Kamis, 04 Juni 2026 | 10:17
Ruang Menulis

Cerbung: Runtuhnya Cinta Amangkurat Seri 1: Bayang Takhta dan Darah

Cerbung: Runtuhnya Cinta Amangkurat Seri 1: Bayang Takhta dan Darah
Amangkurat I

Oleh: Dwi Taufan Hidayat 


ASKARA - Satu malam di Kartasura, langit seperti menggulung kemurkaan. Kilat menari di langit, bukan untuk menyalakan harapan, tapi menyambar jejak-jejak kemuliaan yang mulai membusuk di balik dinding keraton. Di sebuah ruangan penuh dupa dan kembang layu, Susuhunan Amangkurat I duduk mematung, menatap singgasana yang tidak lagi memancarkan cahaya kebesaran, melainkan pantulan wajahnya yang kusut oleh derita cinta dan kegilaan kuasa.

“Wahai langit, mengapa engkau hadirkan dia… untuk kemudian Kau rampas secepat bayangan fajar?” gumamnya lirih, mengarah pada potret seorang perempuan dalam bingkai ukiran kayu jati Ratu Malang, satu-satunya perempuan yang mampu membuat seorang raja lupa pada dunia, namun juga satu-satunya yang menyeretnya ke lembah kelam.

Darah cinta itu mengalir jauh ke masa silam, jauh sebelum istana ini jadi kuburan hidup. Ketika masih bergelar Raden Mas Sayidin, sang pangeran muda kerap menyelinap ke taman belakang istana, tempat para abdi dan dayang bermain sulam dan menganyam bunga. Di sanalah ia bertemu dengan Roro Kencono, gadis ningrat dari pesisir utara. Sorot matanya tajam namun jujur, senyumnya tak bisa ditebak antara malu dan marah. Itulah yang menambatkan hati Amangkurat.

Tapi cinta di kerajaan bukan milik perasaan. Ia milik intrik, darah, dan perhitungan. Ayahandanya, Sultan Agung, tak sudi putra mahkotanya mencintai anak dari keluarga yang tak berafiliasi kuat dengan politik istana. Roro Kencono dipaksa pergi, tapi Amangkurat bersumpah akan mencarinya kembali setelah menjadi raja.

Dan ia menepati sumpahnya. Setelah Sultan Agung wafat, dan tahta berpindah dengan darah saudara dan paman yang ia habisi demi kekuasaan yang mutlak, Amangkurat mencarinya. Roro Kencono ditemukan di pelosok Demak, hidup dalam sunyi. Ia dijadikan permaisuri, meski tanpa restu para bangsawan tinggi.

Namun apa daya, kebahagiaan di istana itu seperti anggrek liar indah tapi cepat layu dalam kekakuan protokol dan dendam masa lalu. Ratu Kencono sering murung, enggan menyentuh kekuasaan. Ia tahu dirinya hanya permaisuri dalam hati raja, tapi bukan permaisuri dalam tatanan kuasa. Ia hamil, dan tak lama setelah anaknya lahir, tubuhnya melemah. Beberapa abdi menduga diracun diam-diam oleh selir-selir lain yang merasa tergeser.

Kematian Ratu Malang, begitu rakyat menyebutnya, memicu badai yang tak ada presedennya. Dalam amarah dan kesedihan yang membakar, Amangkurat memerintahkan 43 selirnya dikurung dalam satu ruang bawah tanah, tanpa air, tanpa makanan. “Biarlah mereka mati perlahan, sebagaimana hatiku mati ketika Ratu Malang pergi,” katanya pada Patih Prabayaksa yang hanya bisa membungkuk tanpa suara.

Ruangan itu kini menjadi mitos di kalangan rakyat. Tak ada yang berani mendekat pada malam hari. Dari celah dinding yang ditutup bata dan kapur, kadang terdengar rintih dan suara lirih seperti doa yang tak sampai ke langit.

Sementara itu, jauh dari keraton, di kaki Gunung Merbabu, seorang pertapa tua bernama Ki Banyu membuka matanya dari meditasi panjang. Di hadapannya berdiri seorang pemuda berjubah lusuh, membawa tombak kecil yang terbungkus kain.

“Apakah saatnya, Ki?” tanya pemuda itu.

Ki Banyu hanya mengangguk. “Takhta yang dibangun dari darah, akan tumbang bukan oleh perang, tapi oleh cinta yang dikhianati.”

Pemuda itu membalas dengan senyum penuh luka. Di matanya, menyala dendam yang tak bisa ditenangkan oleh waktu. Ia adalah seseorang yang selama ini tak pernah dikenali di dalam istana, tapi punya garis darah yang sah. Dan kini, langkahnya menuju keraton tak bisa dihentikan.

Langit Kartasura mendung kembali. Tapi malam belum selesai berbicara.

(Bersambung ke seri selanjutnya, seri ke-2: Jeritan dari Bawah Tanah)

Komentar