Minggu, 07 Juni 2026 | 19:54
Editorial

Mereka Dibom, Dunia Diam, Kita Sibuk

Mereka Dibom, Dunia Diam, Kita Sibuk

ASKARA -:Ketika warga Gaza dibom saat mengantri bantuan, tidur, hingga beribadah, dunia justru lebih sibuk menghitung jumlah likes, berdebat siapa yang trending, atau sibuk memoles citra diri di panggung diplomasi. Kekejian yang dipertontonkan di layar kaca bagai tontonan sinetron murahan, sementara nurani kolektif kita seolah sudah kehilangan kode etik kemanusiaan.

Pernahkah kita membayangkan dunia yang berdenyut hanya dalam hitungan detik bom?

Di Gaza, manusia tak lagi punya hak menentukan di mana dan kapan mereka bernafas tenang. Mereka bisa dibom saat mengantri bantuan yang entah datang atau tidak. Dibom ketika rawat inap di rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat aman terakhir. Dibom saat evakuasi—bahkan kata "evakuasi" yang mestinya menyiratkan perlindungan berubah menjadi lelucon pahit.

Kita, di luar sana, menyesap kopi sambil memilih filter Instagram, membahas diskon flash sale, atau menagih gaji yang belum turun. Di Gaza, orang-orang hanya menagih satu hal: nyawa yang selamat.

Mereka dibom di tenda pengungsian, padahal baru saja merasakan euforia semu kebebasan setelah keluar dari penjara Israel. Lucu, bukan? Bebas dari jeruji besi hanya untuk masuk ke liang kubur yang disediakan gratis oleh roket. Sebuah ironi yang bahkan Kafka tak sanggup menulis ulang.

Di saat kita ribut soal "healing" ke Bali atau Korea, mereka dibom saat sedang tidur. Tidur yang bagi kita adalah mewah dan penuh bunga mimpi, bagi mereka adalah kemungkinan tidur terakhir.

Nelayan di Gaza pun dibom saat melaut. Laut yang seharusnya menjadi ruang bebas, menjadi arena pembantaian. Laut yang biru menjadi merah, penuh serpihan mimpi dan serpihan tubuh.

Dibom saat beribadah? Mungkin Tuhan pun menangis. Ketika bumi dijanjikan sebagai tempat aman berdoa, di Gaza doa justru menjadi latar dentuman rudal.

Pergi ke pasar bukan lagi tentang harga cabai atau tomat. Di Gaza, pergi ke pasar sama saja seperti mendatangi altar eksekusi.

Anak-anak yang seharusnya berlarian di gang sempit sambil tertawa, kini dibom saat bermain. Dunia mana yang tega menodai tawa anak-anak menjadi jerit terakhir?

Sementara itu, kita di sini sibuk bertengkar siapa yang lebih islami, siapa yang lebih nasionalis, siapa yang layak tampil di layar TV. Para penguasa menulis naskah kecaman sambil menyeruput teh, menunggu panggilan makan malam dengan kolega, dan mengukur popularitas di kotak polling.

Lembaga internasional sibuk merumuskan "resolusi". Resolusi yang tak lebih dari dokumen dengan kalimat pasif, huruf tebal, dan tanda tangan yang tak pernah menyelamatkan satu nyawa pun. Resolusi yang pada akhirnya diarsipkan rapi di laci diplomasi, untuk kemudian dijadikan bukti 'kepedulian' saat konferensi pers.

Dunia, dengan sinis, menatap Gaza seperti reality show. Kita menunggu siapa yang selamat, siapa yang selanjutnya masuk headline. Seolah penderitaan mereka hanya satu babak dalam drama panjang, di mana penonton bisa bebas memilih: "like", "share", atau skip.

Ada yang bilang, "Konflik ini rumit." Padahal yang rumit hanyalah cara kita menutupi kemunafikan bersama. Kemanusiaan tidak pernah serumit ini. Anak-anak yang mati tidak membutuhkan resolusi, mereka hanya butuh kita berhenti pura-pura peduli.

Lantas, sampai kapan kita terus menulis doa di caption, berujar "pray for Gaza" sambil tetap asyik dengan FYP TikTok? Sampai kapan kita berpikir bahwa kematian massal hanyalah statistik, bukan tragedi yang mengikis martabat kita sebagai manusia?

Mereka dibom saat antri bantuan, kita antri promo skincare.
Mereka dibom saat tidur, kita tidur dengan nyenyak ditemani AC.
Mereka dibom saat berlayar, kita berlayar di linimasa mencari likes.
Mereka dibom saat bermain, kita bermain tebak-tebakan politik murahan.

Kesinisan ini bukan sekadar sindiran. Ini adalah cambuk keras untuk nurani kita yang sudah terlalu nyaman. Kita sudah lama mati rasa, seperti patung lilin yang hanya bisa mematung tanpa pernah benar-benar mengulurkan tangan.

Gaza tidak butuh air mata palsu di status WhatsApp. Mereka butuh keadilan, kebebasan, dan hak asasi yang kita klaim selalu kita junjung tinggi. Ironis, saat kita gembar-gembor soal kebebasan pers, kebebasan berekspresi, tetapi bisu saat menyaksikan anak-anak Palestina merangkak di bawah puing, mencari ibunya yang sudah dingin.

Akhirnya, kita pun kembali pada rutinitas. Kantor, meeting, drama media sosial, kopi kekinian, sambil menunggu notifikasi yang berbunyi: "Another bombing in Gaza."

Seakan itu hanya reminder harian, sama pentingnya seperti promo gratis ongkir.

Selamat, kita telah menjadi penonton paling setia dari horor kemanusiaan terpanjang di abad ini. Kita menonton, bertepuk tangan, lalu tidur nyenyak.

Gaza, maafkan kami yang terlalu pandai beretorika.

Kami terlalu pintar menciptakan kalimat solidaritas, tapi terlalu malas bergerak.

Kami terlalu gemar merangkai puisi duka, tapi lupa bahwa kalian tak butuh puisi kalian butuh perdamaian.

Dan akhirnya, sejarah akan mencatat: mereka dibom saat menunggu keajaiban, kita dibom oleh kelumpuhan nurani sendiri. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar