Minggu, 07 Juni 2026 | 19:54
COMMUNITY

Pikir Dulu Sebelum Bertindak, Pahami Dulu Sebelum Berteriak

Pikir Dulu Sebelum Bertindak, Pahami Dulu Sebelum Berteriak
Ilustrasi

ASKARA - Zaman terus berubah tetapi tabiat manusia tetap mengulang sejarah yang sama. Lidah sering lebih tajam dari pedang dan kini dalam era digital jempol menjadi senjata baru yang kadang lebih mematikan dari kata kata yang diucapkan. Satu unggahan bisa menyebar secepat cahaya tapi bekas lukanya bisa menetap selama hidup seseorang. Maka berpikir sebelum bertindak memahami sebelum berbicara menjadi tuntunan moral yang tak bisa ditawar.

Islam sejak awal telah menanamkan nilai kehati hatian dalam berkata dan bertindak. Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kata kata adalah cermin isi hati. Ia bisa menjadi cahaya yang menuntun atau api yang membakar. Dalam konteks media sosial ucapan kita tak lagi sekadar terdengar oleh tetangga dan kerabat tapi bisa menjangkau ribuan bahkan jutaan orang. Betapa besar potensi kebaikan yang bisa tersebar namun betapa mengerikannya dosa yang bisa lahir dari sebuah status yang ditulis tanpa pikir panjang.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat." (QS. Qaf 18)

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang lisan yang bergerak tetapi juga tentang lisan digital jempol jempol kita yang mengetik pesan unggahan dan komentar. Setiap huruf yang kita ketik disaksikan oleh para malaikat. Maka jangan remehkan dosa dosa digital mengolok memfitnah menyebar kebencian dan informasi bohong.

Bahkan dalam hadis lain Rasulullah صلى الله عليه وسلم memperingatkan:

وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ، يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
"Sesungguhnya seseorang mengucapkan suatu kata yang dimurkai Allah padahal ia tidak mengira akan sejauh itu dampaknya lalu dengan kata itu ia terjerumus ke dalam neraka selama tujuh puluh tahun." (HR. Tirmidzi)

Kita hidup dalam era di mana semua orang bisa menjadi penyiar. Namun tak semua memiliki etika penyiaran. Kita merasa bebas berkomentar atas hidup orang lain menganggap semua hal layak ditanggapi dan merasa wajib memberikan pendapat. Padahal tidak semua hal membutuhkan suara kita. Terkadang diam lebih bijak daripada lantang tapi salah arah.

Jika seseorang melatih dirinya untuk menahan amarah memikirkan ulang sebelum mengetik dan mengunggah maka ia tengah menjaga dirinya dari celaka dunia dan akhirat. Kata kata kita adalah doa tapi juga bisa menjadi bencana.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ
"Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata tanpa memikirkannya terlebih dahulu maka ia tergelincir ke dalam neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa banyak orang yang hari ini menyesal karena tulisan lamanya di media sosial. Dulu dianggap lucu kini dianggap bumerang. Dulu dirasa lantang kini menjadi beban moral yang menghancurkan karier dan nama baiknya. Maka siapa pun kita sebaiknya kita membangun kebiasaan berpikir sebelum berkomentar memahami konteks sebelum bersuara dan bertanya kepada hati sebelum menuliskan sesuatu:

Apakah ini akan membuat Allah ridha?
Apakah ini bermanfaat?
Apakah ini membawa maslahat atau justru menambah fitnah?

Jika jawabannya ragu maka diam adalah pilihan yang mulia. Seperti untaian kata yang hendak kita unggah di sosial media jangan sampai kita menjadi celaka hanya karena kesalahan jempol yang lebih cepat dari akal.

Akhirnya renungkan firman Allah berikut:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ
"Dan katakanlah kepada hamba hamba Ku Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka." (QS. Al Isra 53)

Semoga setiap kata yang kita ucapkan dan tulis menjadi amal shalih bukan api neraka. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari mereka yang menjaga lisan hati dan jari jarinya dari menyakiti makhluk dan mencelakakan diri. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar