Tadarus Al-Qur’an: Dari Lafal Menuju Pemahaman dan Pengamalan
ASKARA - Tadarus Al-Qur’an sering kali dipahami secara sempit sebagai sekadar membaca lafalnya saja. Padahal, hakikat tadarus jauh lebih dalam dari sekadar melafalkan huruf-hurufnya. Ia mencakup pemahaman, penghayatan, hingga pengamalan isi kandungannya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا۟ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mengambil pelajaran."
(QS. Shad: 29)
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk direnungkan dan diambil hikmahnya. Oleh karena itu, setelah mampu membaca dengan baik, seorang Muslim hendaknya berusaha memahami maknanya melalui terjemahan dan tafsir.
Lebih dari itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
"Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya."
(HR. Bukhari No. 5027)
Hadis ini menunjukkan bahwa belajar Al-Qur’an tidak berhenti pada bacaan, tetapi berlanjut hingga pemahaman dan penyebaran ilmu kepada orang lain.
Tadarus juga dilakukan secara berjamaah, bukan sendirian. Dengan cara ini, pemahaman menjadi lebih luas, kesalahan dalam membaca bisa dikoreksi, dan semangat untuk mendalami Al-Qur’an semakin meningkat.
Allah Ta'ala berfirman:
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan."
(QS. Al-Ma'idah: 2)
Maka, marilah kita tingkatkan kualitas tadarus kita: dari sekadar membaca, menuju pemahaman, lalu pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Al-Qur’an menjadi cahaya yang menerangi jalan kita menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar