Tragedi Rumah Singgah Sukabumi: Anak-Anak Trauma, Politisi Gerindra: Ini Aksi Biadab!
ASKARA - Peristiwa intoleransi kembali mencoreng wajah kerukunan di Sukabumi, Jawa Barat. Sebuah rumah singgah milik Maria Veronica Ninna di Kampung Tangkil, RT 04/01, Desa Tangkil, Kecamatan Cidahu, menjadi sasaran perusakan brutal oleh ratusan warga, Jumat (27/6/2025). Aksi ini dipicu dugaan bahwa bangunan tersebut digunakan sebagai tempat ibadah umat Kristiani tanpa izin resmi.
Dalam rekaman video yang viral di media sosial, tampak massa bertindak anarkis. Jendela dipecahkan, taman dan gazebo dirusak, sepeda motor didorong ke sungai, hingga mobil-mobil dirusak. Ironisnya, saat kejadian berlangsung, puluhan anak-anak tengah mengikuti kegiatan retret di dalam rumah singgah tersebut. Peristiwa ini tak hanya merusak bangunan, tetapi juga menimbulkan trauma mendalam bagi para anak-anak yang ketakutan menyaksikan aksi kekerasan tersebut.
Kepala Seksi Humas Polres Sukabumi, Iptu Aah Saifulrohman, menegaskan bahwa bangunan tersebut bukanlah tempat ibadah resmi, melainkan rumah singgah yang oleh sebagian warga dicurigai sebagai lokasi kegiatan keagamaan. Namun, dugaan itu tidak dapat dijadikan alasan untuk tindakan main hakim sendiri.
Politisi Partai Gerindra Jawa Barat, Jenni Retno Vincentia, mengecam keras aksi perusakan tersebut dan menilai insiden ini sebagai bentuk nyata intoleransi yang tidak boleh ditoleransi. "Perilaku seperti ini tidak bisa dibenarkan! Jangan sembunyikan tindakan brutal di balik dalih ketertiban sosial atau perizinan. Ini jelas-jelas intoleransi," tegas Jenni, Senin (30/6).
Lebih lanjut, Jenni menyoroti dampak psikologis yang dialami anak-anak akibat peristiwa tersebut. "Mereka bukan hanya melihat fasilitas dirusak, mereka mengalami ketakutan luar biasa. Anak-anak yang seharusnya mendapat pendidikan karakter justru diteror. Ini bukan hanya soal bangunan, ini soal masa depan mental generasi kita," ujarnya.
Jenni mengingatkan bahwa kegiatan keagamaan, apapun agamanya, adalah bagian dari hak warga negara yang dijamin konstitusi. "Jika ini dibiarkan, jangan salahkan jika ke depan bangsa kita hancur oleh kebencian dan intoleransi. Kita harus tegas, tidak boleh ada ruang bagi aksi-aksi semacam ini di Indonesia," pungkasnya.

Komentar