Tokoh Muda NTT: Gubernur NTT Perlu Pertimbangkan Energi Non-Geothermal
ASKARA – Gubernur NTT Emanuel Melkiades Lakalena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma diminta mempertimbangkan serius penolakan Uskup Keuskupan Agung Ende, Mgr. Dr. Paul Budi Kleden, terhadap rencana investasi tambang geothermal di wilayah Keuskupan Agung Ende (KAE).
Tokoh muda NTT, Marianus Wilhelmus Lawe, menegaskan bahwa Pulau Flores memiliki banyak potensi energi non-geothermal yang dapat dikembangkan tanpa merusak lingkungan.
“Pulau Flores punya banyak potensi non-geothermal sebagai solusi mendapatkan listrik, seperti energi matahari, arus dan gelombang laut, serta energi angin,” ujar Marianus dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (16/3).
Ia mendorong Gubernur Lakalena dan Wakil Gubernur Asadoma untuk memanfaatkan relasi mereka di berbagai kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta PT PLN, guna mengembangkan sumber energi alternatif ini.
Menurutnya, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa investasi yang tidak memperhatikan ekologi dapat merugikan masyarakat. “Gereja lokal di NTT, khususnya Flores dan Lembata, sudah mengalami trauma akibat investasi yang mengganggu tanah masyarakat,” kata Marianus, lulusan Master Marine dari Universitas Trisakti.
Ia mencontohkan rencana tambang di Puakoyong, Lembata, yang pernah menuai kontroversi karena berpotensi menyerobot lahan pertanian warga.
Marianus menilai, investasi geothermal cenderung rakus air dan berisiko terhadap keseimbangan ekosistem. Ia mengusulkan agar pemerintah fokus pada sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.
“Di Eropa dan Taiwan, wind farm sedang dikembangkan secara masif. Flores yang berada di zona ring of fire perlu dijaga agar keseimbangan ekosistemnya tetap terpelihara untuk generasi mendatang,” pungkas Marianus, yang kini bekerja di Thailand.

Komentar