Kamis, 04 Juni 2026 | 10:41
COMMUNITY

Mengapa Nabi Muhammad Diutus di Jazirah Arab, Bukan Romawi atau Persia?

Mengapa Nabi Muhammad Diutus di Jazirah Arab, Bukan Romawi atau Persia?
Ilustrasi

ASKARA - Pernahkah kita bertanya dalam keheningan jiwa: mengapa Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di tengah bangsa Arab, bukan di tengah Romawi yang kala itu lebih maju peradabannya, atau Persia yang secara militer dan budaya lebih kuat? Mengapa bukan di Syam yang lebih subur, atau Mesir yang lebih kaya? Mengapa justru diutus di Makkah—sebuah wilayah tandus di Jazirah Arab yang secara ekonomi lemah, sosial rusak, dan moral porak-poranda?

Jawaban dari pertanyaan ini bukanlah semata-mata soal geografi atau politik, melainkan menyangkut hikmah besar dalam tatanan Ilahi yang tidak bisa dijangkau oleh nalar dangkal. Sebab Allah Subhānahu wa Ta’ālā tidak menurunkan wahyu dan memilih rasul sembarangan. Dia memilih tempat, zaman, dan pribadi yang paling tepat menurut ilmu-Nya Yang Mahaluas.

Allah berfirman:
اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ
“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.”
(QS. Al-An’ām: 124)

Jazirah Arab bukanlah tempat yang secara lahiriah ideal untuk misi besar kenabian terakhir. Tidak ada kemegahan istana, tidak ada tatanan birokrasi maju, tidak ada kampus ilmu pengetahuan sebagaimana di Alexandria atau Antiokhia. Tetapi justru dari situlah letak keindahan dan kemurnian Islam berawal. Bangsa Arab waktu itu belum tercemar secara struktural oleh imperialisme keagamaan seperti Romawi Kristen atau ritualisme Zoroaster Persia. Meski mereka terjerumus dalam jahiliyah, tapi hati mereka belum terikat oleh sistem yang mapan, sehingga lebih siap untuk menerima cahaya tauhid yang revolusioner.

Makkah, yang tandus dan keras, melahirkan manusia-manusia berjiwa kuat, berani, dan tahan uji. Masyarakatnya masih hidup dalam kesukuan, tanpa raja absolut yang memonopoli kebenaran. Merekalah yang akan membawa risalah Islam ke seluruh penjuru dunia. Ketika keimanan tumbuh di tanah gersang, ia akan menjalar ke seluruh arah dengan kekuatan moral yang tak tertandingi. Sebab dari keterbatasan itu, Allah menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kekuasaan duniawi, melainkan dari tauhid dan ketakwaan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ، فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ، إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ
"Sesungguhnya Allah memandang penduduk bumi, lalu membenci mereka, baik Arab maupun non-Arab, kecuali sisa-sisa dari Ahli Kitab."
(HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa pada saat itu, seluruh dunia berada dalam kegelapan spiritual. Maka Allah memilih Jazirah Arab, bukan karena keunggulan materialnya, tapi karena di sanalah akan lahir perubahan besar dari kondisi yang paling nol. Islam datang bukan untuk memperindah peradaban lama, tapi untuk merombaknya dari akar. Maka tanah yang kering pun lebih cocok untuk ditanami bibit baru.

Dan Makkah, meski tandus, memiliki nilai spiritual yang agung. Di sanalah rumah pertama untuk menyembah Allah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Ismail:
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia ialah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”
(QS. Ali ‘Imran: 96)

Makkah bukan hanya pusat geografis, tetapi juga titik awal spiritual umat manusia. Dari tanah yang tak diperhitungkan inilah, Islam menyebar melampaui Persia dan Romawi. Dan ini menjadi bukti bahwa Allah ingin menunjukkan keadilan dan kekuasaan-Nya: bahwa risalah paling agung tidak membutuhkan fondasi materiil untuk bangkit, tapi cukup dengan iman yang tulus dan jiwa-jiwa yang siap berjuang.

Maka, jika kita merenung hari ini, ketika umat Islam berada dalam keterpurukan dan berbagai krisis, ingatlah bahwa dakwah Islam juga bermula dari kondisi yang bahkan lebih buruk. Tapi karena keimanan, akhlak, dan keikhlasan, mereka mampu menaklukkan dua imperium besar dunia.

Sebagaimana firman Allah:
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
“Dan katakanlah: 'Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap'. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.”
(QS. Al-Isrā’: 81)

Inilah pelajaran besar dari sejarah kerasulan: Allah memilih yang tak terduga, untuk mengajarkan bahwa cahaya tidak butuh pelita duniawi untuk bersinar. Islam datang bukan dari istana, tapi dari gua Hira. Dan gua itu masih terus memanggil hati-hati yang ingin bangkit, dari keterasingan menuju peradaban. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar