Kamis, 04 Juni 2026 | 07:56
Ruang Menulis

Cerpen: Pada Malam yang Tak Lagi Memanggil Namamu

Cerpen: Pada Malam yang Tak Lagi Memanggil Namamu
Ilustrasi

ASKARA - Hujan malam itu tak deras, hanya rintik-rintik yang menggoda genteng untuk terus berdendang. Di kamar yang remang, Lira menggenggam sebuah buku catatan kecil, usang di tepi dan bertulis nama yang tak boleh disebut di hadapan suaminya—"Ares".

Ia duduk di tepi ranjang, mengenakan daster kelabu dan menyelimutkan tubuhnya dengan kain batik peninggalan almarhumah ibu. Dari balik jendela, aroma tanah basah dan ingatan masa lalu menelusup pelan ke sela-sela kesadarannya yang mulai terkikis lelah.

Empat tahun sudah ia menjadi istri Arman. Lelaki yang dipilihkan oleh ibunya, dengan harapan cepat menikah sebelum "terlalu tua" dan "terlalu jauh berhubungan tanpa kepastian." Ia patuh, sebagaimana anak baik, sebagaimana gadis kampung yang dididik untuk menerima dan tidak banyak bertanya.

Namun, malam-malam seperti ini selalu membawanya kembali pada Ares—cinta pertama yang tak sampai. Cinta yang tak punya tempat dalam lembar keluarga, hanya hidup di sela air mata dan ingatan.

Suatu sore, sebelum pernikahannya, Lira duduk di tepi taman belakang rumah, mendengarkan Ares memainkan gitar. Suaranya lembut, tapi matanya penuh gelisah.

“Kalau kamu yakin dengan keputusan ini, aku akan pergi tanpa kata,” kata Ares pelan.

“Aku nggak yakin, Res. Tapi Ibu sudah menentukan,” balas Lira dengan suara tercekat.

Ares mengangguk. “Mungkin nanti kita bisa ketemu lagi... entah kapan, entah dalam bentuk apa.”

Dan begitulah, Ares pergi. Tanpa drama. Tanpa protes. Ia hanya meninggalkan lagu terakhir dan tatapan yang tak pernah bisa Lira lupakan.

Arman, suaminya, adalah pria baik. Ia tak pernah membentak, apalagi memukul. Setiap pulang kerja, ia membawa oleh-oleh kecil: donat, bakpao, atau hanya senyum lelah yang ia sematkan dengan sabar.

Namun, kebaikan itu seperti teh yang tawar: menenangkan, tapi tak menyisakan rasa. Hati Lira, yang sudah lama menggigil karena kehilangan, tak kunjung hangat.

Ia mencoba. Mencuci baju dengan ikhlas, menyiapkan sarapan dengan senyum, bahkan menciptakan tawa palsu di meja makan. Tapi setiap malam, ketika lampu kamar dipadamkan, ia menangis dalam diam, menatap langit-langit, dan membayangkan Ares mungkin juga menatap langit yang sama dari tempat berbeda.

Satu malam, Lira memberanikan diri menulis surat. Bukan untuk dikirim, hanya untuk meredakan sesak.

"Ares, bagaimana hidupmu? Apakah kamu bahagia? Aku masih hidup, masih bernapas, tapi rasanya seperti tumbuhan yang dibonsai. Tak tumbuh, tak mati, hanya dibiarkan cukup untuk hiasan."

Ia menyelipkan surat itu di balik lemari, bersama catatan harian lainnya. Sebuah museum sunyi tentang cinta yang tak diizinkan tumbuh.

Suatu hari, Lira membaca komentar seseorang di Facebook—seorang perempuan yang pernah dijodohkan dan kemudian belajar mencintai suaminya. Ia menulis: “Laki-laki baik saat pacaran belum tentu jadi suami yang baik. Fokuslah pada suamimu sekarang. Syukuri. Mungkin laki-laki yang kamu tangisi tak akan bisa menjaga kamu seperti suamimu sekarang.”

Lira membaca ulang kalimat itu berkali-kali. Hatinya seperti disiram air hangat. Ia tak membantah. Ia tahu, Arman bukan lelaki jahat. Bahkan mungkin, dalam skala rumah tangga, ia adalah anugerah.

Namun, seperti secangkir kopi yang dingin, ia tetap pahit—bukan karena salah siapa, tapi karena waktu yang sudah terlalu lama.

Malam itu, Lira memutuskan untuk menyibukkan diri. Ia mulai merajut, menanam bunga, bahkan bergabung dalam komunitas pengajian ibu-ibu.

Arman bahagia melihat perubahan itu. “Kamu sekarang kelihatan ceria ya,” katanya sambil mengelus kepala Lira.

Lira tersenyum. “Aku sedang mencoba.”

Ia memang mencoba. Setiap detik, setiap tarikan napas, adalah upaya untuk membunuh kenangan.

Namun tak semua kenangan bisa mati. Sebagian akan terus hidup di tempat rahasia: lipatan baju lama, aroma tanah basah, lagu yang kebetulan terdengar di angkot. Ares masih hadir di sana. Tak mengganggu, hanya menatap dari kejauhan.

Beberapa minggu kemudian, Lira menemukan sebuah kabar. Dari teman lama di kampus. Ares meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Ia tak menikah. Ia tinggal sendiri di sebuah rumah kontrakan, hanya ditemani gitar tua dan buku-buku puisi.

Lira tak bisa menangis. Tidak malam itu, tidak besoknya. Ia hanya duduk berlama-lama di kamar mandi, mendengarkan bunyi air kran menetes, dan hatinya terasa hampa. Seperti ada bagian dari dirinya yang ikut mati dan tak bisa kembali.

Sejak saat itu, ia berhenti menulis surat. Berhenti menulis nama Ares. Ia hanya menanam satu pohon kenanga di belakang rumah, diam-diam. Ia tak pernah menjelaskan alasannya kepada Arman.

Ketika bunga pertama mekar, Lira berbisik pelan di samping pohon itu, “Sekarang kamu betul-betul tidak akan ke mana-mana lagi, ya?”

Dan malam-malam berikutnya, Lira tidur lebih tenang. Bukan karena hatinya sudah pulih, tapi karena ia telah menerima: beberapa cinta memang hanya ditakdirkan untuk dikenang, bukan dimiliki. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar