Mengangkasa Sejak Ribuan Tahun: Kaghati Kolope, Layang-Layang Tertua Dunia dari Muna
ASKARA - Siapa sangka, layang-layang tertua di dunia bukan berasal dari Tiongkok sebagaimana diyakini banyak orang, melainkan dari sebuah daerah di Indonesia: Muna, Sulawesi Tenggara. Kaghati Kolope, nama layang-layang tradisional itu, tercatat telah menghiasi langit Nusantara sejak ribuan tahun lalu, menjadikannya bagian penting dari warisan budaya dunia yang tak ternilai.
Layang-layang Kaghati Kolope bukan sekadar permainan rakyat. Ia lahir dari tangan-tangan terampil masyarakat Suku Muna yang menggantungkan hidup pada ladang dan hutan. Dengan bahan utama dari daun kolope—sejenis daun ubi hutan—serta kerangka dari kulit bambu dan pengikat dari serat alami, Kaghati Kolope merupakan perwujudan harmonisasi antara manusia dan alam.
Yang membuatnya mencengangkan, desain aerodinamisnya begitu canggih untuk ukuran peradaban purba. Bahkan, para peneliti dan budayawan menyebutkan bahwa Kaghati Kolope telah diterbangkan sejak sekitar 4.000 tahun yang lalu, jauh lebih dulu dibandingkan sejarah layang-layang di Tiongkok yang baru tercatat sekitar abad ke-5 SM. Meski ada klaim usianya mencapai 9.000 tahun berdasarkan interpretasi lukisan gua prasejarah, temuan tersebut masih menanti validasi arkeologis lebih lanjut.
Kaghati Kolope mulanya diterbangkan bukan untuk hiburan semata. Dalam kehidupan agraris Suku Muna, layang-layang ini menemani para petani saat berjaga malam di ladang—terutama pada musim tanam dan panen. Bentuknya dipercaya mampu menangkal roh jahat dan mendatangkan keberuntungan. Tak jarang, ia juga digunakan sebagai medium komunikasi simbolik dengan leluhur, sekaligus sebagai bagian dari ritual adat dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan semesta.
Hingga kini, tradisi menerbangkan Kaghati Kolope masih lestari. Dalam berbagai upacara adat dan festival budaya di Sulawesi Tenggara, masyarakat Muna tetap mengangkatnya ke langit sebagai penghormatan pada leluhur dan jati diri budaya yang agung.
Kehadiran Kaghati Kolope membuktikan bahwa peradaban Indonesia kuno menyimpan warisan teknologi dan seni yang tinggi. Layang-layang ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga simbol abadi kreativitas lokal, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan alam. Sebuah bukti bahwa langit Indonesia pernah — dan masih — menjadi kanvas dari sejarah yang membumbung jauh ke masa silam. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar