Selasa, 09 Juni 2026 | 14:39
COMMUNITY

Enam Cara Membuat Suami Cuek Menjadi Lebih Romantis

Enam Cara Membuat Suami Cuek Menjadi Lebih Romantis
Ilustrasi (int)

ASKARA - Dina merasa rumah tangganya sepi seperti kamar tanpa jendela. Suaminya yang dulu hangat, kini dingin dan nyaris tak menyapa. Ia pun memulai sebuah ikhtiar sunyi, bukan untuk mengubah nasib, melainkan untuk menyentuh hati yang sempat menjauh. Tapi yang tak ia tahu, akhir kisah ini justru menyimpan kejutan yang mengguncang.

Dina menunduk di sudut ruang tamu, menatap layar ponsel yang menampilkan unggahan bertuliskan: “Tips Membuat Suami Cuek Menjadi Lebih Romantis.” Ia tak mencari, hanya terpaut pandang oleh judul itu saat menggulir linimasa. Tapi kalimat-kalimat di dalamnya seperti mengetuk hatinya sendiri.

Sudah hampir tiga tahun ia dan Bagas menikah. Tiga tahun yang awalnya penuh tawa dan obrolan kecil di malam hari. Namun perlahan, waktu mencabut kehangatan itu. Bagas berubah menjadi suami yang pendiam, cuek, dan tampak asing di balik meja kerja atau layar televisi. Seakan mereka tinggal bersama hanya karena tak ada pilihan lain.

Dina bukan tak mencoba. Tapi setiap kali ia bicara, respons Bagas hanya sebatas anggukan, senyum tipis, atau bahkan diam. Ia merasa pernikahannya mengambang di ruang hampa. Tapi malam itu, setelah membaca unggahan itu, ada yang berbeda dalam dirinya. Seakan seseorang baru saja memercikkan cahaya kecil dalam gelap pikirannya.

Tanpa menandai hari atau membuat perencanaan detil, Dina mulai bertindak. Ia mulai dengan hal yang selama ini ia anggap remeh: menyapa lebih lembut, menyiapkan teh manis dengan irisan jahe, dan tak lagi mengeluh saat Bagas sibuk dengan hobinya. Tak ada drama, tak ada tangisan. Hanya perubahan sunyi yang ia jaga rapat-rapat.

Setiap kali Bagas pulang kerja, Dina menyambutnya dengan senyum utuh. Bukan senyum basa-basi, melainkan senyum yang mengandung harapan bahwa hatinya akan sampai. Kadang, ia menyelipkan catatan kecil di saku celana kerja Bagas berisi satu kalimat sederhana: “Terima kasih sudah berjuang hari ini.”

Lambat laun, sesuatu yang ganjil terasa. Bagas mulai menghabiskan teh yang disuguhkan. Ia menyisakan sepotong ayam kesukaan Dina saat makan malam. Bahkan sesekali, Dina menemukan sandal rumahnya sudah tertata rapi di depan kamar. Kecil, tapi berarti.

Tanpa sadar, Dina menjadi lebih sabar, lebih hangat, dan lebih bijak. Ia belajar mencintai tanpa menuntut balasan cepat. Ia memberi tanpa merasa berkorban. Semua itu mengalir begitu saja. Mungkin karena cinta, mungkin karena tak ada yang bisa ia andalkan selain harap bahwa semua bisa membaik.

Satu malam, saat hujan tipis turun dan listrik padam beberapa saat, mereka duduk berdua di ruang tamu hanya diterangi cahaya lilin. Bagas yang biasanya hanya menonton atau membaca, malam itu berkata, “Aku suka lilinnya.” Dina terkejut, bukan karena pujian itu, tapi karena suara itu datang dari seseorang yang selama ini terasa bisu.

Ia pun merencanakan sebuah kejutan kecil. Bukan makan malam di restoran mahal, melainkan menyiapkan makanan kesukaan Bagas: sop buntut dan es jeruk dengan sedikit madu. Di meja makan, ia letakkan dasi baru yang ia beli diam-diam seminggu sebelumnya. Warnanya biru dongker, dengan motif garis-garis lembut. Model yang dulu pernah Bagas bilang ia suka saat mereka masih pacaran.

Bagas tidak langsung bereaksi saat melihat meja itu. Tapi sebelum makan, ia menatap Dina lama dan berkata, “Terima kasih.” Itu saja. Tapi bagi Dina, dua kata itu lebih dari cukup untuk membayar ratusan hari sunyi yang ia jalani.

Tapi hari-hari damai itu tak berlangsung lama. Bagas menjadi sering pergi ke luar kota. Katanya, tugas kantor. Ia juga semakin jarang mengangkat telepon atau membalas pesan. Tapi yang paling membuat Dina resah adalah ketika Bagas pulang lebih awal dari yang dijadwalkan, dan wajahnya tampak letih... lebih letih dari biasanya.

Pada suatu pagi yang mendung, Dina masuk ke ruang kerja Bagas untuk merapikan. Di atas meja, ada map cokelat yang tertutup rapi, dengan amplop putih bertuliskan namanya: Untuk Dina.

Perasaannya tak enak. Ia buka pelan-pelan.

Isinya adalah surat tangan yang rapi dan penuh bekas hapusan tinta.

"Dina,

Maaf aku tak pernah jadi suami yang romantis. Tapi aku mencintaimu setiap hari, dalam diam, dalam tubuh yang makin lemah.

Aku tidak bisa berbohong lebih lama. Aku menderita tumor otak sejak dua tahun lalu. Aku tahu aku seharusnya bercerita, tapi aku tak ingin mengubah cara kita hidup. Aku ingin kau tetap melihatku sebagai suamimu, bukan sebagai pasien.

Kamu membuat hari-hariku lebih kuat. Kau menyentuhku dengan caramu sendiri: lewat teh hangat, lewat senyum yang tak menuntut, lewat kejutan kecil yang membuatku merasa cukup.

Aku takut, bukan karena sakit, tapi karena tak sempat membalas semua cinta yang kau beri.

Maaf karena aku akan pergi lebih cepat. Tapi jika anak kita nanti bertanya, 'Apakah Ayah mencintai Ibu?', jawablah: 'Lebih dari yang bisa Ayah ucapkan.'

Dasi itu… kupakai di hari aku menulis surat ini. Aku bayangkan memakainya untuk presentasi, tapi ternyata aku hanya bisa memakainya untuk mengucapkan selamat tinggal.”_

Tangis Dina pecah. Dunia serasa berhenti. Semua perjuangannya, semua perubahan itu, ternyata bukan untuk mengubah suami yang cuek, tapi untuk menemani seorang lelaki yang diam-diam tengah mempersiapkan kepergian.

Di ruang kelas TK, seorang anak laki-laki memakai dasi biru dongker sambil membaca puisi untuk ibunya. Dina duduk di bangku paling depan. Air matanya menetes, tapi bibirnya tersenyum. Bagas mungkin telah pergi, tapi cintanya tertinggal dalam setiap perubahan kecil yang dulu tampak sepele.

Dina berusaha mengubah suaminya menjadi romantis, tak tahu bahwa justru sang suami sedang mencoba menyembunyikan kepergiannya agar istrinya tetap bisa mencintai tanpa takut. Yang selama ini Dina kira dingin dan acuh, ternyata hanyalah wujud dari rasa sayang yang ingin melindungi hingga akhir.

Romantis bukanlah soal bunga atau kata manis. Tapi tentang memberi waktu, menerima kekurangan, dan mencintai dalam sunyi yang paling dalam. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar