Minggu, 07 Juni 2026 | 22:00
OPINI

Ketika Para Pemimpin Dunia Berbeda Jalan Tapi Searah ke Kapitalisme

Ketika Para Pemimpin Dunia Berbeda Jalan Tapi Searah ke Kapitalisme
Ilustrasi

Oleh: Agusto Sulistio *)

ASKARA - Di atas panggung global, para pemimpin dunia tampak berbeda. Satu berpakaian militer, satu lainnya berselimut demokrasi. Ada yang datang dari dunia komedi seperti Zelensky, ada yang tumbuh dalam partai komunis seperti Xi Jinping, ada pula yang muncul dari jalur teknokrasi seperti Joko Widodo. Namun di balik keragaman latar belakang dan tindakan politik mereka, terdapat satu benang merah yang tak bisa diabaikan, yaitu kekuasaan mereka yang akhirnya tunduk pada logika kapitalisme global.

Keragaman sikap politik yang kadang ekstrim, bahkan berseberangan, dari Trump yang anti-imigran, Putin yang agresif terhadap Barat, Netanyahu yang memperpanjang konflik, hingga Jokowi yang membangun infrastruktur besar-besaran dengan hutang, semuanya mengarah pada satu pola dimana negara menjadi pelayan kepentingan pasar, dan bukan lagi pelindung kepentingan rakyat.

Hari ini, hampir di seluruh penjuru dunia, negara telah kehilangan daulatnya. Para pemimpin di berbagai negara, dari Amerika hingga Indonesia, dari Tiongkok hingga Israel, bergerak mengikuti logika ekonomi pasar. Kepentingan investasi, perdagangan bebas, dan akumulasi modal menjadi arah utama kebijakan negara.

Donald Trump, menyuarakan nasionalisme ekonomi, tapi tetap memberi ruang luas bagi korporasi besar. Putin, dengan segala retorika anti-Barat,  tetap menjaga oligarki Rusia yang mendukungnya. Xi Jinping, mengontrol rakyat dengan tangan besi, namun membuka pasar Tiongkok selebar-lebarnya untuk investasi global. Zelensky, di tengah perang, tetap menjaga relasi ekonomi dan utang luar negeri dengan Barat. Jokowi, di negeri kita ini, membanggakan pembangunan infrastruktur, tapi tak sedikit yang dibiayai utang dan mengorbankan lahan rakyat.

Kapitalisme hari ini tak lagi hadir dalam bentuk kolonialisme klasik, tapi melalui mekanisme yang tampak legal, investasi, pinjaman luar negeri, proyek infrastruktur, kerjasama multinasional. Namun, semua itu menciptakan ketergantungan yang mengikat negara pada kepentingan pasar global.

Setiap pemimpin negara yang mencoba keluar dari sistem ini akan segera ditarik kembali ke dalam oleh tekanan ekonomi internasional, sanksi politik, atau krisis keuangan. Maka, tak heran jika setiap pemimpin sekeras apapun retorikanya akhirnya akan menyesuaikan diri demi menjaga stabilitas ekonomi, menjaga relasi dengan lembaga keuangan internasional, dan mempertahankan kekuasaan domestik.

Demokrasi Tanpa Daya

Kapitalisme tak memilih sistem politik. Tapi ia bisa hidup dalam demokrasi liberal di Amerika dan Eropa, tapi juga tumbuh subur di bawah otoritarianisme di Tiongkok atau militerisme di Rusia. Di manapun, yang terpenting adalah kepastian hukum bagi investor dan stabilitas politik untuk melanggengkan aliran modal.

Dalam kondisi ini, demokrasi tak lagi berarti kontrol rakyat atas negara. Demokrasi hanya menjadi formalitas elektoral, sementara keputusan besar ditentukan oleh elite politik yang berkompromi dengan elite ekonomi. Di sisi lain, negara otoriter justru tampak efektif di mata kapital karena tidak banyak terganggu oleh protes publik.

Perang dan ketegangan kawasan yang kita saksikan hari ini, dari Rusia-Ukraina, Israel-Palestina, hingga konflik Asia Selatan, India - Palistan, bukan semata-mata karena ideologi, agama, atau sejarah. Di dalamnya terselip kepentingan ekonomi global, perebutan energi, penguasaan jalur dagang, dan dominasi pasar.

Perang menjadi alat baru kapitalisme untuk menguras sumber daya, meneguhkan dominasi, dan menjaga ritme konsumsi global. Para pemimpin hanya menjadi pion dalam permainan besar ini.

Kesimpulan

Keragaman tindakan para pemimpin dunia hari ini sesungguhnya menutupi kesamaan arah, yakni tunduknya negara pada logika kapitalisme. Sistem ini begitu kuat dan cair, sehingga bisa masuk ke semua bentuk pemerintahan demokratis maupun otoriter, dan memengaruhi semua kebijakan.

Jika rakyat di berbagai negara hari ini merasa kecewa, bingung, bahkan tak percaya lagi pada pemimpinnya, itu karena mereka mulai sadar, siapa pun presidennya, negaranya tetap berjalan ke arah yang sama mendahulukan pasar.

Maka tugas kita hari ini bukan hanya mengganti wajah pemimpin, tapi menggugat sistem yang membuat semua pemimpin seragam dalam pengkhianatan. 

*)  Pendiri The Activist Cyber, Pegiat Sosmed menyoroti, kekuasaan, kapitalisme, dan sosialisme.

Komentar