Minggu, 07 Juni 2026 | 22:00
OPINI

Siluet Oligarki vs Suara Rakyat bersama Pemimpin Negeri

Siluet Oligarki vs Suara Rakyat bersama Pemimpin Negeri
Oligarki vs suara rakyat

Oleh: Shendy Marwan

ASKARA - Mendengar istilah 'demokrasi', mayoritas dari kita disugesti dengan sistem yang memberikan kekuasaan kepada rakyat. Namun, di balik itu ada oligarki yang berdiri merenggut kekuasaan rakyat.

Oligarki dianggap siluet yang memadamkan cahaya seorang pemimpin negeri untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Belum lama ini, kasus pagar laut di PIK 2, disebut oleh beberapa pihak, adalah ambisi dari oligarki untuk memenuhi keinginannya. Hingga kini pengungkapan kasus tersebut sulit diungkap.

Hal itu menguatkan dugaan, karena sistem oligarki bekerja, bukan sebagai kekuatan yang terlihat, melainkan sebagai kekuatan yang menentukan arah dari balik layar.

Jika mengacu pada kesetaraan, yang menjadi fondasi demokrasi, maka yang dipertontonkan saat ini adalah ilusi demokrasi.

Seseorang atau dengan suatu kelompok dengan harta berlimpah tentu memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan rakyat biasa yang hanya memiliki suara.

Mengingat karya Jeffry Winters, berjudul Oligarki, menjelaskan bahwa demokrasi modern tidak menghilangkan kekuatan oligarki, tetapi menyembunyikannya di balik institusi-institusi yang tampak adil.

Fenomena ini menjadi komedi yang menyedihkan di negara kita tercinta, di mana rakyat percaya mereka memiliki hak dan perlakuan hukum yang sama, tetapi pada kenyataannya, rakyat kecil adalah boneka pelengkap yang mengisi alur cerita agar nampak sungguhan.

Sedangkan oligarki menjadi penulis skenario untuk mendikte aturan, seolah menjadi penonton yang netral. Supaya drama yang diciptakan menjadi cerita yang sempurna ketika sampai ke rakyat.

 

 

Komentar