Kamis, 04 Juni 2026 | 04:51
COMMUNITY

Parodi Nobel Perdamaian di Tangan Para Badut

Parodi Nobel Perdamaian di Tangan Para Badut
Ilustrasi (ChatGPT)

ASKARA - Menggembirakan atau memuakkan Dunia internasional tiba-tiba dibuat terpana atau lebih tepatnya terbahak getir ketika Benjamin Netanyahu pemimpin Israel yang lebih sering tampil bak sutradara tragedi Timur Tengah menominasikan Donald Trump sebagai calon penerima Nobel Perdamaian. Penghargaan yang konon sakral itu kini berubah jadi panggung satire kolosal abad 21.

Konon Nobel Perdamaian lahir dari idealisme meneguhkan semangat menghentikan perang merawat dialog menyirami keadilan. Namun hari ini standar moral itu terjerembab di selokan diplomasi murahan. Alih-alih memperjuangkan perdamaian Trump justru menanam bom retorik dan literal mewariskan konflik serta mempermainkan nasib rakyat di berbagai belahan bumi. Dari Palestina hingga Iran dari kebijakan pengeboman hingga embargo brutal rekam jejak Trump ibarat daftar panjang dosa geopolitik.

Netanyahu tentu bukan orang suci. Ia hanya sedang memainkan kartu lama memanfaatkan ego Trump demi keuntungan domestik dan politik. Taktik mengelus dada seorang narsis demi meraih simpati atau sekadar barter citra. Apa bedanya dengan badut sirkus yang memuji ring master agar tetap dipertahankan di arena Ironis memang. Tapi publik sudah kebal dengan panggung pura-pura.

Lebih lucu lagi di balik puja-puji itu Gandhi tetap diabaikan. Sosok yang rela lapar demi keadilan menolak kekerasan dan menenun sejarah dengan benang damai tetap dijauhkan dari mimbar penghargaan yang katanya menghargai perdamaian. Barangkali Gandhi tidak cukup sensasional untuk era viral tidak cukup clickbait atau tak punya buzzer politik global.

Apa sebenarnya esensi perdamaian yang diharapkan Bukan parade peluru karet atau drone pembunuh bukan pula tembok rasis yang memisahkan manusia berdasarkan keyakinan dan warna kulit. Perdamaian bukan diukur dari seberapa banyak konferensi yang diadakan di hotel mewah sambil makan canape. Perdamaian adalah menekan ego mengakui hak orang lain dan menuntun hati untuk menerima perbedaan.

Jika Trump dengan segala sejarah agresinya bisa dipertimbangkan untuk Nobel maka syarat penerima sudah jatuh ke titik nadir. Kriteria menjadi sekadar siapa yang paling vokal siapa yang paling banyak difoto dan siapa yang bisa membeli narasi media.

Netanyahu dan Trump hari ini mungkin berpikir mereka sedang menulis lelucon abadi tetapi mereka lupa sejarah tak pernah lupa mencatat para pemain drama dengan tinta satire. Dunia melihat publik tertawa getir dan masa depan hanya bisa berdoa agar perdamaian tidak benar-benar mati di ruang rapat para politisi.

Humor ini adalah humor paling gelap menjadikan darah dan air mata rakyat sebagai latar panggung sambil menaburkan kembang ucapan selamat seolah semuanya baik-baik saja. Inilah tragedi yang disamarkan sebagai pesta tepuk tangan.

Mungkin di masa depan kita akan menyaksikan bom cluster diberi pita emas dan rudal diberi label pembawa damai. Atau mungkin panggung perdamaian internasional akan benar-benar berubah menjadi ajang kontes popularitas tokoh-tokoh yang fasih bersandiwara.

Maka selamat kepada Trump atas nominasi yang sungguh membanggakan jika membanggakan berarti mengkhianati makna damai dan merayakan hipokrisi di siang bolong.

Dan selamat juga untuk kita semua saksi hidup lelucon paling getir yang pernah dilontarkan di abad ini. Sebuah nominasi yang bukan hanya menampar akal sehat tapi juga menampar nurani umat manusia.

Biar bagaimanapun dunia ini memang panggung sarkas dan kita cuma penonton yang sesekali dipaksa tertawa di tengah kabut air mata. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar