Tak Amanah dalam Profesi, Pertanda Iman Pergi?
Oleh: Dwi Taufan Hidayat
ASKARA - Dalam sunyi ruang kerja, di balik meja-meja yang tampak sibuk, tersimpan satu hal yang tak bisa dilihat oleh absensi atau target capaian: kejujuran hati dalam menjaga amanah. Profesi bukan sekadar rutinitas menghasilkan upah, melainkan titipan tanggung jawab yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sayangnya, di zaman ini, banyak yang menganggap enteng amanah, menyelipkannya di balik dalih efisiensi, target, atau sekadar karena "semua orang juga begitu."
Padahal, amanah adalah inti keimanan. Ia bukan sekadar etika kerja, tapi nyawa yang menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Allah menekankan pentingnya amanah dalam Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini turun dalam konteks keadilan, namun maknanya meluas dalam seluruh aspek kehidupan: dari pengelolaan negara, pemegang jabatan publik, guru di ruang kelas, dokter di ruang periksa, hingga pegawai yang bekerja dari balik layar. Tak ada yang bebas dari perintah ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ
Tunaikanlah amanat kepada orang yang mempercayakan amanat kepadamu, dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang berkhianat padamu. (HR. Abu Dawud no. 3535)
Bahkan dalam suasana ketidakadilan, Islam menuntut kita tetap berpegang pada nilai luhur: membalas kepercayaan, bukan pengkhianatan. Inilah ajaran agung yang membedakan mukmin sejati dengan manusia kebanyakan.
Namun zaman mengubah persepsi. Kinerja sering kali hanya dinilai dari laporan yang rapi, bukan kejujuran dalam mencatatnya. Ketika seorang petugas memanipulasi data, ketika auditor menutup mata, ketika atasan menyuruh untuk ‘main aman’ meski salah—di situlah amanah dihianati.
Rasulullah bersabda:
لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ
Kalian benar-benar akan menunaikan hak-hak kepada pemiliknya pada hari kiamat, sampai pun (hak) kambing yang tidak bertanduk akan dibalas dari kambing yang bertanduk. (HR. Muslim no. 2582)
Tak ada yang luput. Amanah sekecil apapun akan ditagih. Bahkan hewan yang tak bisa bersuara pun akan diadili, apalagi manusia yang diberi akal, ilmu, dan pangkat.
Celakanya, orang yang mengkhianati amanah memiliki tanda munafik, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkari, dan jika diberi amanah, ia khianati. (HR. Bukhari no. 33, Muslim no. 59)
Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini tak serta merta memvonis seseorang sebagai munafik dalam akidah, namun menunjukkan betapa buruknya perilaku ini. Siapa pun yang terus-menerus menyepelekan amanah, meski mengaku beriman, ia sedang berjalan di tepi jurang kemunafikan.
Amanah bukan hanya soal tidak mencuri atau tidak korupsi. Amanah adalah ketika kita menunaikan tugas dengan benar meski tak diawasi. Ketika guru mengajar dengan sepenuh hati, bukan hanya menggugurkan jam. Ketika wartawan menulis dengan objektif, bukan menjual opini demi cuan. Ketika pengusaha tidak menipu ukuran dan timbangan. Ketika pemimpin benar-benar memikirkan rakyat, bukan hanya kelompoknya.
Inilah hakikat iman yang hidup: kejujuran yang diam-diam memperbaiki dunia, satu tindakan pada satu waktu, dalam senyap dan sunyi.
Maka tanyakanlah pada diri sendiri: apakah kita masih menjaga amanah profesi kita? Apakah kita bisa dengan tenang menyebut nama Allah saat bekerja? Bila tak bisa, mungkin bukan hanya amanah yang hilang, tapi iman pun mulai pergi.
اللهم اجعلنا من عبادك الأمناء الصادقين، ووفقنا لحمل الأمانة كما أمرت، ونجنا من خزي الخيانة في الدنيا والآخرة. آمين.

Komentar