Minggu, 07 Juni 2026 | 23:25
OPINI

Pendaki FOMO: Ketika Gunung Jadi Ajang Eksistensi

Pendaki FOMO: Ketika Gunung Jadi Ajang Eksistensi
Anggota Elpala SMA 68 di puncak Gunung Elbrus Rusia (Dok Askara)

Oleh: Made Surya Putra

ASKARA - Sudah cukup lama saya mendengar istilah FOMO, tanpa benar-benar memahami artinya. Kejadian tragis yang dialami Juliana di Gunung Rinjani, dan bagaimana istilah ini banyak muncul di berbagai media, akhirnya membuat saya penasaran. Saya mulai mencari tahu makna FOMO dan hubungannya dengan dunia pendakian.

Dan saya kaget…

Ternyata istilah ini dengan sangat tepat menjelaskan perubahan situasi yang saya rasakan di dunia pendakian dalam beberapa tahun terakhir.

Saya mulai mengenal gunung sejak akhir tahun 80-an, mendaki puncak-puncak setinggi 1.500 meter di atas permukaan laut. Di awal 90-an, saya mulai menyentuh ketinggian 3.000-an meter, dan di usia 40-an, saya mencoba gunung-gunung setinggi 5.000 hingga 6.000 meter. Ada rentang waktu sekitar 20 tahun saya absen dari dunia pendakian, sibuk dengan pekerjaan dan membiayai kebutuhan keluarga.

Dulu, bagi saya, gunung adalah tempat ideal untuk kontemplasi. Mendaki adalah cara seorang perenung kehidupan berkomunikasi dengan langit dan bumi. Alam adalah guru yang mengajarkan kerendahan hati dan kesadaran akan keterbatasan diri.

Namun, situasi kini sangat berbeda. Gunung terasa riuh, tak lagi sekadar tempat hening yang memanggil jiwa-jiwa pencinta alam. Rupanya, inilah salah satu dampak dari kehadiran Pendaki FOMO.

Siapa itu Pendaki FOMO?

FOMO atau Fear of Missing Out adalah istilah yang menggambarkan kecemasan seseorang akan tertinggal tren atau momen yang sedang viral. Dalam konteks pendakian, Pendaki FOMO adalah mereka yang mendaki bukan karena kecintaan pada alam, melainkan demi terlihat keren dan mendapatkan validasi sosial, terutama di media sosial.

Tekanan untuk pamer di dunia maya membuat perilaku Pendaki FOMO kerap dianggap aneh dan tak sejalan dengan etika pendakian. Motivasi mereka bergeser dari menikmati dan menghormati alam menjadi sekadar “ikut-ikutan”, agar tak ketinggalan cerita atau foto di linimasa.

Ciri-Ciri Pendaki FOMO

Sejak di basecamp, mereka mudah dikenali. Sibuk memotret diri dengan ponsel, sementara hal-hal esensial seperti memeriksa perlengkapan pendakian justru terabaikan. Mereka kerap mengabaikan batas kemampuan fisik, mental, dan ketahanan alat.

Sepanjang jalur pendakian, perilaku mereka pun sering mengganggu. Ada yang nekat berpose di tepi jurang demi foto eksklusif, menghalangi jalur pendaki lain hanya untuk mencari sudut gambar tertentu, hingga memaksakan diri mencapai spot foto yang diinginkan, meski situasinya berbahaya.

Ironisnya, foto-foto mereka di media sosial sering menuai pujian. Inilah yang memicu kesan keliru, seolah-olah mendaki gunung itu mudah dan bisa dilakukan tanpa persiapan matang. Padahal, di balik foto-foto itu tersembunyi risiko besar, bahkan ancaman kematian.

Realita Risiko yang Dilupakan

Awal tahun 90-an, saya mengikuti pelatihan Search and Rescue (SAR) darat dan laut. Satu hal penting yang selalu ditanamkan adalah kesadaran akan risiko dalam kegiatan alam bebas.

Risiko itu terbagi dua:

Risiko Subjektif (Internal): Berkaitan dengan pengetahuan, sikap mental, kesiapan fisik, perilaku, hingga kepemilikan dan kemampuan menggunakan alat.

Risiko Objektif (Eksternal): Faktor alam yang tak bisa diprediksi, seperti cuaca, suhu, ketinggian, medan, atau ancaman binatang buas.


Kedua risiko itu hanya bisa diminimalkan dengan perencanaan matang dan pengetahuan memadai. Inilah yang membedakan pendaki senior dari pendaki pemula, apalagi yang bermental FOMO. Pendaki senior tak ragu menunda atau membatalkan pendakian jika persiapan tidak memenuhi standar keselamatan. Sebaliknya, Pendaki FOMO mengabaikan semua itu, demi konten semata.

Gunung Bukan Taman Bermain

Pendakian bukan soal perasaan. Harus ada logika, perhitungan, dan kedewasaan dalam setiap langkah. Sayangnya, Pendaki FOMO terjebak dalam euforia emosional yang membuat mereka abai pada hal-hal esensial. Di gunung, keputusan yang diambil secara emosional adalah pintu menuju bencana.

Setiap pendaki seharusnya memahami bahwa gunung bukan taman bermain, bukan ajang eksistensi di dunia maya. Butuh pengetahuan, persiapan, latihan, dan pengalaman untuk menjaga keselamatan bersama. Di ketinggian, saat oksigen menipis, suhu menggigit, dan angin menerpa, ancaman seperti hipotermia atau hipoksia bisa menghampiri siapa saja. Satu kecerobohan bisa berdampak fatal, bukan hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi tim penyelamat.

Mari Kembalikan Esensi Pendakian

Sikap mental FOMO telah membuat pendakian menjadi ajang pamer yang berbahaya. Mendaki adalah tentang menghormati alam, memahami batas kemampuan diri, dan kesiapan menghadapi segala kemungkinan.

Tren Pendaki FOMO ini harus dikelola, ditekan, bahkan diluruskan. Jangan sampai gunung-gunung kita terus menjadi panggung eksistensi yang menelan korban demi sekeping foto dan segenggam pujian semu di dunia maya.

 

Komentar