Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:46
COMMUNITY

Melodi yang Terputus: Antara Nostalgia, Identitas, dan Dinamika Perubahan dalam Reuni Alumni

Melodi yang Terputus: Antara Nostalgia, Identitas, dan Dinamika Perubahan dalam Reuni Alumni
Foto bersama

ASKARA - Dalam setiap organisasi, apalagi yang memiliki sejarah panjang dan jaringan alumni yang kuat, simbol-simbol seperti lambang, yel-yel, atau mars menjadi penanda emosional sekaligus identitas kolektif. Lagu mars organisasi bukan sekadar serangkaian nada dan lirik; ia adalah benang merah yang menghubungkan generasi, menyulam cerita perjuangan, semangat, dan nilai-nilai yang pernah dihidupi bersama. Maka ketika dalam sebuah reuni alumni, mars lama—yang selama puluhan tahun menjadi pembangkit semangat dan nostalgia—digantikan dengan mars baru yang asing bagi para senior, muncul kegelisahan yang tak bisa dianggap remeh.

Keluhan para alumni senior atas hilangnya lagu mars lama bukanlah semata ekspresi konservatisme atau keengganan terhadap perubahan. Lebih jauh dari itu, itu adalah kegelisahan atas hilangnya jejak memori kolektif yang mereka anggap sebagai bagian dari jati diri organisasi. Dalam banyak reuni, mars lama dinyanyikan bukan sekadar untuk formalitas atau seremonial, tetapi menjadi momen emosional yang mampu menghidupkan kembali semangat masa muda, rasa kebersamaan, dan kenangan akan nilai-nilai yang dulu diperjuangkan bersama.

Namun di sisi lain, organisasi tentu tidak bisa menghindari perubahan. Sebuah mars baru bisa jadi lahir dari kebutuhan untuk menyegarkan semangat, menyesuaikan dengan perkembangan zaman, atau menampung aspirasi generasi baru yang ingin memberikan identitas khas versi mereka sendiri. Ini adalah dinamika alamiah dalam organisasi yang terus bertumbuh.

Masalahnya muncul ketika perubahan dilakukan secara sepihak, tanpa proses komunikasi dan transisi yang inklusif. Para senior tidak dilibatkan, tidak diberikan ruang untuk memahami makna dari lagu baru tersebut, dan akhirnya merasa terputus dari rumah yang dulu mereka bangun bersama. Alih-alih menyambungkan generasi, perubahan itu justru menghadirkan jurang. Reuni yang seharusnya menjadi momen kebersamaan lintas zaman, berubah menjadi ruang keterasingan.

Mengapa Mars Lama Penting bagi Alumni?

Mars lama memiliki posisi unik dalam memori kolektif. Ia adalah "lagu kebangsaan" mini dalam konteks organisasi, membekas dalam pengalaman batin banyak anggota. Dalam psikologi sosial, kenangan kolektif semacam ini memperkuat identitas kelompok, memperteguh rasa memiliki, dan menciptakan rasa kontinuitas sejarah. Lagu itu bisa jadi disusun oleh para pendiri atau angkatan awal, menjadi saksi semangat perjuangan awal organisasi ketika masih belum mapan. Menyanyikannya di setiap kegiatan atau latihan menjadi ritual yang mengikat hati.

Mars lama juga menjadi sarana pewarisan nilai. Dalam liriknya terkandung semangat pengabdian, idealisme, dan karakter khas organisasi. Hilangnya lagu itu bukan sekadar kehilangan nada, tetapi hilangnya simbol dari nilai-nilai yang diwariskan. Maka wajar bila alumni senior merasa kecewa, bahkan merasa seperti "tamu asing" di rumah yang dulu mereka dirikan.

Perlukah Menolak Mars Baru?

Namun, apakah keberadaan mars baru sepenuhnya salah? Tentu tidak. Setiap generasi punya hak untuk mengekspresikan semangat zamannya. Mars baru bisa menjadi representasi dari konteks kekinian yang berbeda. Bahasa, simbol, dan narasi perjuangan mungkin sudah berubah. Organisasi yang hidup adalah organisasi yang mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri.

Yang menjadi soal adalah ketika perubahan ini menghapus yang lama tanpa dialog dan akomodasi. Perubahan yang sehat seharusnya tidak bersifat revolusioner yang memutus tali sejarah, melainkan evolusioner yang menyambungnya. Dalam hal ini, mars baru idealnya menjadi pelengkap, bukan pengganti total. Keduanya bisa hidup berdampingan dalam ruang organisasi, sebagai simbol dinamika dan kesinambungan.

Jembatan Antargenerasi: Bukan Perang Simbol, Tapi Dialog Makna

Yang diperlukan dalam kasus ini adalah kesediaan untuk membuka ruang dialog antargenerasi. Para senior perlu menyadari bahwa organisasi tidak bisa hidup hanya dengan romantisme masa lalu. Sebaliknya, generasi muda perlu memahami bahwa perubahan yang sehat tidak lahir dari pemutusan sejarah, tetapi dari pengembangan akar yang kuat. Keduanya harus bertemu dalam semangat penghargaan dan keberlanjutan.

Dalam praktiknya, reuni bisa menjadi panggung dialog kreatif. Misalnya, dengan menyanyikan mars lama dan mars baru secara bergantian. Para alumni bisa diminta menceritakan makna mars lama, sejarah pembuatannya, dan nilai-nilai yang dikandungnya. Di sisi lain, generasi baru juga bisa menjelaskan semangat di balik mars baru mereka. Bila perlu, sebuah simposium mini tentang identitas organisasi bisa menjadi bagian dari reuni.

Organisasi juga bisa memikirkan bentuk dokumentasi yang melestarikan mars lama, misalnya dengan membuat video musik yang dibintangi lintas angkatan, mengarsipkan sejarah penciptaan lagu, atau menjadikannya sebagai bagian dari kurikulum kaderisasi. Dengan begitu, mars lama tetap hidup dalam ingatan, dan mars baru berkembang sebagai simbol semangat zaman.

Akhir Kata: Belajar dari Musik, Belajar dari Harmoni

Dalam musik, harmoni tidak lahir dari satu nada tunggal. Ia hadir dari perpaduan nada-nada berbeda yang saling mengisi. Begitu pula organisasi. Identitasnya dibangun dari kontribusi berbagai generasi, dengan karakter, semangat, dan ekspresi zamannya masing-masing. Mars lama dan mars baru bukan dua kutub yang harus saling meniadakan, tapi dua nada yang bila disusun dengan cermat, akan melahirkan simfoni yang indah dan menggugah.

Maka, kepada para alumni yang merasa kehilangan, mari kita artikulasikan kegelisahan itu bukan sebagai penolakan, melainkan sebagai panggilan untuk menyambung sejarah. Dan kepada generasi baru, mari kita rayakan semangat inovasi dengan tetap menghormati akar sejarah. Karena hanya dengan begitu, organisasi akan tumbuh bukan sebagai ruang yang kehilangan arah, tapi sebagai rumah besar yang ramah bagi siapa saja yang pernah menjadi bagian darinya. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar