Gatotkaca vs Hercules: Goro-Goro di Alun-Alun Negeri Konoha
ASKARA - Kala matahari condong ke barat dan angin kemarau menyapu daun jati yang gugur, geger terjadi di negeri Konoha. Dua ksatria dari alam berbeda terlibat goro-goro dahsyat: Raden Gatotkaca, putra Bimasena dari kawah Candradimuka, dan Ki Hercules, pendekar kawula dari rimba beton Tanah Abang.
Perseteruan bermula saat Ki Hercules menggelar sayembara di alun-alun:
"Sapa kang wani ngaku satria rakyat, kudu bisa mbangun tanpa maklumat."
Raden Gatotkaca, yang sedang bertapa di puncak Gunung TikTok sembari menyusun Kitab Kepemimpinan Ratu Adil, merasa tersindir.
"Wahai Ki Hercules, sanadyan awakmu kuat bagai banteng, nanging sakti tanpa welas asih iku culika!"
(Walau engkau kuat, tanpa kasih, kekuatanmu sia-sia)
Ki Hercules tak tinggal diam. Dengan suara menggelegar ia menjawab:
"Aku iki dudu ksatria kraton, aku iki kawulo! Rakyat ora butuh dalang, tapi kancane jagong!"
(Aku bukan bangsawan istana, aku rakyat! Rakyat tak butuh dalang, tapi teman duduk bersama!)
Pertarungan batin berlanjut di medan Kurusetra, bukan dengan senjata, tapi dengan jurus-jurus baru: Tembang Sindiran, Jampi Media Sosial, dan Mantra Siaran Langsung.
Gatotkaca meluncur dengan Aji "Cahaya Purnawirawan", sedang Hercules memutar Aji "Otot Rakyat Tidak Tidur".
Rakyat Konoha menonton dengan penuh hikmat, sembari menikmati wedang jahe dan cemilan gorengan.
"Ini bukan perang, ini sandiwara agung!" seru Ki Semar dari balik bayangan.
Setelah malam turun dan bintang menyebar, Semar memanggil keduanya ke Bale Katresnan. Dihidangkan urap, tempe bacem, dan sambel terasi. Gatotkaca dan Hercules duduk bersila, terdiam.
"Wahai para satria, rakyat ora butuh jagoan, rakyat butuh panutan," ucap Semar, pelan tapi menggetarkan.
Akhirnya, kedua tokoh sepakat mengakhiri goro-goro dan membentuk Paguyuban Goro-Goro Nusantara, dengan semboyan
"Sakti tanpa angkara, kuwat tanpa jumawa, memayu hayuning bawana."
"Ing politik, ora ana lawan sejati, sing ana mung rebutan kursi saking dalang."

Komentar