Memperingati Hari Zoonosis Sedunia: Penyakit Berbahaya yang Dapat Dicegah
Oleh: Rheza Maulana, S.T., M.Si.
ASKARA - Pada 6 Juli 2025, dunia kesehatan memperingati Hari Zoonosis Sedunia. Tapi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan zoonosis? Mengapa penyakit ini begitu penting hingga perlu diperingati secara khusus?
Apa Itu Zoonosis?
Menurut definisi dari World Health Organization (2020), zoonosis adalah penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Penularannya bisa melalui virus, bakteri, parasit, dan berbagai agen infeksius lainnya. Diperkirakan sekitar 60% dari penyakit menular di dunia bersifat zoonosis. Beberapa penyakit yang sudah akrab di telinga kita—seperti rabies, leptospirosis, flu burung, hingga HIV—merupakan contoh penyakit zoonotik.
Yang mengkhawatirkan, zoonosis tidak hanya menular dari hewan ke manusia, tetapi juga dapat menyebar antarmanusia. Contoh nyata adalah pandemi COVID-19 yang diduga berasal dari konsumsi satwa liar seperti kelelawar. Karena itu, memahami zoonosis penting agar kita bisa mencegah krisis kesehatan serupa di masa depan.
Satwa Liar dan Risiko Penularan
Sebelum membahas lebih jauh tentang pencegahan, mari kita mengenali dulu pelaku utama penyebaran zoonosis, yaitu hewan. Terdapat tiga kelompok utama hewan dalam konteks ini: satwa liar, hewan peliharaan, dan hewan ternak.
Satwa liar adalah hewan yang hidup bebas di alam seperti monyet, kera, kelelawar, dan burung. Mereka tidak terbiasa berinteraksi dengan manusia. Selama mereka hidup di habitat alaminya, potensi penularan penyakit ke manusia relatif kecil karena "tersegel" secara alami oleh batas ekosistem.
Masalah muncul ketika kita membuka “segel” itu—melalui aktivitas perambahan hutan, perburuan, atau perdagangan satwa liar. Ketika satwa liar dipaksa berada dekat manusia, potensi munculnya penyakit baru yang belum dikenal (disebut emerging infectious diseases atau EID) menjadi sangat tinggi. Maka, menjaga kelestarian habitat satwa liar juga berarti menjaga kesehatan manusia.
Hewan Peliharaan: Tetap Waspada
Anjing dan kucing merupakan contoh hewan peliharaan yang telah mengalami proses domestikasi selama ribuan tahun. Meski begitu, mereka tetap bisa menjadi sumber zoonosis, terutama jika berkontak dengan hewan liar pembawa penyakit seperti kelelawar atau tikus.
Oleh karena itu, pemilik hewan peliharaan harus bertanggung jawab: rutin memvaksinasi, menjaga kebersihan, dan membawa hewan ke dokter secara berkala. Jika terjadi gigitan atau cakaran dari hewan, segera bersihkan luka dengan air mengalir dan sabun, lalu periksakan ke dokter.
Hewan Ternak dan Konsumsi Sehat
Hewan ternak seperti sapi, kambing, domba, babi, dan ayam telah lama didomestikasi untuk dikonsumsi manusia. Tapi bukan berarti tanpa risiko. Penting untuk memastikan hewan ternak berasal dari peternakan yang sehat dan memenuhi standar kesejahteraan hewan. Kandang yang kotor dan tidak higienis dapat menjadi sumber penyakit menular.
Selain itu, kita juga harus cermat memilih jenis hewan yang dikonsumsi. Jangan pernah mengonsumsi satwa liar atau hewan peliharaan seperti anjing dan kucing. Konsumsi hanya produk hewani dari hewan ternak yang dipelihara secara layak dan sehat.
Kesimpulan: Peran Kita Bersama
Zoonosis adalah ancaman nyata, tapi bisa dicegah. Kita semua bisa berperan:
Hindari kontak langsung dengan satwa liar.
Jangan memelihara satwa liar di lingkungan manusia.
Jaga kesehatan hewan peliharaan.
Konsumsi produk hewani dari sumber terpercaya.
Dukung perlindungan dan pelestarian lingkungan.
Pencegahan zoonosis bukan hanya tanggung jawab dokter atau pemerintah. Kita sebagai masyarakat pun punya peran penting. Dengan kesadaran dan tindakan kolektif, kita bisa menciptakan masa depan yang lebih sehat bagi semua.
---
Tentang Penulis
Rheza Maulana, S.T., M.Si. adalah peneliti dan aktivis lingkungan. Ia meraih gelar Magister Ilmu Lingkungan dari Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia dan aktif dalam edukasi isu kesehatan ekosistem dan keberlanjutan lingkungan.

Komentar