Batal Pahalanya Akibat Balas Dendam
ASKARA - Dalam kehidupan ini, kita tidak akan pernah luput dari perlakuan buruk orang lain—dicaci, dihina, dibully, difitnah, dizhalimi secara harta, jiwa, maupun kehormatan. Namun, bagaimana seharusnya kita merespons semua itu? Apakah membalas dengan balasan yang sama? Ataukah menahan diri dan menjadikan itu sebagai tabungan pahala di sisi Allah?
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin (3/2227):
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَشْتَدُّ فَرَحُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَا لَهُ قِبَلَ النَّاسِ مِنَ الْحُقُوقِ فِي الْمَالِ وَالنَّفْسِ وَالْعِرْضِ، فَالْعَاقِلُ يَعُدُّ هَذَا ذُخْرًا لِيَوْمِ الْفَقْرِ وَالْفَاقَةِ، وَلَا يُبْطِلُهُ بِالِانْتِقَامِ الَّذِي لَا يُجْدِي عَلَيْهِ شَيْئًا.
Artinya:
"Sesungguhnya seorang hamba akan sangat bergembira pada hari kiamat karena ia memiliki hak atas manusia lain terkait harta, jiwa, dan kehormatannya. Maka orang yang berakal akan menjadikan itu sebagai simpanan (pahala) untuk hari kemiskinan dan kefakiran (hari kiamat), dan tidak akan membatalkannya dengan balas dendam yang tidak memberi manfaat apa-apa baginya."
Inilah pandangan orang-orang cerdas: mereka tidak membalas hinaan dengan hinaan, tidak membalas kezaliman dengan kezaliman, karena mereka tahu setiap kesabaran menyimpan pahala yang besar di akhirat. Mereka sadar bahwa Hari Kiamat adalah hari ketika semua keluhuran kesabaran akan diganti oleh Allah dengan balasan yang tidak bisa dibayangkan.
ALLAH MEMERINTAHKAN UNTUK MENAHAN AMARAH DAN MEMAAFKAN
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(QS. Ali ‘Imran: 134)
Artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Betapa agungnya kedudukan orang yang bisa menahan diri. Bukan karena lemah, tapi karena sadar bahwa ada balasan yang lebih besar dari Allah. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللَّهُ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ
(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi)
Artinya:
“Barang siapa yang menahan amarah padahal ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada Hari Kiamat, lalu Allah akan memberinya pilihan dari bidadari surga sesuai kehendaknya.”
Balas dendam boleh jadi melegakan sejenak. Tapi ia merampas satu hal yang jauh lebih berharga: pahala dari mereka yang telah menzalimimu.
INGAT! PAHALAMU BISA BERPINDAH TANGAN
Di hari kiamat kelak, banyak orang akan terkejut karena kehilangan pahala shalat, puasa, sedekah, dan amal-amal lain. Mengapa? Karena ternyata ia banyak menzhalimi orang lain dan tidak dimaafkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ ؟
“Apakah kalian tahu siapakah orang yang bangkrut?”
Para sahabat menjawab: “Orang yang tidak memiliki dirham dan tidak punya harta.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ، قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ، فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ.
(HR. Muslim)
Artinya:
“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun dia juga datang dengan membawa dosa karena pernah mencaci orang lain, memfitnah orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, dan memukul orang lain. Maka diberikanlah kepada orang-orang itu sebagian dari pahala kebaikannya. Jika pahalanya telah habis sebelum semua dosanya dilunasi, maka dosa orang-orang yang pernah dia zhalimi diberikan kepadanya, lalu ia pun dilemparkan ke dalam neraka.”
JANGAN BATALKAN PAHALA DENGAN EMOSI SESAT
Jadi jika hari ini kamu dicibir, dihina, dibully, diremehkan—sabar. Tahan. Biarkan Allah yang membalas. Jangan batalkan simpanan pahalamu hanya karena baper. Jangan tukar kedamaian akhirat dengan kepuasan sesaat.
Kamu tidak rugi saat dizhalimi. Justru dia yang menzhalimi yang akan merugi—kecuali jika kamu membalasnya, maka semua simpanan pahala itu pun hangus. Padahal Allah telah menjanjikan kemuliaan yang agung bagi mereka yang sabar dan memaafkan.
وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
(QS. Asy-Syura: 43)
Artinya:“Sungguh, barang siapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang mulia (yang dianjurkan).” (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar