Selasa, 09 Juni 2026 | 12:16
Ruang Menulis

Attitude Adalah Berlian: Kemuliaan Tak Tampak di Kata-Kata, Tapi di Laku dan Lisan yang Menjaga

Attitude Adalah Berlian: Kemuliaan Tak Tampak di Kata-Kata, Tapi di Laku dan Lisan yang Menjaga
Ilustrasi (int)

ASKARA - Di zaman ini, kecepatan berpikir dan kepintaran berbicara sering dijadikan ukuran utama dalam menilai seseorang. Tapi Islam mengajarkan bahwa bukan itu yang membuat seseorang mulia. Kemuliaan justru bersumber dari akhlak, dari sikap, dari cara kita memperlakukan sesama. Attitude adalah berlian. Ia tak perlu besar. Tapi cukup bersinar dari cara kita memuliakan orang lain, bahkan dalam perkara yang paling sederhana.

Rasulullah SAW, manusia paling mulia, bukan hanya karena wahyu yang turun kepadanya. Tapi karena beliau adalah teladan dalam hal akhlak. Allah SWT sendiri menegaskan:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung."
(QS. Al-Qalam: 4)

Jika kita ingin menjadi manusia yang bercahaya, yang dihadirkan Allah sebagai rahmat bagi sekelilingnya, maka tempat pertama yang harus kita rawat adalah hati. Karena dari hati lahirlah attitude. Dan dari attitude, dunia bisa menjadi lebih damai atau justru lebih luka.

Menjaga sikap bukan soal basa-basi. Bukan tentang citra. Tapi soal adab yang muncul dari kesadaran: bahwa setiap manusia yang kita temui sedang membawa beban hidup yang kita tak tahu. Maka bersikap baik adalah bentuk empati yang paling manusiawi.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا
"Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan ketika berbeda pendapat, Islam tidak mengajarkan untuk menjatuhkan atau menyakiti. Tapi tetap dengan cara yang santun. Sebab kemuliaan seseorang bukan terletak pada seberapa keras ia bersuara, tapi seberapa pandai ia menahan lidah agar tak menyakiti orang lain.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Satu kata bisa menjadi pelipur lara. Tapi satu kata juga bisa menjadi penyebab luka yang tak sembuh bertahun-tahun. Maka attitude bukan hanya perkara sopan atau tidak. Tapi tentang takwa. Tentang rasa tanggung jawab kita di hadapan Allah atas setiap lisan yang keluar.

Allah SWT mengingatkan:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tiada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."
(QS. Qaf: 18)

Berlian itu tak perlu berkilau dalam pamer. Ia cukup tenang, bersih, dan tidak melukai. Begitu juga attitude. Orang yang benar-benar baik tidak sibuk menunjukkan kebaikannya. Tapi kebaikannya terasa lewat keteduhan kehadirannya, kelembutan ucapannya, dan ketulusan sikapnya.

Sikap yang baik juga bukan hanya kepada mereka yang setara atau lebih tinggi. Justru paling tampak ketika kita berhadapan dengan yang lemah, yang tak berdaya, yang berbeda dari kita. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لاَ يَرْحَمِ النَّاسَ لاَ يَرْحَمْهُ اللَّهُ
"Barang siapa tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika kata tak melukai, ketika sikap kita membuat orang lain merasa aman, maka sejatinya kita sedang menanamkan kemuliaan dalam diam. Dan Allah Maha Tahu siapa yang menjaga lisannya karena takut akan hisab, dan siapa yang sembarangan karena merasa hebat.

Menjadi cerdas adalah kelebihan. Tapi menjadi bijak dalam bersikap adalah kemuliaan. Dan kemuliaan itu tak terletak pada banyaknya kata, tapi sedikitnya kata yang menyakiti.

Attitude adalah berlian. Tak perlu besar. Tak harus berbinar. Cukup memantulkan cahaya kebaikan dari hati yang penuh rahmat. Maka hidup kita akan jadi cahaya, bukan hanya bagi diri sendiri, tapi bagi dunia yang sedang haus akan kelembutan dan kasih sayang. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar