Kamis, 04 Juni 2026 | 09:19
COMMUNITY

Warga Bergas Diajari Atasi Nyeri Tangan

Warga Bergas Diajari Atasi Nyeri Tangan
Acara edukasi kesehatan di Lodji Londo Semarang (ist)

ASKARA - Sabtu, 5 Juli 2025, suasana akrab dan penuh antusiasme mewarnai kegiatan edukasi kesehatan di Lodji Londo, Kelurahan Bergas Lor, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Sebanyak 40 pasien penderita diabetes dan hipertensi berkumpul bersama dr. Yetty Rohaety, membahas tuntas cara mengenali dan menangani Carpal Tunnel Syndrome (CTS) dengan aman.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis), yang rutin digelar untuk mendukung pasien dalam merawat kesehatannya secara mandiri. CTS atau sindrom lorong karpal, kerap muncul pada penderita hipertensi, ditandai dengan nyeri, kesemutan, hingga kelemahan saat menggenggam. Banyak pasien belum menyadari risiko ini hingga kondisinya makin parah.

Selain teori, dr. Yetty juga memandu langsung cara melakukan pijat refleksi sederhana pada tangan hingga punggung. Teknik pijat ini membantu melancarkan peredaran darah, melemaskan otot, dan mengurangi tekanan pada saraf medianus yang terjepit. Peserta tampak antusias mempraktikkannya satu per satu, sambil saling bertanya dan berbagi pengalaman.

Pada kesempatan itu, dr. Yetty juga menekankan pentingnya pemilihan obat yang aman untuk penderita hipertensi dan gastritis. Parasetamol (acetaminophen) direkomendasikan sebagai obat pereda nyeri utama karena relatif aman terhadap tekanan darah dan lambung. Obat topikal seperti Voltaren Gel atau krim capsaicin juga menjadi pilihan aman untuk mengurangi rasa sakit tanpa efek samping signifikan.

Sementara itu, vitamin B kompleks (B1, B6, B12) seperti Neurobion atau Becom-Zet disebut bermanfaat menjaga kesehatan saraf dan dapat dikonsumsi dalam jangka menengah. Pasien diimbau berhati-hati terhadap obat antiinflamasi non-steroid (NSAID) oral, seperti ibuprofen atau asam mefenamat, karena berisiko menaikkan tekanan darah serta mengiritasi lambung.

Selain obat, pasien juga dianjurkan melakukan perawatan non-obat, seperti menggunakan splint pergelangan tangan saat tidur, mengurangi aktivitas berulang (seperti mengetik atau mengangkat berat), serta rutin melakukan peregangan saraf medianus. Fisioterapi dan akupunktur juga bisa menjadi alternatif tambahan jika keluhan nyeri tak kunjung membaik.

Peserta juga diberikan penjelasan tentang kapan harus segera memeriksakan diri ke dokter. Gejala seperti nyeri menetap lebih dari dua minggu, kelemahan jari, atau mati rasa berkepanjangan memerlukan evaluasi lanjutan, termasuk pemeriksaan elektromiografi (EMG).

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab yang hangat dan senam refleksi bersama. Gerakan ringan tersebut membantu melemaskan tubuh, memperbaiki sirkulasi darah, serta mempererat kebersamaan para peserta.

Melalui kegiatan ini, diharapkan pasien tidak hanya memahami CTS secara teori, tetapi juga terampil menerapkan perawatan mandiri di rumah. Edukasi menyeluruh ini menjadi langkah penting agar pasien tetap aktif, mandiri, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik meskipun menghadapi penyakit kronis.(Dwi Taufan Hidayat)

Komentar