.

Lambang Kearifan Lokal

Bandeng, yang dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai milkfish karena dagingnya lembut seperti susu, merupakan salah satu komoditas perikanan yang paling populer di Indonesia. Ikan ini dikenal dengan cita rasa gurih, tekstur yang lembut, dan harga yang terjangkau. Di Makassar, bandeng bahkan punya sebutan khas: ikan bolu.

Bandeng juga berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung, meningkatkan fungsi otak, dan mencegah penyakit kronis seperti stroke dan kanker.

Bandeng unggul dalam Omega-3, kalsium, dan zinc, menjadikannya pilihan lokal yang sangat baik untuk kesehatan otak, tulang, dan sistem imun. Bandeng juga lebih rendah kalori dan lemak jenuh, sehingga ideal untuk diet sehat dan anak-anak. Salmon lebih tinggi vitamin D dan lemak sehat, cocok untuk kebutuhan energi dan metabolisme.

Bandeng bukan sekadar komoditas pangan, tetapi juga lambang kearifan lokal yang menyatukan rasa, tradisi, dan ekonomi masyarakat pesisir Indonesia. Dengan terus mengembangkan inovasi pengolahan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat bandeng, diharapkan ikan ini bisa benar-benar menjadi ikon kebanggaan bangsa.

Namun, tantangan dalam mengonsumsi ikan bandeng adalah banyaknya duri halus yang membuatnya butuh pengolahan khusus. Untungnya, inovasi pangan Indonesia telah menghasilkan beragam olahan populer dari ikan ini, seperti bandeng asap, bandeng presto, dan sate bandeng yang lezat.

Keistimewaan Bandeng

Menurut catatan sejarah, ikan bandeng pertama kali ditemukan oleh Dane Forskall di Laut Merah pada 1925. Kini, bandeng ditemukan hampir di seluruh dunia, mulai dari Samudra Hindia, Pantai Amerika, Afrika, Jepang bagian selatan, hingga Australia utara. Ikan ini termasuk dalam spesies Chanos chanos, dari famili Chanidae.

Salah satu keistimewaan bandeng adalah sifat euryhaline yang memungkinkan ikan ini bertahan di air dengan kadar garam yang bervariasi, mulai dari 0 hingga 45 ppt. Dalam budidaya, bandeng tumbuh optimal pada salinitas 15–25 ppt dengan suhu air 12–40°C. Kemampuan adaptasi yang luar biasa ini menjadikannya primadona bagi masyarakat pesisir karena bisa dibudidayakan di perairan asin, payau, hingga tawar.

Selain itu, bandeng juga memiliki sifat anadromous, yaitu bermigrasi dari laut untuk memijah, kemudian kembali ke perairan payau untuk tumbuh besar. Benih bandeng (nener) biasanya hidup di air asin hingga berusia 2–3 tahun, lalu bermigrasi ke perairan yang lebih tenang dan payau.

Budidaya bandeng pun menjadi sumber penghidupan penting bagi masyarakat pesisir. Dengan memanfaatkan sifat adaptif bandeng terhadap berbagai kondisi air, lahan-lahan yang kurang produktif pun bisa dimanfaatkan untuk tambak bandeng. 

Selain itu, bandeng yang herbivora dapat dibudidayakan secara polikultur bersama udang atau kepiting, sehingga meningkatkan keuntungan petani tambak. Bandeng juga relatif mudah diberi pakan komersial, sehingga tidak membutuhkan biaya tinggi. Dengan segala keunggulan tersebut kaya nutrisi, mudah dibudidayakan, murah, dan bernilai ekonomi.

Komentar