Ketika Musibah Menimpa Orang Lain: Antara Syukur, Empati, dan Ujian Hati
ASKARA - Ketika kita mendengar kabar seseorang tertimpa musibah berat—seperti kecelakaan yang menyebabkan pendarahan otak hingga harus menjalani operasi dengan biaya ratusan juta—sering kali ada perasaan kompleks yang muncul di dalam hati. Kita merasa iba, prihatin, dan mungkin juga muncul rasa syukur dalam hati bahwa musibah tersebut tidak menimpa kita atau keluarga kita.
Namun, di sinilah kita perlu menata hati agar tetap selaras dengan akhlak yang diajarkan Islam. Bersyukur karena terhindar dari musibah boleh, tetapi tidak dengan membandingkan diri dengan penderitaan orang lain. Sebab, jika rasa syukur itu mengandung sedikit saja perasaan lega atas kesulitan orang lain, tanpa sadar kita telah melukai makna empati yang diajarkan dalam Islam.
1. Jangan Berbahagia di Atas Penderitaan Orang Lain
Rasulullah ﷺ dengan tegas memperingatkan kita agar tidak bergembira atas musibah yang menimpa saudara kita.
لَا تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لِأَخِيكَ فَيَرْحَمَهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ
"Janganlah engkau menampakkan kegembiraan atas musibah saudaramu, karena bisa jadi Allah akan merahmatinya dan menimpakan musibah kepadamu." (HR. Tirmidzi No. 2506, Hasan menurut Al-Albani)
Hadis ini adalah peringatan lembut sekaligus tegas: kita tak boleh membiarkan hati kita merasa nyaman atau bahkan lega karena musibah itu menimpa orang lain, bukan kita. Sebab, kehidupan ini berputar. Hari ini kita melihat orang lain yang diuji, esok mungkin kita yang harus menghadapi takdir yang serupa.
Betapa banyak orang yang dulunya sehat, kaya, dan bahagia, tetapi dalam sekejap hidup mereka berubah karena satu musibah. Dan betapa banyak orang yang pernah terpuruk dalam cobaan berat, lalu Allah angkat derajat mereka dengan rahmat-Nya.
Maka, jika hari ini kita melihat saudara kita sedang diuji, bukan perasaan lega yang harus muncul di hati, melainkan empati dan doa.
2. Mendoakan dan Menguatkan Mereka yang Diuji
Allah mengajarkan kita sebuah doa yang seharusnya selalu terucap di lisan saat mendengar kabar musibah:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
"Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali." (QS. Al-Baqarah: 156)
Kalimat ini bukan sekadar ungkapan takziah, tetapi pengingat bahwa semua yang kita miliki—termasuk kesehatan dan keselamatan—adalah milik Allah. Jika saat ini kita tidak tertimpa musibah, itu semata karena rahmat dan perlindungan-Nya.
Lebih dari itu, kita diajarkan untuk mendoakan mereka yang sedang dalam kesulitan, bukan hanya merasa kasihan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ دَعَا لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ
"Barang siapa mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, malaikat akan berkata: 'Dan untukmu juga seperti itu.'" (HR. Muslim No. 2733)
Maka, alih-alih hanya bersyukur bahwa kita tidak mengalami musibah serupa, lebih baik kita berdoa:
اللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَاهُمْ وَارْحَمْ ضُعْفَهُمْ وَيَسِّرْ أَمْرَهُمْ
"Ya Allah, sembuhkanlah mereka yang sakit, sayangilah kelemahan mereka, dan mudahkanlah urusan mereka."
Barangkali, doa tulus kita di saat mereka tak berdaya akan menjadi sebab Allah melapangkan jalan mereka, sebagaimana kelak di suatu masa, kita pun berharap ada yang mendoakan kita saat tertimpa kesulitan.
3. Bersyukur Tanpa Membandingkan Diri dengan Penderitaan Orang Lain
Bersyukur atas keselamatan diri dan keluarga adalah hal yang sangat dianjurkan. Allah berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu; tetapi jika kamu ingkar, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'" (QS. Ibrahim: 7)
Namun, syukur yang benar adalah yang berfokus pada nikmat Allah, bukan membandingkan diri dengan orang lain yang sedang menderita.
Misalnya, kita bisa mengucapkan:
"Alhamdulillah ya Allah, Engkau masih memberikan kesehatan kepada keluargaku. Semoga kami bisa lebih bersyukur dan membantu mereka yang sedang kesulitan."
Bukan:
"Syukurlah keluarga kita selamat, tidak seperti mereka yang harus menanggung musibah besar itu."
Perbedaan keduanya mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya sangat besar bagi kebeningan hati kita.
4. Mengambil Pelajaran dari Musibah Orang Lain
Setiap musibah yang terjadi di sekitar kita adalah pelajaran bagi kita semua. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَعْتَبِرْ بِغَيْرِهِ اعْتَبَرَ اللَّهُ بِهِ
"Barang siapa tidak mengambil pelajaran dari orang lain, maka Allah akan memberi pelajaran kepadanya (dengan cara menimpakan musibah kepadanya sendiri).”
Jika kita melihat seseorang tertimpa kecelakaan, alih-alih hanya merasa beruntung, kita bisa merenungkan hikmahnya:
Apakah kita sudah berhati-hati dalam berkendara?
Apakah kita sudah mempersiapkan dana darurat untuk situasi darurat seperti ini?
Apakah kita sudah mendekatkan diri kepada Allah, sehingga jika suatu hari kita diuji, kita siap menghadapinya dengan sabar dan tawakal?
Kesimpulan: Merawat Empati, Menghargai Nikmat, dan Menjadikan Musibah Sebagai Pengingat
Kita boleh bersyukur atas keselamatan diri, tetapi jangan pernah merasa lebih baik atau lebih beruntung dibanding orang yang sedang diuji. Sebab, di balik ujian itu, Allah mungkin sedang mengangkat derajat mereka, sementara kita diuji dengan nikmat: apakah kita akan semakin bersyukur dan peduli, atau justru menjadi sombong dan lalai?
Hari ini kita mendoakan mereka yang sedang dalam kesulitan, esok mungkin mereka yang akan mendoakan kita. Sebab, kehidupan ini berputar, dan kita semua saling membutuhkan dalam doa dan kasih sayang sesama.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ وَالْمُتَرَاحِمِينَ
"Ya Allah, jangan jadikan kami orang-orang yang lalai, jadikanlah kami hamba yang bersyukur dan penuh kasih sayang terhadap sesama."
Aamiin, ya Rabbal ‘alamin.
Dwi Taufan Hidayat

Komentar