Jumat, 19 Juni 2026 | 04:13
Humor

Menunggu Satria Piningit Turun Gunung

Menunggu Satria Piningit Turun Gunung
Ilustrasi Pandawa lawan Kurawa (Dok Askara)

ASKARA - Di sebuah warung kopi yang lebih ramai daripada sidang DPR, Mbah Karso sedang memberi wejangan kepada para pemuda yang sedang ribut soal siapa sebenarnya Satria Piningit.

"Mbah, kapan Satria Piningit muncul?" tanya Udin sambil menyeruput kopi.

Mbah Karso tersenyum sambil mengelus jenggot yang lebih putih daripada beras premium.

"Nak, Satria Piningit itu baru muncul kalau para Pandawa sudah turun gunung."

"Kalau sekarang bagaimana, Mbah?" tanya Paijo.

"Sekarang yang ribut masih sesama Kurawa."

Semua terdiam.

"Lho, kalau sesama Kurawa berdebat terus?" tanya Udin.

"Ya sama saja seperti dua tukang parkir berebut lahan, padahal yang punya tanah sedang tidur siang."

"Berarti belum waktunya, Mbah?"

"Belum. Wong yang muncul masih Kurawa-Kurawa juga. Revolusi kalau isinya Kurawa baru menggantikan Kurawa lama, itu seperti ganti ban bocor dengan ban bekas tambalan. Jalannya tetap oleng."

Paijo mengangguk.

"Kalau Pandawanya sudah ada, Mbah?"

"Nah, itu pertanyaannya. Apa sudah ada yang jujur seperti Yudhistira? Cerdas seperti Arjuna? Kuat seperti Bima? Setia seperti Nakula dan Sadewa?"

Semua saling pandang.

Udin menjawab pelan, "Kayaknya belum, Mbah."

"Makanya Satria Piningit masih malu keluar."

"Lho kok malu?"

"Iya. Dia lihat calon Pandawa masih sibuk bikin konten, perang komentar, dan debat di grup WhatsApp. Mau turun gunung juga bingung, teman seperjuangannya belum kumpul."

"Tapi kata orang, Satria Piningit punya sifat lima Pandawa sekaligus."

"Betul. Makanya susah dicari. Orang yang jujur sedikit, yang sabar sedikit, yang tidak haus jabatan lebih sedikit lagi. Alam sedang menyeleksi."

"Menyeleksi siapa, Mbah?"

"Menyeleksi generasi yang sudah terkontaminasi karakter Kurawa."

"Lalu generasi berikutnya?"

"Bisa saja muncul. Tapi jangan buru-buru. Kalau bibit Pandawa baru satu, jangan dipaksa jadi Satria Piningit. Sama seperti baru beli bibit mangga seminggu lalu, jangan langsung ditanya kapan berbuah."

Semua tertawa.

Udin kemudian bertanya lagi.

"Kalau Mbah sendiri yakin Satria Piningit itu ada?"

Mbah Karso tersenyum.

"Ada."

"Di mana, Mbah?"

"Dari dulu orang sibuk mencari Satria Piningit di gunung, di keraton, di gua, bahkan di media sosial. Jangan-jangan dia sedang duduk di warung kopi sebelah, tapi karena pakai sandal jepit dan naik motor butut, orang-orang mengira dia cuma tukang antar galon."

Warung pun pecah oleh gelak tawa.

Dan seperti biasa, setelah tertawa panjang, semua kembali membahas siapa yang bayar kopi sore itu.

Sayangnya, tidak ada satu pun yang berjiwa Yudhistira. Semua mendadak berkarakter Kurawa.

 

Komentar