Senin, 08 Juni 2026 | 18:01
COMMUNITY

Jangan Jadi Wasit Kehidupan

Jangan Jadi Wasit Kehidupan
Ilustrasi

ASKARA - Hidup bukanlah pertandingan di lapangan sempit dengan garis-garis buatan manusia, di mana kita berdiri di tengah hanya untuk mengawasi gerak-gerik orang lain dan meniup peluit setiap kali melihat kesalahan mereka. Kita diciptakan bukan untuk jadi wasit kehidupan, tapi hamba yang sibuk memperbaiki dirinya di hadapan Allah.

Dalam hiruk pikuk kehidupan, kita sering tergoda untuk memposisikan diri layaknya wasit selalu siaga melihat kesalahan orang lain, cepat menghakimi, dan merasa punya wewenang untuk memberi penilaian. Padahal, tugas utama manusia di dunia ini bukanlah menjadi pengawas bagi sesamanya, melainkan menjadi hamba Allah yang terus berjuang memperbaiki diri dan menebar kebaikan.

Allah Subḥānahu wa Taʿālā telah memperingatkan dalam Al-Qur'an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ
"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain." (QS. Al-Ḥujurāt: 12)

Ayat ini adalah pukulan telak bagi siapa saja yang terbiasa sibuk mengawasi orang lain. Betapa banyak dari kita yang mengabaikan aib sendiri karena terlalu sibuk membahas cela orang lain. Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ حَسُنَ إِسْلَامُهُ، تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
"Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya." (HR. Tirmidzi, hasan)

Kita tidak ditugasi oleh Allah untuk mengurusi urusan orang lain secara berlebihan. Bahkan, melihat kesalahan orang lain pun bukan untuk dihakimi, melainkan agar kita bisa mengambil pelajaran dan introspeksi. Sebab, kesalahan mereka belum tentu membuat kita lebih baik, dan kebaikan mereka tidak serta-merta menjadikan kita lebih buruk.

Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk fokus pada perbaikan diri. Dalam hadis lain beliau bersabda:

طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ
"Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aib dirinya, sehingga ia tidak sempat memperhatikan aib orang lain." (HR. al-Bazzar, shahih)

Hidup ini bukan tentang menjadi hakim atas dosa orang lain, tapi tentang bagaimana kita mempertanggungjawabkan hidup kita sendiri. Di akhirat nanti, tak satu pun dari kita akan ditanya, “Berapa banyak kesalahan yang kamu temukan dari orang lain?” Tapi kita akan ditanya, “Apa yang telah kamu perbuat dengan waktu dan hidupmu?”

Kesalahan orang lain bukan untuk dijadikan bahan olok-olokan, apalagi dibicarakan di belakang mereka. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk menutup aib mereka, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
"Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)

Jika kita terus menerus berjalan mondar-mandir mencari kesalahan orang, seperti wasit di tengah lapangan, maka bisa jadi kita lupa bahwa hidup ini bukan pertandingan antara sesama manusia, melainkan perjalanan kembali kepada Allah. Lalu, bagaimana mungkin kita ingin selamat, jika sepanjang perjalanan kita hanya sibuk mencatat kesalahan orang lain?

Bukankah Allah telah memperingatkan kita:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; tidaklah orang yang sesat itu akan membahayakan kamu apabila kamu telah mendapat petunjuk." (QS. Al-Mā’idah: 105)

Mari kita berhenti jadi wasit dalam hidup orang lain. Fokuslah pada bekal amal, pada tangisan saat sujud, pada ibadah yang mungkin masih berantakan, dan pada akhlak yang masih jauh dari mulia. Karena pada akhirnya, yang kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah bukanlah kesalahan orang lain, tapi diri kita sendiri.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sibuk memperbaiki diri dan tidak menjadi budak dari tabiat menghakimi. Semoga Allah menutup aib kita, sebagaimana kita berusaha menutup aib saudara kita. Dan semoga kelak, ketika nyawa berpisah dari raga, kita pulang dengan hati yang bersih bukan hati yang penuh catatan tentang dosa orang lain.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِمَّنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ غَيْرِهِ، وَهَبْ لِي قَلْبًا سَلِيمًا وَنَفْسًا مُطْمَئِنَّةً
"Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang disibukkan dengan aib dirinya daripada aib orang lain. Anugerahkanlah kepadaku hati yang bersih dan jiwa yang tenang." (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar