Selasa, 21 Juli 2026 | 06:32
NEWS

Jakarta dalam Warna, Pramono Anung Kukuhkan Budaya Betawi sebagai Wajah Ibu Kota

Jakarta dalam Warna, Pramono Anung Kukuhkan Budaya Betawi sebagai Wajah Ibu Kota
Pembukaan Jakarta Dalam Warna Tahun 2025 di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (6/7/2025). (YouTube/Pemprov DKI Jakarta)

ASKARA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggelar pertunjukan kolosal bertajuk "Jakarta dalam Warna" di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Minggu (6/7/2025). Acara ini menjadi momentum penegasan bahwa wajah Jakarta tak bisa dilepaskan dari budaya Betawi yang menjadi akar identitasnya.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam sambutannya menyatakan bahwa budaya Betawi bukan hanya sebatas seremoni atau perayaan musiman, melainkan harus hidup dan tertanam dalam keseharian masyarakat Jakarta.

"Wajah Betawi bukan hanya untuk perayaan, tetapi memang ada di dalam masyarakat Jakarta," ujar Pramono di hadapan ribuan warga yang memadati Bundaran HI.

Sebagai bentuk konkret, Pramono menyebut telah mewajibkan penggunaan busana Betawi, seperti baju ujung serong, dalam berbagai agenda resmi, termasuk pelantikan pejabat. Langkah ini, menurutnya, menjadi simbol bahwa nilai budaya tidak hanya dikampanyekan, tapi juga dijalankan secara nyata di birokrasi.

Pemprov DKI juga berkomitmen menggelar berbagai agenda kebudayaan secara berkelanjutan. Dalam waktu dekat, Jakarta akan kembali dihiasi acara seni budaya sepanjang bulan Agustus mendatang.

"Saya ingin masyarakat Jakarta betul-betul bisa menikmati budayanya, akar yang ada di masyarakatnya. Dan yang paling penting adalah menjaga Jakarta untuk tetap aman dan nyaman," kata Pramono.

Dalam acara tersebut, Pemprov DKI Jakarta juga menerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas rekor pertunjukan kolosal budaya dengan 5.000 pesilat dan 2.000 penari yang tampil memukau di kawasan ikonik ibu kota.

Lebih jauh, Pramono menegaskan bahwa semangat Jakarta dalam Warna juga mencerminkan keberagaman masyarakat ibu kota—tak hanya bagi warga asli Betawi, tapi juga pendatang dan para pekerja yang hilir-mudik dari wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

"Warna merah, biru, kuning, hijau—semuanya punya harapan hidup lebih baik di Jakarta. Maka kita juga terus memperbaiki sistem transportasi seperti Transjabodetabek, agar warga dari luar Jakarta pun merasa diperhatikan," pungkasnya.

 

 

Komentar