Aku Memilihmu, Meski Dunia Mengingkari
ASKARA - Ruang kelas itu hening. Hanya suara kipas angin tua di sudut langit-langit yang bergemuruh, seperti detak jantung orang-orang yang menyimpan beban. Mahasiswa-mahasiswa itu duduk diam di kursi masing-masing, memandang ke depan dengan rasa ingin tahu yang tertahan. Di depan mereka berdiri seorang pria paruh baya, mengenakan jas abu-abu yang sudah lusuh di ujung lengannya. Profesor Arif, dosen psikologi keluarga, hari itu membawa sesuatu yang tidak biasa.
Bukan teori. Bukan jurnal.
Tapi pertanyaan.
“Siapa orang yang paling dekat dengan kalian dalam hidup?” tanyanya tiba-tiba.
Mereka saling pandang.
“Saya ingin kalian memilih satu perwakilan. Siapa yang bersedia maju ke depan?” lanjutnya.
Seorang mahasiswa bernama Raka mengangkat tangan, lalu melangkah maju. Ia tampak gugup, tapi tak ingin mundur.
“Baik, Raka,” kata Profesor Arif sambil menyerahkan spidol. “Tuliskan di papan tulis: sepuluh nama orang yang paling dekat denganmu. Tak perlu urut. Tulis saja.”
Raka mulai menulis. Pelan-pelan, tapi pasti. Nama-nama itu pun terpampang di papan: Ibu, Ayah, Istri, Anak, Sahabat, Dosen pembimbing, Teman kerja, Tetangga, Adik, dan Kakak.
Usai menulis, Raka menoleh.
Profesor Arif tersenyum tipis. “Sekarang, silakan coret tiga nama yang paling bisa kamu lepaskan.”
Raka tertegun. “Maksudnya?”
“Bayangkan hidupmu, dan kamu harus melepaskan tiga dari mereka. Mana yang bisa kamu ikhlaskan untuk pergi lebih dulu?”
Beberapa mahasiswa di bangku tampak tidak nyaman. Tapi Raka perlahan mencoret nama tetangga, dosen pembimbing, dan teman kerja.
“Bagus,” kata sang profesor. “Sekarang coret dua lagi.”
Kening Raka mulai berkerut. Ia menarik napas dan mencoret kakak dan adiknya.
Kini tinggal lima nama: ibu, ayah, istri, anak, dan sahabat.
“Coret dua lagi,” ucap sang profesor.
Raka menggigit bibirnya. Perlahan, ia mencoret nama sahabat dan ayah.
Kini hanya tinggal tiga: ibu, istri, dan anak.
Kelas menjadi senyap. Seseorang menelan ludah dengan keras, terdengar seperti palu jatuh di ruang kosong.
“Coret satu lagi,” ujar Profesor Arif, suaranya nyaris seperti bisikan.
Raka menatap tiga nama itu sejenak, lalu matanya mulai berkaca-kaca. Ia mencoret nama ibu. Lambat. Sangat lambat. Seolah tangannya berat, seperti mengangkat batu nisan.
“Dan sekarang...,” Profesor Arif berkata lagi, “coret satu yang tersisa. Hanya boleh satu yang tinggal bersamamu selamanya.”
Raka menunduk. Bahunya bergetar. Matanya mengalirkan air yang tak lagi bisa ia tahan.
Lalu dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia mencoret nama anak.
Dan hanya istri yang tersisa.
Beberapa mahasiswa menunduk, ikut menyeka mata. Mereka tidak hanya menyaksikan permainan psikologi. Mereka seperti diajak masuk ke dalam hati seseorang yang sedang retak, lalu diminta memilih serpihan mana yang harus dibuang.
Profesor Arif menatap papan tulis itu lama, sebelum akhirnya berkata, “Raka, kenapa kamu memilih istrimu?”
Raka menggenggam spidol seakan itu satu-satunya yang bisa menopang tubuhnya agar tak runtuh.
“Ibu saya... dia membesarkan saya dengan cinta. Tapi saya tahu, waktunya akan datang. Suatu hari beliau akan pergi... karena itulah siklus hidup.”
Ia terdiam sebentar, suaranya pecah. “Anak saya... dia bagian dari saya. Tapi suatu hari, dia akan tumbuh, dan menemukan dunianya sendiri. Lalu ia juga akan pergi.”
Tangis Raka jatuh makin deras.
“Satu-satunya yang saya pilih dengan penuh kesadaran, yang menemani saya dari titik nol, dari gelap, dari gagal, dari kosong... adalah istri saya.”
Kelas sunyi. Bahkan Profesor Arif pun tampak tercekat.
Raka melanjutkan, “Saya yang memilihnya. Bukan Tuhan. Saya yang datang ke rumahnya, yang melamar, yang berjanji akan menjaga. Dia mungkin bukan segalanya bagi dunia, tapi dia dunia bagi saya.”
Beberapa minggu setelah kuliah itu, Raka tak lagi datang ke kampus.
Berita itu sampai ke telinga Profesor Arif dari seorang teman Raka. Katanya, istri Raka meninggal dunia karena komplikasi pascamelahirkan. Bayinya selamat, tapi istrinya tidak sempat membuka mata melihat anak mereka menangis untuk pertama kalinya.
Profesor Arif terdiam saat mendengarnya. Dadanya sesak. Ia masih mengingat air mata Raka di kelas itu—yang kini terasa seperti firasat.
Tiga bulan kemudian.
Seorang pria berdiri di pemakaman, memandangi batu nisan yang bersahaja, dihiasi kelopak mawar putih yang mulai layu. Di pelukannya, seorang bayi mungil tertidur pulas. Wajahnya mirip ibunya. Tenang, teduh, penuh ketabahan yang belum mengerti dunia.
Raka duduk di samping makam, membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar angin.
“Maaf... aku pernah memilihmu. Tapi ternyata Tuhan lebih dulu mengambilmu. Aku cuma ingin kau tahu... aku akan terus memilihmu, meski kini hanya bisa melihatmu dalam mimpi.”
Ia menunduk, memeluk bayinya erat.
Langit di atas makam gelap, mendung seperti menyimpan duka yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Hujan mulai turun. Tapi Raka tetap di sana.
Menemani seseorang yang dulu pernah ia pilih, dan akan terus ia pilih, meski dunia mengingkarinya. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar