Senin, 08 Juni 2026 | 04:33
OPINI

Musuh Kita Bukan Sesama, Tapi Mereka yang Mengadu Domba

Musuh Kita Bukan Sesama, Tapi Mereka yang Mengadu Domba
Bangun Bung (Dok Askara)

ASKARA - Kalau hari ini kita saling mencaci, saling menuding, bahkan saling memusuhi hanya karena beda pilihan politik, beda ormas, beda suku, beda kiblat—itu bukan karena kita bodoh. Tapi karena kita sudah terlalu sering dijadikan alat oleh mereka yang berkepentingan.

Musuh kita bukan tetangga yang beda pendapat. Musuh kita bukan kawan lama yang beda pilihan. Musuh kita adalah mereka yang membuat kita saling benci—supaya mereka bisa terus duduk nyaman di kursi kekuasaan, tanpa diganggu pertanyaan-pertanyaan kritis.

Mereka biarkan kita sibuk bertarung di permukaan, supaya mereka bebas mengacak-acak fondasi negara. Mereka lempar isu murahan setiap minggu, agar kita sibuk debat kusir sambil lupa memperjuangkan hidup yang lebih layak.

Inilah strategi klasik para penguasa culas: divide et impera—pecah belah dan kuasai.

Dan celakanya, kita masih memainkannya. Kita masih mudah tersulut. Masih mudah dikotak-kotakkan. Masih rela jadi pion-pion dalam papan catur mereka yang tak pernah peduli pada nasib kita.

Lihat hari ini: saudara sebangsa saling lapor, saling blokir, saling doxing, saling jegal. Semua demi membela tokoh yang bahkan mungkin tak tahu kita ada. Tokoh yang, saat kamera mati dan sorotan hilang, duduk satu meja dengan lawan politiknya, sambil tertawa karena dagelan ini berhasil dimainkan.

Sadarkah kita bahwa yang paling rugi dari semua ini adalah rakyat biasa? Yang tiap hari makin berat hidupnya. Yang makin sulit sekolahin anak. Yang makin mahal beli beras. Yang makin takut bicara karena dinding pun punya telinga.

Kita butuh kesadaran kolektif bahwa sesama rakyat bukanlah lawan. Bahwa kita harus berhenti jadi suporter fanatik dalam sistem yang tak pernah benar-benar adil sejak awal.

Yang perlu dilawan adalah sistem yang busuk. Yang perlu dibongkar adalah jaringan kekuasaan yang hanya menguntungkan segelintir orang. Dan itu tak akan pernah bisa dilakukan jika kita terus saling serang satu sama lain.

Jadi kalau kau masih sibuk memaki kawanmu karena beda pilihan, sementara mereka yang kau bela justru saling berpelukan di belakang layar—pertanyaannya: siapa sebenarnya yang sedang tertipu?

 

 

Komentar