Apa yang Diketahui tentang Serangan Udara AS terhadap Fasilitas Nuklir Iran
ASKARA - Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran pada Jumat malam, 21 Juni 2025 waktu setempat. Serangan itu diklaim oleh Presiden Donald Trump sebagai operasi militer yang “berhasil besar”, menyasar situs pengayaan uranium di Fordo, Natanz, dan Isfahan.
Dilansir BBC News, Trump mengonfirmasi serangan tersebut melalui platform Truth Social pada pukul 19.50 waktu Washington (Sabtu, 22 Juni pukul 06.50 WIB). Sekitar dua jam kemudian, ia menyampaikan pidato resmi yang disiarkan televisi, didampingi sejumlah pejabat tinggi pemerintahan. Dalam pidatonya, Trump menyatakan bahwa fasilitas-fasilitas tersebut “telah dihancurkan sepenuhnya”, dan memperingatkan akan adanya serangan lanjutan jika Iran tidak kembali ke jalur diplomasi.
Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa ketiga fasilitas tersebut terkena serangan, tetapi membantah bahwa kerusakan besar telah terjadi. Pejabat tinggi Iran menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan memperingatkan adanya konsekuensi jangka panjang.
Lokasi dan Senjata yang Digunakan
Salah satu target utama adalah Fordo, fasilitas pengayaan uranium yang terletak di lereng pegunungan di selatan Teheran. Fasilitas ini dikenal sangat sulit diakses karena berada jauh di bawah permukaan tanah—bahkan lebih dalam daripada Terowongan Channel yang menghubungkan Inggris dan Prancis.
Menurut laporan Pentagon dan sumber militer AS, senjata yang digunakan adalah bom penghancur bunker GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP), seberat 13.000 kg. Bom ini dirancang untuk menembus lebih dari 18 meter beton atau 60 meter tanah sebelum meledak. Serangan juga diarahkan ke dua lokasi lainnya: kompleks nuklir di Natanz dan Isfahan, yang selama ini diketahui menjadi pusat riset dan pengayaan uranium Iran.
Skala Kerusakan Masih Belum Jelas
Meskipun Presiden Trump menyatakan bahwa fasilitas-fasilitas nuklir telah "dihancurkan sepenuhnya", belum ada bukti independen yang menunjukkan tingkat kerusakan yang sesungguhnya. Lembaga nuklir Iran mengatakan bahwa sebagian besar bahan penting telah dipindahkan dari lokasi sebelum serangan, dan tidak ada kebocoran radiasi yang terdeteksi.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) turut mengonfirmasi tidak adanya peningkatan level radiasi di wilayah sekitar pasca-serangan. Meski begitu, Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi telah mengadakan rapat darurat dengan dewan gubernur menyikapi eskalasi ini.
Reaksi Internasional dan Peringatan Iran
Kementerian Luar Negeri Iran melalui juru bicaranya, Abbas Araghchi, mengecam serangan ini dan memperingatkan bahwa Teheran “menyimpan semua opsi di atas meja” untuk mempertahankan kedaulatan nasional. Ia menyebut serangan itu akan menimbulkan “konsekuensi abadi.”
Beberapa jam setelah pengeboman AS, Iran meluncurkan serangan balasan berupa rudal ke wilayah Israel, termasuk kota Haifa dan Tel Aviv. Sedikitnya 16 orang dilaporkan terluka, menurut pernyataan resmi pemerintah Israel.
Dunia internasional bereaksi keras. Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut aksi AS sebagai "eskalasi berbahaya" dan mendesak seluruh pihak untuk menahan diri. Uni Eropa melalui kepala kebijakan luar negerinya, Kaja Kallas, mendorong solusi diplomatik. Inggris menyatakan bahwa serangan itu merupakan “tindakan pencegahan” terhadap potensi ancaman nuklir Iran, namun tetap menyerukan pembicaraan damai.
Pidato Trump dan Pro-Kontra di Dalam Negeri
Dalam pidatonya dari Gedung Putih, Trump—didampingi Wakil Presiden JD Vance, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio—menyatakan bahwa jika Iran tidak kembali ke meja perundingan, maka "serangan di masa depan akan jauh lebih besar".
"Masih banyak target yang tersisa," ujarnya.
Pernyataan ini memicu reaksi beragam di dalam negeri. Tokoh-tokoh Partai Republik seperti Senator Ted Cruz memberikan dukungan penuh, sementara beberapa tokoh Demokrat dan independen, termasuk Bernie Sanders, mengkritik keputusan Trump yang dianggap “melangkahi kewenangan Kongres” dalam menyatakan perang.
Bagaimana ini Bisa Terjadi?
Serangan ini terjadi di tengah konflik yang memanas antara Iran dan Israel sejak 13 Juni lalu, ketika Israel meluncurkan serangan dadakan ke sejumlah fasilitas militer dan nuklir Iran. Iran membalas dengan ratusan rudal dan drone ke wilayah Israel. Konflik pun berkembang menjadi perang udara harian antara kedua negara.
AS awalnya tidak terlibat langsung. Namun, setelah pernyataan Trump dua hari sebelumnya yang memberi Iran “dua minggu” untuk kembali berunding, serangan militer justru terjadi lebih cepat.
Trump sebelumnya dikenal vokal menentang kesepakatan nuklir Iran dan menolak Iran memiliki senjata nuklir. Sementara intelijen AS pada Maret lalu menyatakan Iran belum membangun senjata nuklir, Trump menyebut penilaian itu “salah besar”.
Kemungkinan Balasan Iran
Menurut analis keamanan BBC, Iran kini menghadapi tiga opsi:
1. Menahan diri untuk menghindari serangan lebih lanjut dan membuka jalur diplomasi.
2. Membalas dengan cepat dan agresif, menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah.
3. Menunggu waktu yang tepat dan menyerang secara tidak langsung atau melalui proksi.
Iran juga kemungkinan akan menargetkan aset atau kepentingan negara-negara Teluk yang dianggap mendukung AS, yang dapat memicu perang regional yang lebih luas.
Serangan udara AS ke fasilitas nuklir Iran telah mengubah lanskap geopolitik di Timur Tengah. Dengan berbagai aktor global mulai dari AS, Iran, Israel, hingga Uni Eropa dan PBB terlibat secara langsung atau tidak langsung, situasi kini berada di ambang konflik berskala besar. Dunia menunggu: apakah ini langkah menuju perang besar atau awal dari upaya damai yang baru.

Komentar