Sekelas Staf Media RI1 Bisa Kena Loves Camming, Ini Bahaya!
ASKARA - Ketika staf media pribadi Presiden Prabowo bisa tertipu love scamming senilai 48 juta oleh akun palsu bernama Marpuah, kita patut bertanya: seberapa rapuh lapis dalam keamanan elite negara ini? Jika cinta online bisa menjebol akal sehat Ring 1, maka jangan heran bila kelak bukan hanya dompet yang digondol, tapi juga rahasia negara.
Terdengar seperti guyonan buruk dari grup WhatsApp bapak-bapak, tapi ini nyata: seorang staf media pribadi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menjadi korban penipuan love scamming. Pelakunya? Seorang perempuan bernama MARPUAH, yang berpura-pura menjadi pilot tampan di media sosial. Uang 48 juta pun melayang entah ke mana, bersamaan dengan harga diri seorang aparat negara.
Mari kita uraikan dengan tenang, namun getir.
Pertama, love scamming bukan hal baru. Sudah berjibun kasus semacam ini terjadi, dari emak-emak ditipu cowok bule palsu hingga pemuda tertipu janda muda fiktif. Tapi ketika orang dalam lingkaran inti Istana pun bisa kena jebakan cinta maya, kita patut khawatir. Ini bukan sekadar “salah pacaran”, tapi indikasi serius lemahnya literasi digital sekaligus lemahnya sekat antara personal dan profesional di tubuh kekuasaan.
Bayangkan jika pelaku bukan Marpuah dari gang sebelah, tapi mata-mata asing yang menyamar jadi figur menawan berseragam pilot F-16? Rahasia pribadi Presiden bisa ikut tergiring. Obrolan sensitif, jadwal pribadi, bahkan kebijakan strategis semua bisa diintip lewat satu pintu: lubang kelemahan bernama romansa bodong.
Kedua, masalahnya bukan cuma soal uang. Uang memang bisa dicari, tapi reputasi dan kredibilitas seorang staf media presiden, apalagi yang berkutat dengan informasi dan citra publik, tidak semudah itu dipulihkan. Ia bukan cuma sedang dibodohi, tapi juga membodohi sistem yang menempatkannya di posisi strategis. Dalam dunia spionase modern, percintaan digital adalah senjata: love trap, honeypot, digital seduction. Kalau hanya karena avatar pilot, seorang staf RI-1 bisa klepek-klepek dan transfer jutaan rupiah, maka sekuat apa sebenarnya tembok Ring 1 itu?
Ketiga, respons negara? Diam. Sepi. Ciduk tersangka pun katanya "diam-diam saja", seolah malu mengakui keteledoran sendiri. Bukannya ini justru momentum untuk memberi pelajaran publik? Bukan kah seharusnya ini dijadikan contoh betapa pentingnya keamanan digital, etika staf negara, dan kemampuan berpikir kritis dalam dunia maya?
Alih-alih edukasi, yang muncul justru rasa malu dan pengalihan isu. Dividioin katanya—bahkan ada emoji menangis di narasi resminya. Kita tidak tahu apakah ini komunikasi publik atau curhat patah hati. Ini bukan drama sinetron, ini soal integritas staf elite negara. Ketika akal sehat dikalahkan iming-iming cinta semu, maka yang dikorbankan bukan cuma dompet pribadi, tapi potensi kerawanan institusional.
Keempat, mari berbicara soal sistem rekrutmen dan pelatihan di lingkungan strategis negara. Apa tidak ada simulasi atau edukasi bagaimana mengenali penipuan daring? Apakah semua yang dekat dengan Presiden sudah melalui uji kelayakan karakter, atau hanya bermodal loyalitas dan hobi unggah konten? Cinta bisa membutakan, iya, tapi negara tidak boleh buta terhadap potensi lubang pengkhianatan yang dibungkus senyum manis di layar.
Terakhir, sinisme ini bukan tanpa dasar. Karena yang terjadi di ruang tertutup, bila tidak dibuka terang, hanya akan jadi borok yang membusuk. Hari ini staf media RI-1 yang kejebak cinta tipuan, besok siapa tahu juru runding kita tergoda agen musuh, atau staf menteri dikibuli akun berpakaian tentara.
Negara butuh kebijakan strategis menghadapi perang informasi, bukan hanya memperkuat senjata fisik, tapi juga memperkuat ketahanan mental dan literasi digital. Sebab perang hari ini tidak selalu berdarah, cukup satu klik, satu pesan manis, dan satu transfer buta, maka keamanan bisa runtuh.
Cukuplah Marpuah yang berpura-pura jadi pilot. Jangan sampai para petinggi juga berpura-pura kuat, padahal rapuh.
Karena kalau elite saja bisa kejebak cinta virtual, bagaimana rakyat percaya mereka bisa menjaga negara dari ancaman nyata?
Kita tak bisa menuntut rakyat cerdas, bila yang di atas justru terperdaya oleh DM palsu. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar