Waktu Luang Uda Haris
ASKARA - Di sebuah kota kecil yang tenang di Sumatera Barat, hiduplah seorang pria berusia 28 tahun bernama Haris lulusan program doktoral filsafat dari Universitas Pertiwi Raya, Yogyakarta. Orang-orang di kampungnya memanggilnya Uda Haris. Meski usianya masih muda, Haris telah menyelesaikan jenjang pendidikan tertinggi di bidang yang banyak orang tak benar-benar mengerti: filsafat eksistensial. Ketika pulang dari Yogyakarta ke kampung halamannya, Haris tidak membawa gelar untuk dipamerkan, melainkan joran pancing dan selembar tikar lusuh yang biasa ia bentangkan di tepian sungai.
Namanya pernah disebut dalam seminar internasional, tulisannya dimuat di jurnal-jurnal ilmiah luar negeri, dan bahkan, ia sempat ditawari untuk menjadi dosen tetap oleh Rektor Universitas Negeri Padang Selatan. Sebuah kesempatan emas yang mungkin hanya datang sekali dalam hidup.
Namun, Haris menolaknya.
“Uda, Rektor langsung yang kasih tawaran loh. Kok ditolak?” tanya Doni, sahabat lama Haris, yang kini menjadi guru di SMA tempat mereka dulu belajar.
Haris hanya tersenyum, menatap riak air Batang Kampar yang tenang di sore hari. “Karena aku tahu, Don. Aku gak mau kehilangan diriku sendiri hanya demi disebut ‘dosen.’”
Kisahnya terdengar aneh bagi sebagian orang. Bagi mayoritas, menjadi dosen adalah bentuk puncak dari prestasi intelektual. Sebuah jabatan terhormat yang tak hanya memberikan penghasilan tetap, tapi juga gengsi sosial yang tak sedikit. Tapi Haris memiliki pandangan berbeda.
“Jadi dosen sekarang bukan tentang ilmu, tapi tentang formasi administrasi. Rapat ini, laporan itu, akreditasi, dokumen-dokumen yang tak pernah selesai. Aku gak bilang itu salah. Tapi itu bukan dunia yang aku bayangkan ketika memutuskan mendalami filsafat,” ujar Haris pada suatu wawancara singkat bersama seorang jurnalis lokal.
Ia bercerita, salah satu guru besarnya di kampus, seorang profesor tua yang telah melampaui berbagai jenjang akademik dan administrasi, pernah berkata lirih di sela diskusi kuliah terakhirnya: “Dulu aku bisa habiskan soreku membaca Pramoedya sambil ngopi. Sekarang, membaca novel saja rasanya seperti mencuri waktu dari diriku sendiri.”
Kata-kata itu menghantam Haris seperti petir di tengah cerah. Ia sadar, pekerjaan dosen yang ia impikan sejak dulu ternyata bukan sekadar mengajar dan menulis. Dunia akademik di negeri ini telah berubah menjadi ruang birokrasi tak bertepi, tempat idealisme perlahan luruh oleh tumpukan laporan.
“Mengajar itu nikmat. Tapi mengajar sambil dijejali evaluasi beban kerja dosen, laporan BKD, akreditasi borang, hingga kejar tayang kenaikan jabatan, lama-lama ilmunya tinggal angka. Aku gak mau hidup dalam angka, Don,” kata Haris lagi.
Kini, setiap pagi, Haris akan berjalan kaki menuju muara kecil di belakang rumahnya. Membawa bekal sederhana ikan asin, nasi, dan segelas kopi hitam. Ia duduk berjam-jam di tepi sungai, memancing, kadang membaca, kadang diam merenung.
“Orang lihat aku pengangguran. Tapi aku malah merasa baru benar-benar hidup sekarang,” ujar Haris sambil tersenyum.
Baginya, waktu luang adalah harta karun di zaman serba cepat seperti sekarang. Ia menyebutnya “kemewahan terakhir umat manusia.” Saat banyak orang berlari kejar deadline, Haris justru berusaha memelihara kebebasan berpikirnya.
“Waktu luang itu bukan pengangguran. Itu ruang kosong di mana ide-ide bisa tumbuh. Saat mancing, aku bisa mikirin hal-hal absurd kayak, ‘Kenapa daun gak pernah jatuh semua sekaligus?’ atau ‘Kenapa manusia bisa percaya sama hal yang tak terlihat?’” jelasnya.
Ia menyadari betul bahwa keputusannya ini bukan tanpa konsekuensi. Ia bukan anak orang kaya, dan hidup dari menulis lepas atau menjadi narasumber diskusi daring tentu tidak menjanjikan kestabilan finansial.
Tapi Haris punya prinsip. Bahwa hidup bukan tentang stabilitas semata, melainkan tentang makna yang tak lekang.
“Banyak orang kerja keras setengah mati buat stabilitas, tapi di ujungnya justru lupa kenapa mereka hidup. Aku gak mau jadi salah satu dari mereka.”
Narasi hidup Haris terdengar ganjil bagi tetangga-tetangganya. Bahkan ibunya sempat menangis diam-diam, merasa anaknya telah menolak rezeki besar. Tapi Haris dengan sabar menjelaskan.
“Mak, aku bukan gak mau kerja. Aku kerja, tapi bukan dengan jas dan papan nama. Aku kerja dengan pikiran. Tugas hidupku bukan menaiki tangga sosial, tapi menjaga agar aku tetap jadi manusia yang bisa merasa,” ucap Haris pada ibunya suatu malam.
Dalam salah satu tulisannya di media lokal, Haris mengutip ayat yang begitu membekas di hatinya:
﴿وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ﴾
“Dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Az-Zariyat: 21)
Ia percaya bahwa pencarian paling sejati bukanlah di luar diri, tapi di dalam. Dan waktu luang memberinya ruang untuk masuk ke lorong-lorong batin yang selama ini terabaikan.
Haris juga sering menyitir hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:
"نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ"
"Ada dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia: kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari)
Bagi Haris, hadis ini bukan sekadar nasihat, tapi petunjuk hidup. Ia memilih menjaga nikmat itu, bahkan jika harus menolak gaji tetap dan gelar dosen.
Di penghujung sore, ketika matahari tenggelam di balik perbukitan, Haris kadang menulis catatan harian. Dalam satu catatannya tertulis:
"Aku memilih jadi manusia yang bisa duduk diam, menikmati desir angin, mendengar bisik sungai, dan berpikir bebas. Jika itu harus kubayar dengan gelar dosen yang tak kupakai, maka biarlah. Sebab hidup bukan tentang apa yang kau pakai, tapi tentang bagaimana kau merasa hidup."
Dan di sanalah Haris berada di ujung dunia yang tak pernah ramai, di mana satu-satunya yang ia kejar bukan jabatan atau popularitas, melainkan makna. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar