Senin, 13 Juli 2026 | 02:23
COMMUNITY

Viral Aksi Guru Gunting Seragam Siswa di Sragen, Ini Klarifikasi dan Penjelasan Lengkapnya

Viral Aksi Guru Gunting Seragam Siswa di Sragen, Ini Klarifikasi dan Penjelasan Lengkapnya
Aksi Guru Gunting Seragam Siswa di Sragen

ASKARA – Jagat media sosial digemparkan dengan beredarnya video seorang guru yang terlihat menggunting seragam seorang siswa di SMP PGRI 5 Sukodono, Sragen. Video tersebut memicu pro dan kontra di tengah masyarakat. Guru dalam video itu akhirnya buka suara, menyampaikan alasan di balik tindakannya, sekaligus mengklarifikasi tujuan unggahan yang kini viral.


Guru dalam video tersebut diketahui bernama Anggrek Anggrayani (30), yang mengajar mata pelajaran Seni Budaya dan PPKn serta menjabat sebagai pembina kesiswaan di SMP PGRI 5 Sukodono, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Dalam pernyataannya kepada wartawan di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sragen pada Selasa (22/4/2025), Anggrek membenarkan bahwa dirinya adalah sosok dalam video yang kini viral tersebut.

Menurut Anggrek, kejadian pengguntingan seragam itu berlangsung pada 17 Februari 2025, tepat seusai pelaksanaan upacara bendera di sekolah. Saat itu, seragam beberapa siswa, termasuk seorang siswa berinisial IKS, tampak dicorat-coret. Orang tua siswa bersangkutan, kata Anggrek, justru meminta agar coretan tersebut dihilangkan dengan cara menggunting bagian yang kotor dari seragam anaknya. Tindakan itu kemudian didokumentasikan sebagai bukti kepada pihak orang tua.

“Saya upload Sabtu 19 April 2025 pagi hari, saya upload di TikTok. Dan saya diperintah bapak komite untuk dihapus, kemudian saya hapus jam 7 (malam) habis Isya. Langsung viral sampai hari ini,” ujar Anggrek saat diwawancarai.


Anggrek menyampaikan bahwa niat awalnya bukan untuk mempermalukan siswa atau mencari sensasi di media sosial. Ia menyebut video itu awalnya hanyalah dokumentasi pribadi yang kemudian diunggah untuk tujuan edukatif—khususnya bagi siswa lain agar tidak melakukan hal serupa, seperti mencoret seragam sekolah.

“Sebenarnya kami mengunggah itu untuk memberi tahu anak-anak saya saja. Karena yang diorek-orek (dicoret-coret bajunya) bukan IKS saja, ada beberapa anak juga dan saat ini masih dalam penanganan guru BK,” jelas Anggrek.
"Ini lho kalau ada gambar (di seragam) saya potong gitu, awalnya seperti itu," tambahnya.

Namun, ia juga mengakui bahwa seharusnya video tersebut tidak diunggah ke media sosial. Penyesalan itu disampaikan dengan jujur, seraya menegaskan bahwa unggahan tersebut dilakukan atas permintaan orang tua IKS semata-mata sebagai bukti tindakan telah dilakukan oleh pihak sekolah.

“Seharusnya itu tidak saya unggah, tetapi itu saya dokumentasi atas permintaan orang tua anak IKS. Sebagai bukti bahwa itu sudah saya potong karena yang menyuruh memotong itu ibu siswa,” tegas Anggrek.

Reaksi dan Tindak Lanjut:

Pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen saat ini tengah menindaklanjuti kasus tersebut, termasuk mendalami maksud dan dampak dari pengunggahan video tersebut ke publik. Sementara itu, pihak sekolah telah berupaya menyelesaikan persoalan ini secara internal dengan melibatkan guru BK dan wali murid.

Kasus ini menjadi sorotan karena menyangkut etika pendidik dalam bermedia sosial serta pentingnya komunikasi yang proporsional antara pihak sekolah dan orang tua dalam menyikapi kenakalan remaja. Banyak warganet yang menanggapi secara emosional tanpa mengetahui konteks lengkap dari kejadian tersebut.


Meski telah memberikan klarifikasi, kasus ini menyisakan pelajaran penting: bahwa di era digital, setiap unggahan guru maupun lembaga pendidikan bisa berdampak luas dan cepat viral. Profesionalitas, empati, dan kebijakan dalam mengambil keputusan menjadi sorotan utama, khususnya saat berhadapan dengan generasi muda yang tengah mencari jati diri. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar